Jakarta, CNN Indonesia --
China sedang melakukan pembicaraan dengan Iran agar kapal pengangkut minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari Qatar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Lobi-lobi China ke Iran dilakukan di tengah memanasnya perang Teheran melawan keroyokan Amerika Serikat (AS) dan Israel, kata tiga sumber diplomatik kepada Reuters.
Perang yang memasuki hari keenam sejak 28 Februari tersebut membuat Selat Hormuz nyaris tertutup, sehingga banyak negara di dunia terputus dari sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China, yang memiliki hubungan baik dengan Iran dan sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, merasa tidak senang dengan langkah Teheran yang melumpuhkan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Beijing pun menekan Teheran agar mengizinkan kapal-kapal tersebut melintas dengan aman, menurut para sumber.
China yang menjadi negara ekonomi terbesar kedua dunia itu memperoleh sekitar 45 persen pasokan minyaknya dari jalur Selat Hormuz.
Harga minyak mentah dunia naik lebih dari 15 persen sejak konflik dimulai pada 28 Februari, seiring terhentinya produksi akibat adanya serangan ke fasilitas energi di kawasan Teluk, juga kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.
Data pelacakan kapal Vortexa menunjukkan jumlah kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi empat kapal per 1 Maret, sehari setelah perang pecah. Angka itu jauh di bawah rata-rata 24 kapal melintas per hari sejak Januari 2026
Sekitar 300 kapal tanker minyak masih terjebak di dalam Selat Hormuz, menurut data Vortexa dan pelacak kapal Kpler.
Bos industri gula Mike McDougall mengatakan kepada Reuters para eksekutif perusahaan gula di Timur Tengah menyebut ada beberapa kapal yang saat ini masih melintasi Selat Hormuz, tetapi semuanya dimiliki oleh perusahaan China atau Iran.
Direktur pelaksana Al Khaleej Sugar yang berbasis di Dubai, Jamal Al-Ghurair, juga mengatakan sebagian kapal yang membawa gula saat ini diizinkan melintasi selat, sementara yang lain tidak.
Pemerintah Iran sebelumnya menyatakan kapal milik AS, Israel dan sekutunya tidak akan diizinkan melintasi Selat Hormuz. Namun, pernyataan tersebut tidak menyebut China.
(pta)


















































