Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah penyintas banjir bandang di Desa Tetingi, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, memilih membangun kembali rumah mereka dari sisa material yang hancur karena bencana agar dapat berkumpul bersama keluarga di Hari Raya Lebaran 2026 atau Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kepala Desa Tetingi Mahmud (41) mengatakan sebagian warga kini membangun tempat tinggal seadanya menggunakan bahan yang tersisa dari puing bencana, seperti seng dan papan yang hanyut.
"Sebelumnya warga sempat tinggal di tenda pengungsian, namun sebagian besar kini memilih kembali ke lokasi rumah lama, dibangun lagi, karena hunian sementara yang disiapkan pemerintah belum dapat dihuni secara optimal," kata dia mengutip Antara, Senin (16/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengaku bahwa rumah hunian sementara sebagai tempat yang disiapkan pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut sebenarnya telah tersedia, namun masih terkendala fasilitas pendukung seperti pasokan air bersih dan jaringan listrik.
"Sudah ada mesin pompa air, sumurnya pun sudah ada, cuma belum bisa mengisi air di toren. Begitupun listik. Menurut petugas PLN stok mesin meteran listriknya habis jadi tidak semua kopel huntara bisa dipasang sehingga sebagian warga memilih tinggal di rumah yang dibangun seadanya," ujar kepala desa atau Keuchik ini.
Berdasarkan data pemerintah desa, Desa Tetingi ini dihuni sebanyak 133 kepala keluarga dengan total 418 jiwa yang seluruhnya terdampak bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah itu 26 November 2025.
Dari jumlah tersebut, menurut Mahmud ada tercatat sebanyak 33 rumah hilang total, sementara 42 rumah lainnya rusak berat dan tidak lagi layak huni sehingga harus dibongkar.
Warga di Desa Tetingi ini bermukim dengan mendirikan rumah yang memanjang mengikuti alur aliran sungai kemudian sebagian besar rusak bahkan hanyut tak tersisa terbawa arus deras banjir bandang hampir empat bulan lalu.
"Karena mau menghadapi Lebaran, banyak warga menetap lagi di sini. Walaupun rumahnya apa adanya, yang penting bisa berkumpul bersama keluarga," kata dia, seraya menyatakan bahwa kondisi desa kini perlahan mulai pulih seiring dengan berbagai bantuan yang datang dari pemerintah maupun masyarakat atau tim relawan dari berbagai daerah.
(tim/dal)
Add
as a preferred source on Google

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440135/original/042410700_1765423920-IMG-20251210-WA0008.jpg)