CNN Indonesia
Selasa, 14 Apr 2026 05:30 WIB
Ilustrasi. Meskipun saat ini AI sedang merajai teknologi dan dunia kerja, tapi ada skill manusia yang tetap tak akan tergantikan AI. (iStockphoto/skynesher)
Jakarta, CNN Indonesia --
Persaingan kerja yang semakin ketat membuat pencari kerja dituntut memiliki lebih dari sekadar ijazah. Kini, kompetitor bukan hanya sesama manusia, tetapi juga teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, pekerjaan manusia diyakini tidak akan sepenuhnya tergantikan.
CEO Ryan Roslansky bersama Aneesh Raman mengungkap ada lima keterampilan utama yang membuat manusia tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan AI.
Melalui diskusi dengan berbagai ahli, mulai dari ilmuwan saraf, psikolog organisasi, hingga ekonom perilaku, keduanya menyimpulkan bahwa justru kemampuan khas manusia menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang di dunia kerja modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut skill atau kemampuan manusia yang tak akan tergantikan oleh AI, melansir Wolipop:
1. Curiosity (rasa penasaran)
AI mampu menghasilkan berbagai kemungkinan berdasarkan pola data. Namun, manusialah yang menentukan mana yang penting untuk dieksplorasi lebih jauh.
Rasa ingin tahu mendorong seseorang untuk terus belajar, termasuk memahami bagaimana AI bekerja dan bagaimana teknologi ini akan memengaruhi pekerjaan. Lebih dari itu, curiosity membantu manusia memahami dirinya sendiri dan menemukan keunikan yang tak tergantikan.
Sejarah mencatat, rasa penasaran menjadi awal dari berbagai penemuan besar. Jonas Salk, misalnya, mengembangkan vaksin polio dari pertanyaan sederhana, misalnya apakah virus yang telah dimatikan bisa melatih tubuh melawan virus hidup? Begitu pula Wilbur Wright dan Orville Wright yang mempertanyakan kemampuan manusia untuk terbang seperti burung.
2. Courage (keberanian)
AI dapat membantu menghitung risiko, tetapi hanya manusia yang bisa memutuskan risiko mana yang layak diambil.
Keberanian adalah kemampuan untuk bertindak meski informasi belum lengkap, serta tetap melangkah meski hasil belum pasti. Di dunia kerja, keberanian bisa berarti mengambil keputusan sulit, menyampaikan kebenaran kepada klien, atau mencoba pendekatan baru yang belum pernah diuji.
Sikap ini mengubah keraguan menjadi aksi, sesuatu yang tidak dimiliki oleh mesin.
3. Creativity (kreativitas)
AI unggul dalam mengolah dan menggabungkan informasi yang sudah ada. Namun, kreativitas manusia melampaui itu, menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
Kreativitas bukan hanya milik profesi seni. Dalam berbagai bidang, kemampuan ini memungkinkan seseorang menemukan solusi unik dan pendekatan berbeda terhadap masalah.
Misalnya, seorang guru yang mengubah ruang kelas menjadi suasana masa lampau agar pelajaran sejarah terasa lebih hidup. Di sinilah manusia unggul, membayangkan hal yang belum pernah ada.
4. Compassion (rasa kasih sayang)
AI dapat mensimulasikan empati, tetapi tidak benar-benar merasakannya. Sebaliknya, manusia mampu menghadirkan kepedulian yang autentik.
Rasa kasih sayang membuat hubungan di tempat kerja menjadi lebih dari sekadar transaksi. Ia membangun kepercayaan, memperkuat tim, dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Contohnya, seorang manajer yang memahami penurunan performa karyawan bukan sebagai masalah kinerja semata, melainkan karena kondisi pribadi, lalu memberikan fleksibilitas kerja sebagai solusi.
5. Communication (komunikasi)
AI bisa membantu menyusun kalimat atau menerjemahkan bahasa. Namun, hanya manusia yang mampu memberi makna di balik kata-kata.
Komunikasi menentukan apakah sebuah ide akan berkembang atau justru terhenti. Percakapan tatap muka, pertukaran gagasan, hingga kemampuan membaca emosi lawan bicara adalah hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi.
Komunikasi yang efektif berakar pada satu hal yakni, kemampuan untuk benar-benar memahami manusia lain.
Baca selengkapnya di sini.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

















































