CNN Indonesia
Sabtu, 28 Feb 2026 22:10 WIB
Ilustrasi. Tidak selalu berbahaya, steorid aman digunakan asalakan sesuai anjuran dokter. (iStockphoto/Yuliya)
Jakarta, CNN Indonesia --
Penggunaan krim steroid kerap memicu kekhawatiran. Banyak orang menganggapnya berisiko tinggi dan berbahaya bagi kulit.
Padahal, dalam praktik dermatologi, obat ini justru menjadi terapi utama untuk berbagai penyakit kulit. Lalu, seberapa berbahaya sebenarnya steroid topikal?
Dokter spesialis kulit dan kelamin, Arini Astasari Widodo, menjelaskan bahwa tingkat risiko steroid sangat bergantung pada ketepatan indikasi dan kondisi pasien.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kortikosteroid topikal merupakan obat antiinflamasi yang sangat efektif dan termasuk salah satu gold standard dalam dermatologi untuk mengatasi peradangan kulit seperti dermatitis, eksim, psoriasis, maupun reaksi alergi," ujar Arini kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/2).
Menurut Arini, secara medis steroid tidak otomatis berbahaya. Risiko biasanya muncul ketika penggunaannya tidak sesuai dengan kondisi yang mendasari atau dipakai tanpa pengawasan dokter.
Siapa yang boleh menggunakan?
Steroid topikal diperbolehkan pada pasien dengan kondisi inflamasi kulit yang memang memerlukan terapi antiinflamasi, seperti:
• Dermatitis atopik
• Dermatitis kontak alergi atau iritan
• Psoriasis tertentu
• Kondisi inflamasi kulit lain yang memerlukan terapi antiinflamasi
Dalam praktik klinis, steroid dinilai aman jika digunakan dengan prinsip yang benar.
"Yang berbahaya bukan steroidnya, tetapi penggunaan yang tidak tepat dan tanpa pengawasan," kata Arini.
Ia menegaskan, dalam praktik dermatologi, steroid sangat membantu dan relatif aman bila diagnosis tepat, potensi obat sesuai, area serta durasi penggunaan terkontrol, dan pasien berada dalam pemantauan dokter.
Siapa yang sebaiknya menghindari?
Sebaliknya, ada beberapa kondisi yang harus sangat berhati-hati atau bahkan tidak dianjurkan menggunakan steroid, antara lain:
• Infeksi jamur yang belum diobati
• Jerawat aktif (dapat memperburuk menjadi steroid acne)
• Perioral dermatitis
• Penggunaan rutin untuk tujuan kosmetik, seperti pencerahan kulit
Arini menjelaskan bahwa risiko efek samping juga dipengaruhi oleh lokasi pemakaian dan potensi obat. Area wajah, terutama sekitar mata, lipatan hidung, dan sekitar mulut, memiliki kulit lebih tipis sehingga lebih rentan terhadap efek samping.
Masalah kerap muncul ketika pasien membeli krim bebas yang mengandung steroid poten, misalnya dalam bentuk "krim racikan" tanpa label jelas, lalu menggunakannya setiap hari selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
"Steroid tidak boleh dipakai sembarangan. Penggunaannya harus sesuai diagnosis dan tidak ditujukan untuk semua jenis kemerahan atau jerawat. Steroid juga tidak boleh digunakan sebagai perawatan rutin jangka panjang," jelasnya.
Arini mengibaratkan steroid seperti pisau bedah: sangat bermanfaat bila digunakan secara tepat, tetapi bisa merusak jika disalahgunakan.
"Steroid itu seperti pisau bedah, sangat bermanfaat bila digunakan tepat, tetapi bisa merusak jika disalahgunakan," tegasnya.
(nga/tis)


















































