Afgan Ajak 4.000 Penonton Menyusuri 18 Tahun Perjalanan Musiknya Lewat Konser Retrospektif

22 hours ago 13

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, perjalanan musik selama hampir dua dekade dirayakan dengan cara yang begitu istimewa lewat Afgan retrospektif: The Concert. Dilansir dari siaran pers Seven Star Production, konser yang digelar di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC) pada 18 Juli 2026 ini sukses memukau lebih dari 4.000 penonton melalui konsep Grand Symphonic Universe yang memadukan musik, visual artistik, dan alur cerita dalam satu pertunjukan.

Konser ini menjadi selebrasi paling personal bagi Afgan selama 18 tahun berkarya di industri musik Indonesia. Sebanyak 30 lagu pilihan dibawakan dengan aransemen megah bersama Erwin Gutawa Orchestra, menghadirkan pengalaman yang berbeda dari konser-konser Afgan sebelumnya. Tidak hanya menyuguhkan penampilan musikal, setiap lagu juga menjadi bagian dari cerita yang menggambarkan perjalanan hidup dan karier sang penyanyi.

Menurut Dolly Sartika, CEO & Founder Seven Star Production, konser ini merupakan hasil dari hampir satu tahun proses kreatif dan persiapan yang melibatkan banyak talenta terbaik Indonesia. Antusiasme ribuan penonton menjadi apresiasi terbesar bagi seluruh tim sekaligus motivasi untuk terus menghadirkan pertunjukan musik berkualitas di masa mendatang.

Empat Babak yang Membawa Penonton Menelusuri Perjalanan Afgan

Salah satu hal yang paling menarik perhatian dalam konser ini adalah konsep Grand Symphonic Universe yang dirancang dengan sangat detail. Begitu memasuki area konser, penonton langsung disambut panggung bergaya scaffolding yang memperlihatkan struktur konstruksi secara terbuka, sebuah elemen yang jarang ditampilkan dalam pertunjukan musik. Konsep tersebut menjadi simbol perjalanan Afgan yang ingin tampil lebih jujur, terbuka, dan apa adanya di hadapan para penggemarnya setelah hampir dua dekade berkarya. Visual reflektif, tata cahaya, hingga proyeksi artistik yang dipadukan dengan alur cerita membuat setiap penampilan terasa hidup dan memberikan pengalaman menonton yang begitu imersif.

Pertunjukan kemudian dibagi menjadi empat babak yang menggambarkan berbagai fase perjalanan musikal Afgan, mulai dari awal karier hingga proses pendewasaan sebagai seorang musisi. Konser dibuka lewat lagu Misteri Dunia bersama The Gandarians, dilanjutkan dengan kemunculan megah Erwin Gutawa Orchestra yang menghadirkan nuansa orkestra penuh kemegahan. Afgan juga menunjukkan sisi musikal yang lebih eksploratif melalui lagu-lagu dari album berbahasa Inggris seperti "Shallow Water" dan "Say I'm Sorry". Memasuki babak terakhir, suasana berubah semakin hangat dan penuh energi ketika ribuan penonton ikut bernyanyi bersama lewat lagu Dia, Dia, Dia dan Kacamata. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian terjadi saat musik mendadak berhenti, lalu Afgan bersama seluruh personel Erwin Gutawa Orchestra serempak melepas kacamata mereka. Aksi sederhana tersebut langsung disambut tepuk tangan dan sorakan meriah dari ribuan penonton, sekaligus menjadi salah satu momen paling berkesan sepanjang konser.

Kolaborasi Spesial dan Momen Emosional yang Sulit Dilupakan

Bagi Afgan, konser ini bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi juga perayaan atas perjalanan yang telah ia lalui bersama para penggemarnya. Ia mengungkapkan bahwa setiap babak dalam konser mencerminkan berbagai fase kehidupan, mulai dari kebahagiaan, tantangan, hingga proses pendewasaan yang telah membentuk dirinya sebagai seorang musisi. Afgan berharap para penonton pulang bukan hanya membawa kenangan tentang konser, tetapi juga pengalaman yang lebih bermakna.

Suasana semakin hangat dengan kehadiran para kolaborator lintas generasi. Afgan tampil berduet bersama Kris Dayanti membawakan medley lagu-lagu populer dalam balutan aransemen orkestra. Mahalini juga turut membawakan lagu "Sadis" yang memukau, sementara Petra Sihombing menghadirkan suasana syahdu lewat lagu "Peluk" yang diiringi gitar akustik dan paduan suara Paragita. Ketika ribuan penonton menyalakan lampu ponsel, Plenary Hall berubah menjadi lautan cahaya yang menjadi salah satu momen paling emosional sepanjang konser.

Tak hanya itu, Afgan juga menghadirkan format mashup yang belum pernah ditampilkan pada konser-konser sebelumnya, dipadukan dengan pengalaman audio sinematik dan tata visual yang artistik. Seluruh elemen tersebut menjadikan Afgan retrospektif: The Concert sebagai penutup manis perjalanan 18 tahun karier Afgan sekaligus bukti bahwa musik mampu menghadirkan kenangan yang akan terus hidup di hati para penikmatnya.

Penulis: Revania Immanuela

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Revania Immanuela
  • Adinda Tri Wardhani

    Editor

    Adinda Tri Wardhani
Read Entire Article
Entertainment |