Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah aplikasi mobile populer yang banyak diunduh di perangkat Android dan iPhone ternyata dikembangkan oleh perusahaan teknologi asal Israel. Beberapa di antaranya bahkan cukup populer di Indonesia.
Sebagian perusahaan tersebut disebut didirikan oleh alumni Unit 8200, unit intelijen siber militer Israel yang dikenal berfokus pada pengawasan dan keamanan digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kategori aplikasi buatan mata-mata Israel itu beragam, mulai dari editor foto, gim, hingga layanan peta digital. Beberapa yang dikenal luas di Indonesia antara lain Waze dan Moovit.
Waze merupakan aplikasi navigasi GPS gratis berbasis crowdsourcing (komunitas) yang membantu pengemudi menghindari kemacetan dan menemukan rute tercept secara real-time.
Sementara, Moovit adalah aplikasi perencana perjalanan dan panduan transportasi umum yang membantu pengguna bernavigasi menggunakan bus, kereta api, angkot, dan moda lainnya secara real-time.
Kedua aplikasi ini sangat populer di Indonesia karena menawarkan solusi navigasi dan transportasi yang cukup relevan dengan kondisi lalu lintas di Indonesia, didukung data komunitas real-time.
Merujuk laporan TechTrends, sejumlah perusahaan teknologi Israel kerap menjadi sorotan terkait praktik pengumpulan data dan model monetisasi aplikasi. Kritikus menuding adanya penyisipan adware, pelacak, hingga pengumpulan data pribadi pengguna dalam skala besar.
Dalam beberapa kasus, ada aplikasi yang awalnya berbasis open source kemudian diubah menjadi platform yang sangat dimonetisasi setelah diakuisisi.
Karena aplikasi-aplikasi ini telah terintegrasi luas dalam ekosistem ponsel pintar, banyak pengguna disebut tidak menyadari latar belakang pengembangnya. Sejumlah platform juga dilaporkan mengubah kebijakan privasi mereka setelah proses akuisisi, memicu kekhawatiran soal perlindungan data.
Meski menuai kritik, jumlah unduhan aplikasi tersebut terus meningkat, didukung belanja iklan besar serta kemitraan dengan platform global seperti Google dan Facebook.
Berikut daftar perusahaan dan aplikasi yang disebut dalam laporan tersebut:
1. ZipoApps (disebut didirikan mantan agen Unit 8200)
2. Bazaart (didirikan mantan personel IDF)
3. Lightricks (salah satu pendirinya memiliki latar belakang Unit 8200)
4. Supersonic (disebut memiliki pimpinan berlatar belakang militer Israel)
5. Playtika (didirikan oleh tokoh yang memiliki hubungan keluarga dengan pejabat militer Israel)
6. Crazy Labs (semua pendirinya bekerja di IDF)
7. Moovit (dikembangkan oleh veteran unit teknologi militer)
8. CallApp (pendirinya disebut pernah bertugas di Unit 8200)
9. Gett (didirikan oleh mantan pejabat Unit 8200)
10. Waze (didirikan oleh insinyur dengan latar belakang Unit 8200)
11. Fooducate (didirikan oleh mantan pilot israel)
Hubungan antara sektor teknologi Israel dan latar belakang militer sejumlah pendirinya kerap menjadi bahan perdebatan. Alumni Unit 8200 diketahui banyak berkiprah di industri teknologi global, khususnya di bidang keamanan siber dan analisis data.
Di sisi lain, meningkatnya kritik internasional terhadap kebijakan Israel di Gaza dan Tepi Barat turut memunculkan seruan dari sejumlah kelompok, termasuk gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS), untuk memboikot produk dan layanan yang dianggap memiliki keterkaitan dengan negara tersebut, termasuk platform digital.
Bagi pengguna yang ingin lebih selektif dalam memilih aplikasi, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Memeriksa nama dan profil pengembang di toko aplikasi resmi.
- Menelusuri latar belakang perusahaan melalui platform profesional seperti LinkedIn atau basis data bisnis.
- Mempertimbangkan penggunaan aplikasi berbasis open source.
- Mendukung pengembang yang memiliki komitmen kuat terhadap transparansi dan perlindungan data pengguna.
Isu ini menunjukkan bagaimana industri teknologi, latar belakang militer, dan geopolitik dapat saling berkaitan dalam ekosistem digital global yang digunakan sehari-hari.
(wpj/dmi)


















































