Catatan Analis hingga DPR Atas Merger 3 Anak Usaha Pertamina

4 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Langkah PT Pertamina (Persero) menggabung (merger) tiga anak usaha mereka; PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS), menjadi subholding downstream mendapatkan respons positif.

Respons salah satunya disampaikan oleh ekonom Indef Abra Talattov. 

Menurutnya, merger merupakan langkah konsolidasi korporasi untuk merapikan struktur bisnis di dalam grup Pertamina. Ia berharap langkah itu bisa mengurangi tumpang tindih fungsi di internal Pertamina.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, merger juga ia harapkan bisa meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat posisi keuangan perusahaan.

Dan yang tidak kalah penting juga kata Abra, dengan merger ia berharap struktur perusahaan bisa lebih ramping sehingga keputusan bisnis bisa lebih cepat dan koordinasi antar lini usaha bisa menjadi lebih efektif.

"Secara konseptual, penggabungan entitas usaha memang ditujukan untuk mengurangi tumpang tindih fungsi, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperkuat posisi keuangan perusahaan," katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (9/3).

Meski demikian, ia memberikan beberapa catatan agar transformasi yang dilakukan Pertamina tersebut berhasil dan bisa memberikan manfaat kepada masyarakat.

Catatan paling utama terkait komitmen untuk melakukan perbaikan tata kelola, transparansi dan disiplin operasional.

Catatan ia berikan karena selama ini sering kali merger yang dilakukan oleh perusahaan tidak menghasilkan efisiensi dan perbaikan.

"Publik tentu berharap konsolidasi ini benar-benar membuat Pertamina lebih sehat secara finansial, lebih efisien dalam distribusi energi, dan mampu menjaga stabilitas pasokan energi nasional, apalagi di tengah tekanan harga minyak dunia yang saat ini semakin bergejolak. Publik berharap pasca transformasi organisasi, efisiensi yang dihasilkan bisa membantu harga produk BBM dan LPG non subsidi tetap terjangkau dan berkualitas," katanya.

Langkah strategis

Respons positif sebelumnya juga disampaikan Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS, Ateng Sutisna. Ia menilai merger tiga subholding hilir migas Pertamina merupakan langkah strategis yang positif.

Namun sama seperti Abra, ia menegaskan bahwa merger tersebut harus disertai dengan perampingan struktur organisasi di tingkat Induk agar tujuan efisiensi benar-benar tercapai.

Menurut Ateng, secara konsep, merger ini bertujuan mengintegrasikan rantai nilai hilir migas mulai dari pengolahan, distribusi dan pemasaran, hingga logistik dan transportasi laut.

Integrasi tersebut diharapkan mampu menurunkan biaya, menyederhanakan birokrasi, serta meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing Pertamina di tingkat regional maupun global.

"Tujuan merger ini baik dan strategis. Merger seharusnya memangkas redundansi. Namun jika Induk tidak dirampingkan, manfaat merger di tingkat Subholding bisa tidak optimal, bahkan hanya memindahkan birokrasi dan biaya ke tingkat Induk," jelasnya.

Karena itu, Ateng mendorong agar merger ini dijadikan momentum untuk melakukan reorganisasi secara menyeluruh.

Pertamina resmi memerger tiga anak usahanya menjadi subholding downstream awal Februari lalu.

PPN ditetapkan sebagai entitas penerima penggabungan.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan integrasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing Perusahaan.

"Di tengah perubahan geopolitik, tuntutan transisi energi, dan persaingan global yang semakin ketat. Indonesia membutuhkan Pertamina yang lincah, kuat, dan terintegrasi. Ketika kilang, distribusi, dan logistik serta pemasaran bekerja sebagai satu sistem, kita dapat menghilangkan redundansi, mempercepat layanan, dan menghadirkan pasokan energi yang andal dari Sabang sampai Merauke," ujar Simon dalam keterangan, Kamis (5/2).

Melalui subholding downstream, Pertamina menargetkan transformasi dalam lini bisnisnya, khususnya yang terkait dengan peningkatan pelayanan ke masyarakat. 

Salah satunya, pada Lebaran 2026 ini.

Diketahui, untuk menjaga layanan ke masyarakat selama Lebaran 2026, Pertamina menyiagakan Satuan Tugas Ramadhan dan Idul Fitri untuk menjamin ketersediaan dan kelancaran pasokan energi selama Lebaran 2026.

Satgas disiagakan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan sumber energi selama periode Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

Pertamina memprediksi, puncak arus mudik tahap I pada Lebaran Tahun ini terjadi pada 14 sampai dengan 15 Maret 2026. Sementara puncak mudik kedua terjadi pada 18 sampai dengan 19 Maret 2026.

Untuk arus balik, Pertamina memprediksi puncak tahap pertama terjadi pada 14 sampai dengan 25 Maret 2026. Sementara itu, puncak mudik kedua terjadi pada 28 sampai dengan 29 Maret 2026.

Nah, berkaitan dengan Lebaran 2026 itu, Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth Marcelino Verieza Dumatubun mengatakan pihaknya sudah memprediksi permintaan BBM akan naik 12 persen selama periode tersebut.

Tak hanya BBM, pihaknya juga memprediksi permintaan LPG naik 4 persen, avtur 2,8 persen dan kerosene 4,2 persen.

Untuk mengantisipasi lonjakan itu, selain menyiagakan Satgas Rafi 2026, pihaknya juga menyiagakan 7.885 SPBU, 6.777 pertashop, 6.662 agen LPG,757 SPBE dan 223 agen minyak tanah.

Selain itu, guna memastikan layanan terhadap masyarakat selama Lebaran, Pertamina juga menyiagakan layanan pendukung di jalur potensial, seperti; tol, wisata, jalur lalu lintas utama berupa; SPBU 24 jam sebanyak 2.074 unit, agen LPG siaga sebanyak 6.300 unit, 96 unit layanan modular BBM dan 62 Kiosk Pertamina. SIaga di 64 titik lokasi, Motorist BBM 200 unit, PDS Bright Gas 2.701 outlet, mobil tangki stand by 200 unit dan 41 unit Serambi MyPertamina.

Selain itu, demi mengantisipasi terjadinya bencana, Pertamina juga mempersiapkan Tim Tanggap Darurat Bencana di masing-masing regional.

(ldy/agt)

Read Entire Article
Entertainment |