Jakarta, CNN Indonesia --
Scroll sebentar, lalu berhenti. Pernahkah Anda merasa sedikit lelah, pusing, atau gelisah setelah satu jam menonton Reels, Shorts, atau TikTok?
Studi terbaru menunjukkan bahwa sensasi 'otak lelah' itu bukan sekadar perasaan. Kebiasaan mengonsumsi video pendek secara berlebihan memang bisa memberi dampak nyata pada kemampuan otak dan kesehatan mental.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otak jadi 'ketagihan kecepatan'
Riset berjudul Feeds, Feelings, and Focus yang dimuat dalam Psychological Bulletin menganalisis 71 studi dengan hampir 100 ribu partisipan. Hasilnya konsisten, semakin sering seseorang menonton video berdurasi singkat dengan pola menggulir tanpa henti, semakin besar kemungkinan mereka mengalami penurunan kemampuan fokus, gangguan memori, serta kontrol impuls yang melemah.
Dari seluruh fungsi kognitif yang diteliti, perhatian adalah aspek yang paling terdampak. Penonton berat video pendek cenderung lebih mudah terdistraksi dan lebih sulit menahan dorongan impulsif.
Studi ini juga menjelaskan mengapa video pendek begitu kuat memengaruhi otak. Formatnya yang cepat, emosional, dan penuh kejutan memicu lonjakan dopamin berulang, membuat otak selalu menantikan rangsangan baru.
Lama-kelamaan, aktivitas yang lebih pelan seperti membaca, menulis, atau mengerjakan pekerjaan mendalam terasa lebih berat dan kurang menarik. Otak terbiasa pada pola 'hadiah instan' dan kesulitan menghadapi ritme yang lebih lambat. Efek ini pun bukan hanya menyerang remaja, orang dewasa pun sama rentannya.
Stres, kecemasan, hingga tidur terganggu
Selain memengaruhi fokus, penggunaan video pendek secara intens juga terkait dengan meningkatnya stres, kecemasan, depresi, kesepian, serta menurunnya kesejahteraan mental.
Banyak orang justru menonton video pendek karena sudah merasa tertekan, sehingga hubungan ini berubah menjadi lingkaran sulit, menonton untuk merasa lebih baik, tetapi konsumsi berlebihan justru memperburuk kondisi emosional.
Gangguan tidur ikut menjadi konsekuensi. Kebiasaan menonton sebelum tidur, dibantu cahaya biru dari layar dan stimulasi konten yang tak ada habisnya berkaitan dengan kualitas tidur yang semakin menurun.
Kurang tidur pada akhirnya mengganggu kejernihan berpikir dan memperburuk suasana hati.
Meski begitu, para peneliti tidak menyarankan untuk berhenti total. Yang penting adalah mengenali tanda-tanda bahwa otak Anda mulai kewalahan, seperti sulit fokus, mudah kesal setelah lama menggulir, dorongan terus-menerus untuk membuka aplikasi, atau tidur yang makin tidak nyenyak.
Jika itu terjadi, mungkin ini saatnya memberi jeda, entah dengan mengurangi penggunaan, membatasi waktu sebelum tidur, atau mengganti sebagian konsumsi layar dengan aktivitas yang lebih tenang.
(tis/tis)






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5246935/original/037886700_1749495798-063_2211629707.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354665/original/013548500_1758261702-IMG-20250919-WA0005.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5273468/original/039341400_1751624719-ClipDown.com_510960588_17904224745194387_1578158069668546407_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354825/original/018518100_1758265848-pongki_barata_csm_3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5303701/original/026205700_1754120479-Foto_7._Rosie_Pop-Up_Jakarta_-_Gandaria_City_Mall.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326205/original/048148200_1756092105-IMG-20250825-WA0011.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316299/original/029464000_1755231410-OFFICIAL_POSTER_-_FEED.jpg)