7 Tenaga Medis Dianggap Lalai dalam Kematian Maradona

5 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak tujuh tenaga medis terancam hukuman terkait tuduhan kelalaian yang menyebabkan kematian legenda sepak bola dunia, Diego Maradona. Jaksa menyebut ada kelalaian yang dilakukan oleh mereka.

Tujuh tenaga medis kembali duduk di kursi terdakwa dalam sidang ulang atas kematian Maradona yang digelar di San Isidro, Argentina, Selasa (14/4) waktu setempat.

Maradona meninggal dunia pada 25 November 2020 akibat gagal jantung saat menjalani perawatan di rumahnya, di wilayah Buenos Aires. Kematiannya terjadi dua minggu setelah ia menjalani operasi otak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketujuh terdakwa mencakup psikiater Agustina Cosachov, ahli bedah saraf Leopoldo Luque, dan psikolog Carlos Diaz, dokter Nancy Edith Forlini, perawat Ricardo Almiron, kepala perawat Mariano Ariel Perroni, dan dokter Pedro Pablo Di Spagna.

Terdakwa telah membantah tuduhan yang dilayangkan pihak Maradona. Namun jika terbukti bersalah, mereka terancam hukuman penjara antara 8 hingga 25 tahun.

Sidang ini merupakan pengulangan setelah persidangan pertama yang berlangsung sebelumnya dinyatakan tidak sah.

Persidangan pertama dibatalkan setelah hakim Julieta Makintach didiskualifikasi karena diduga bersikap bias dan mengizinkan pihak-pihak yang dekat dengannya merekam jalannya sidang untuk sebuah dokumenter.

Sidang ulang ini akan dipimpin oleh tiga hakim baru, yakni Alberto Gaig, Alberto Ortolani, dan Pablo Rolon. Mereka dijadwalkan mendengarkan kesaksian dari sekitar 100 saksi.

Pengacara keluarga Maradona, Mario Baudry, mewakili putra bungsu Maradona, Diego Fernando, menegaskan harapannya agar persidangan ini berjalan lebih baik.

"Kami berharap pengadilan akan memahami bobot dari tindak pidana yang sedang disidangkan, dan apa yang Maradona representasikan bagi rakyat Argentina dan dunia sepak bola," ujar Baudry.

"Saya berharap para hakim berlaku tegas terhadap Luque, Cosachov, dan Diaz, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Mereka gagal menjalankan kewajiban mereka sebagai tenaga medis profesional," tambahnya.

Di sisi lain, kubu terdakwa membantah tuduhan kelalaian tersebut. Pengacara Cosachov, Vadim Mischanchuk, menyatakan bahwa pihaknya hadir untuk membuktikan tidak adanya tanggung jawab pidana yang dibebankan pada kliennya.

"Tidak ada rencana kriminal yang disengaja untuk membunuh Maradona," kata Mischanchuk.

Kemudian, pengacara Luque, Julio Rivas, mengungkapkan bahwa kliennya sempat meminta agar perkaranya diadili oleh juri (jury trial), bukan hakim, akibat hilangnya kepercayaan usai skandal persidangan pertama. Meski permintaan itu ditolak, Rivas menyatakan tetap percaya pada ketiga hakim baru.

"Saya yakin mereka adalah tiga hakim yang tidak memihak," ujarnya.

Fokus persidangan akan diarahkan pada rentang waktu 11 hingga 25 November 2020, guna merekonstruksi 14 hari perawatan Maradona di rumah pasca operasi sebelum akhirnya ia meninggal dunia.

Selain para ahli dan dokter spesialis, deretan saksi juga mencakup anggota keluarga Maradona. Di antaranya ialah putri-putrinya Dalma, Giannina, dan Jana, serta mantan pasangannya Veronica Ojeda.

[Gambas:Video CNN]

(afr/jal)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |