Jakarta, CNN Indonesia --
Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food Ghimoyo mengadu kesulitan mendapatkan plastik untuk kebutuhan kemasan pangan saat rapat dengan Komisi IV DPR RI.
Ia mengatakan persoalan kelangkaan plastik yang ramai dibicarakan belakangan ini juga dirasakan langsung oleh ID Food sebagai salah satu pemangku kepentingan di sektor pangan.
"Kami kesulitan yang sekarang lagi viral, bukan lagi viral, lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan," katanya dalam rapat bersama Komisi IV DRP RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, pabrik-pabrik di Indonesia mulai mengalami kesulitan memperoleh biji plastik akibat kelangkaan pasokan. Kondisi ini dinilai krusial karena sebagian besar produk pangan bergantung pada bahan plastik untuk kemasan.
Ia menjelaskan kebutuhan plastik digunakan untuk berbagai hal, mulai dari beras hingga minyak goreng. Selain itu, sektor pupuk juga membutuhkan karung berbahan plastik.
"Ini lebih krusial karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik. Lalu, kemasan-kemasan kiloan, kemasan minyak goreng, juga menggunakan bahan yang sama," ujarnya.
Kenaikan harga dan kelangkaan plastik merupakan dampak penutupan Selat Hormuz yang juga mendorong biaya logistik dan energi. Pasokan bahan baku plastik selama ini banyak berasal dari Timur Tengah.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan produksi industri hulu plastik di dalam negeri turun hingga sekitar sepertiga kapasitas. Bahkan, sejumlah pemasok dilaporkan tidak dapat berproduksi karena keterbatasan bahan baku.
Di tengah kondisi tersebut, harga plastik melonjak signifikan. Ia menyebut kenaikan harga di tingkat produsen berkisar 30 persen hingga 60 persen, bahkan di tingkat pedagang bisa mencapai dua kali lipat akibat keterbatasan stok.
"Saya dapat info juga bahkan beberapa pedagang plastik itu menaikkan harga bisa sampai 100 persen karena mereka merasa stoknya terbatas, sementara dibutuhkan," kata Adhi kepada CNNIndonesia.com.
Di pasaran, harga plastik mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, bahkan mencapai tiga kali lipat di sejumlah wilayah.
Pantauan CNNIndonesia.com di wilayah Lenteng Agung, Jakarta Selatan, kemarin (6/4) menunjukkan adanya kenaikan harga pada berbagai jenis plastik, mulai dari kantong hingga sedotan.
Mustaroh, penjual es kelapa di kawasan tersebut mengaku kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh jenis plastik yang ia gunakan untuk berjualan.
"Semua merk naik semua," kata Mustaroh saat ditemui di kedainya.
Ia merinci, harga plastik kantong naik dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu, sementara sedotan naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu. Bahkan, plastik kemasan merek tomat melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak.
"Ini saya beli langsung di toko plastik, kalau eceran pasti lebih mahal lagi," ujarnya.
Meski biaya operasional meningkat, Mustaroh mengaku belum menaikkan harga jual es kelapa.
"Nggak (menaikkan harga es kelapa). Jadi ini kita udah aduh-aduhan banget," katanya.
(dhz/pta)
Add
as a preferred source on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440135/original/042410700_1765423920-IMG-20251210-WA0008.jpg)


















