ANALISIS
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Kamis, 01 Jan 2026 09:31 WIB
Alwi Farhan jadi salah satu pemain yang bakal diharapkan di 2026. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tim Badminton Indonesia akan menghadapi tahun penting di 2026. Tahun ini jadi penentuan posisi Indonesia menghadapi Race to Olympics di 2027 mendatang.
Tahun 2025 sudah berlalu dengan sejumlah kenyataan pahit bagi Tim Badminton Indonesia. Mulai kering gelar di turnamen level atas hingga tidak ada lagi gelar juara dunia untuk pebulutangkis Indonesia di tahun tersebut.
Namun di sisi lain, tahun 2025 juga diwarnai dengan harapan. Ada sejumlah pemain-pemain muda yang menonjol dan mencuri perhatian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alwi Farhan, Moh Zaki Ubaidillah, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu masuk kategori tersebut.
Ada pula pemain yang sudah lebih matang seperti Putri Kusuma Wardani. Putri KW menunjukkan grafik meningkat dan ia sudah stabil sebagai penghuni 10 besar. Selain itu, Putri KW juga merebut medali perunggu Kejuaraan Dunia 2025.
Selain itu, ada juga yang lebih senior seperti Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri serta Jonatan Christie. Mereka mampu unjuk gigi di semester kedua 2025.
Setelah jatuh-bangun di 2025, Tim Badminton Indonesia akan menatap tahun 2026. Tahun 2026 bakal terasa punya beban lebih berat dibanding 2025 lantaran makin mendekati Olimpiade yang jadi target utama tiap pebulu tangkis di seluruh penjuru dunia.
Setahun ke depan berjalan, pebulutangkis akan menghadapi Road to Olympics yang kemungkinan besar bakal dimulai di Mei 2027. Semua pencapaian di 2026 nantinya bakal menentukan titik start begitu Race to Olympics dimulai.
Putri KW kini konsisten duduk di posisi 10 besar. (Arsip PBSI)
Bila pemain-pemain Indonesia mampu tampil mengkilap di 2026, artinya mereka bakal punya posisi start yang bagus begitu Race to Olympics 2028 dimulai di 2027.
Sederhananya, bila mampu masuk daftar unggulan di turnamen-turnamen saat Race to Olympics dimulai, peluang untuk meraih poin lebih banyak bakal lebih terbuka karena tidak bertemu pemain unggulan lain di babak awal.
Fajar/Fikri dan Raymond/Joaquin jadi sosok yang mencuri perhatian di 2025. (Dok. PBSI)
Sebaliknya, bila tak masuk dalam daftar unggulan, terlebih masih terlempar di luar posisi 32 besar, bakal makin sulit mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya begitu Race to Olympics dimulai.
Karena itu, pemain-pemain muda yang di tahun lalu banyak mendapat pujian, meskipun tak selalu juara, harus bersiap ketika situasi berubah drastis. Tekanan dan beban bakal dirasakan semakin besar, berbeda jauh dengan yang mereka dapatkan di 2025.
Hal itu terjadi karena status 'pemain harapan' diharapkan bisa berubah jadi 'pemain andalan'.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354665/original/013548500_1758261702-IMG-20250919-WA0005.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326205/original/048148200_1756092105-IMG-20250825-WA0011.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354825/original/018518100_1758265848-pongki_barata_csm_3.jpg)






