Dalih Trump soal Perang Iran Semakin Rapuh dan Berantakan

3 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah pejabat intelijen Amerika Serikat dari pemerintahan Donald Trump memberikan kesaksian publik perdana mereka pada Rabu (18/3) terkait perang yang telah berlangsung tiga minggu dengan Iran.

Kesaksian disampaikan di depan Komite Intelijen Senat AS oleh Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, Direktur CIA John Ratcliffe, dan Direktur FBI Kash Patel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesaksian ini muncul sehari setelah Direktur National Counterterrorism Center, Joe Kent, mengundurkan diri dari jabatannya dengan alasan pemerintah berbohong tentang ancaman mendesak dari Iran.

Melansir CNN, berikut ini beberapa poin penting dalam kesaksian publik para pejabat intelijen:

Klaim Trump soal Iran banyak yang tidak didukung intelijen

Dalam sidang tersebut, pejabat intelijen secara berulang kali membantah atau tidak dapat membuktikan klaim-klaim besar Trump dan pemerintahannya.

Misalnya, Trump menyatakan Iran berupaya membangun kembali program nuklir setelah serangan Juni lalu.

Penasihat Gedung Putih Steve Witkoff bahkan mengatakan Iran akan memiliki bahan peledak nuklir industri dalam waktu seminggu. Gedung Putih juga menyebut ada "ancaman nuklir yang mendesak" dari Iran.

Namun, Gabbard dalam pernyataan pembukaannya justru menyatakan hal sebaliknya. Ia mengatakan, program pengayaan nuklir Iran sudah hancur total sebagai hasil dari Operasi Midnight Hammer pada Juni 2025.

"[Iran] Tidak ada upaya sejak itu untuk membangun kembali kemampuan pengayaan mereka," ujar Gabbard.

Trump juga mengeklaim Iran sedang membangun peluru kendali balistik antarbenua atau intercontinental ballistic missile (ICBM) yang dikatakan bisa mencapai AS.

Namun, intelijen AS menyatakan Iran baru bisa mengembangkan ICBM yang layak secara militer sebelum 2035. Gabbard menyebut, penilaian ini akan diperbarui seiring perkembangan perang.

Selain itu, klaim Trump tentang tidak ada ahli yang memprediksi respons Iran dengan menyerang tetangga Teluknya juga tidak didukung. Iran sendiri telah berbicara secara terbuka mengenai kemungkinan tersebut.

Saat ditanya soal ini, Gabbard menghindar menjawab langsung dan mengaku tidak mengetahui pernyataan tersebut.

Benarkah ada ancaman 'mendesak' dari Iran?

Pemerintahan Trump mengajukan berbagai alasan berbeda yang banyak tidak bertahan saat diuji. Joe Kent dalam surat pengunduran dirinya menyatakan, Iran bukan ancaman mendesak.

Gabbard, yang sebelumnya menentang perang dengan Iran, memberikan pernyataan hati-hati tanpa memberikan penilaian langsung. Ia mengatakan, keputusan soal ancaman mendesak adalah wewenang Presiden Trump.

Dalam sidang, tidak banyak bukti intelijen yang menunjukkan Iran sebagai ancaman mendesak. Soal program nuklir dan ICBM Iran, tidak ada indikasi ancaman yang segera terjadi.

Ketika Senator Jon Ossoff bertanya apakah intelijen menunjukkan ancaman nuklir yang mendesak? Gabbard menjawab, "Satu-satunya orang yang bisa menentukan apa yang merupakan ancaman adalah presiden."

Gabbard menegaskan, bukan tugas komunitas intelijen untuk menentukan ancaman mendesak. Namun Ossoff menolak pernyataan ini, menyatakan komunitas intelijen memang seharusnya membuat penilaian independen.

Di sisi lain, Ratcliffe menyatakan Iran memang sudah lama menjadi ancaman konstan dan saat ini merupakan ancaman 'segera' bagi AS, terutama melalui serangan yang didukung Iran terhadap warga AS di kawasan Timur Tengah.

Namun, tidak ada saksi yang secara eksplisit menyebut Iran sebagai ancaman 'mendesak' terhadap wilayah daratan AS.

Partai Demokrat tidak fokus pada kesaksian Kent

Walaupun pengunduran diri Joe Kent jadi berita besar pada Selasa lalu, partai Demokrat di komite cenderung tidak terlalu fokus pada kesaksiannya.

Sidang tersebut tidak membahas detail klaim Kent, termasuk pertemuannya dengan Gabbard dan Wakil Presiden JD Vance, sebelum ia mengundurkan diri.

Beberapa kemungkinan alasan, termasuk riwayat Kent yang pernah berafiliasi dengan kelompok ekstrem kanan. Dalam surat pengunduran diri, ia juga menuduh Israel berada di balik perang Irak dan perang saudara Suriah, tak hanya perang Iran.

(rti/rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |