Belajar dari Aurelie Moeremans, Kenali Grooming Lebih Jauh

2 hours ago 3

CNN Indonesia

Senin, 12 Jan 2026 10:00 WIB

Aurelie Moeremans berkisah tentang pengalamannya menjadi korban grooming dalam buku memoarnya Broken Strings. Apa itu grooming? Aurelie Moeremans berkisah tentang pengalamannya menjadi korban grooming dalam buku memoarnya Broken Strings. (Palevi/detikcom)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Aurelie Moeremans berkisah tentang pengalamannya menjadi korban grooming dalam buku memoarnya Broken Strings.

Dalam buku tersebut, dugaan grooming disebutkan terjadi saat aktris kelahiran 1993 silam tersebut masih berusia 15 tahun. Ia mengaku menjadi korban manipulasi, namun masih mampu perlahan menyelamatkan dirinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun," kata Aurelie dalam kolom komentar di unggahannya sendiri pada Jumat (9/1).

Dalam unggahan itu, Aurelie memperlihatkan sebuah video bertanya kepada ChatGPT soal status dan dokumen pernikahan yang sudah dianggap tidak sah, kemudian malah dijadikan bahan untuk membuktikan 'pernah menikah' dengan dirinya. CNNIndonesia.com telah meminta izin Aurelie untuk mengutip unggahan tersebut.

Apa itu grooming?

Grooming sendiri bukan perkara baru dalam konteks pelecehan seksual terhadap anak. Banyak anak telah menjadi korbannya.

Grooming merupakan teknik yang dilakukan orang dewasa untuk memanipulasi pikiran anak. Eksploitasi atau pelecehan seksual anak jadi tujuan utamanya.

Dalam grooming, pelaku akan berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dan kepatuhan anak sebagai korban. Hal ini dilakukan agar korban bungkam terhadap apa pun yang dilakukan pelaku.

Menukil laman Bravehearts, grooming bisa terjadi secara langsung ataupun daring.

Sayangnya, sering kali orang tua tak sadar bahwa anaknya sedang menjadi korban grooming. Pasalnya, pelaku grooming sering kali memperlihatkan perilaku atau hubungan yang tulus dan penuh perhatian.

Para pelaku sering dipandang sebagai orang yang jujur, menyenangkan, dan mau meluangkan waktu untuk membangun kepercayaan korban serta orang tua atau orang dewasa di sekitar korban.

Sebagian besar pelaku umumnya dikenal oleh korban dan keluarga. Berdasarkan data Australian Institute of Health and Welfare 2019, sebanyak 79 persen penyintas melaporkan bahwa mereka dilecehkan oleh kerabat, kenalan, atau tetangga.

Tanda-tanda child grooming

Mendeteksi pelecehan seksual terhadap anak bisa jadi sulit. Namun, ada pola perilaku umum di antara pelaku yang dapat membantu orang dewasa mengenali potensi pelecehan seksual.

Berikut tahapan grooming yang biasa dilakukan pelaku.

1. Pemilihan korban

Pelaku akan mencari korban dengan kriteria tertentu. Di antaranya anak yang patuh dan mudah percaya pada orang dewasa, kurang percaya diri, merasa kesepian atau kurang pengawasan orang tua, berkebutuhan khusus, serta tidak dekat dengan keluarga.

Namun demikian, daftar di atas hanyalah sebagian kecil faktor yang bisa meningkatkan risiko. Penting untuk dipahami bahwa semua anak tetap berisiko menjadi korban pelecehan.

2. Cara pelaku mendapatkan akses terhadap anak

Pelaku bisa saja kerap terlibat dalam organisasi yang melibatkan anak. Mereka kemudian memanipulasi keluarga untuk mendapatkan akses khusus ke korban.

Saat grooming, pelaku biasanya akan melakukan aktivitas hanya berdua dengan korban.

3. Cara pelaku mendapatkan kepercayaan

Pelaku grooming umumnya mudah mendapatkan kepercayaan karena berbagai sifat positifnya. Misalnya, pelaku bersikap baik dan disukai. Mereka juga kerap memiliki reputasi baik dalam komunitas.

Pelaku grooming akan bersikap penuh kasih sayang dan memberikan perhatian khusus pada korban. Bukan tak mungkin juga jika pelaku menunjukkan sikap pilih kasih.

Pelaku juga kerap memberikan pujian dan hadiah untuk korban.

4. Yang dilakukan pelaku saat pelecehan

A woman's hands in front of her face.Ilustrasi. Beberapa tanda bisa diperhatikan orang tua untuk mendeteksi perilaku grooming. (Istockphoto/Markgoddard)

Saat mulai mengarah pada pelecehan, pelaku akan mengajukan pertanyaan soal pengetahuan atau pengalaman seksual korban. Pelaku juga akan berbagi pengalaman seksualnya.

Pelaku juga bisa menggunakan bahasa bernada seksual meski bercanda dan menyentuh tubuh korban.

Tak sedikit juga pelaku yang memperlihatkan tubuh mereka kepada korban, memperlihatkan konten pornografi anak, serta meningkatkan sentuhan berbau seksual.

5. Yang dilakukan pelaku pasca-pelecehan

Pelaku melakukan manipulasi sedemikian rupa agar korban bungkam atas pelecehan yang dilakukannya. Biasanya, pelaku akan mendorong korban untuk menganggap pelecehan tersebut sebagai rahasia di antara keduanya.

Tak jarang juga pelaku yang mengungkapkan rasa cintanya dan memberikan puja-puji pada korban.

Pelaku juga akan meyakinkan korban bahwa hal yang dilakukannya adalah sesuatu yang normal dan dapat diterima.

Tapi, tak sedikit juga pelaku yang menggunakan ancaman tertentu agar korban tetap bungkam.

Perilaku grooming bisa terjadi pada siapa saja. Orang tua dianjurkan untuk mengenali grooming lebih jauh agar mampu mendeteksi lebih cepat.

(asr)

Read Entire Article
Entertainment |