Dubes Ungkap UEA Diserbu 500 Rudal dan 2000 Drone Iran Selama Perang

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri mengatakan lebih dari 500 rudal balistik dan 2.000 drone Iran menerjang negaranya sejak perang Amerika Serikat dan Israel vs Iran pecah.

Dalam pernyataan pada Rabu (8/4), Al Dhaheri menyampaikan rudal dan drone tersebut seluruhnya berhasil dideteksi dan dicegat oleh militer UEA.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Per tanggal 7 April 2026, sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab telah berhasil mendeteksi dan mencegat 520 rudal balistik, 26 rudal jelajah, dan 2.221 drone," kata Al Dhaheri di kediamannya di Jakarta Selatan, Rabu (8/4).

Meski berhasil dicegat, ia mengatakan puing-puing rudal jatuh di kawasan sipil hingga mengakibatkan korban jiwa.

"Terlepas dari keberhasilan sistem pertahanan ini, puing-puing dari senjata yang telah dicegat ini jatuh di kawasan sipil. Hal ini mengakibatkan 13 warga sipil meninggal dunia, 217 orang luka-luka, serta kerusakan pada infrastruktur vital seperti bandara, pelabuhan, fasilitas energi, dan kawasan permukiman," kata Al Dhaheri.

"Fakta-fakta ini secara jelas menunjukkan bahwa serangan-serangan tersebut tidak terbatas pada target militer. Dari sudut pandang ini, saya ingin menegaskan bahwa data tersebut membantah klaim Iran bahwa serangannya hanya menargetkan pangkalan dan fasilitas militer," lanjutnya.

Menurut Al Dhaheri, perang AS-Israel vs Iran lebih banyak berdampak pada negara-negara Teluk ketimbang mereka yang berkonflik.

Data statistik terbaru menunjukkan sekitar 85 persen rudal dan drone Iran diluncurkan ke arah negara-negara Teluk dan Yordania. Hanya sekitar 15 persen yang menargetkan Israel.

"Berdasarkan realitas ini, saya mengajak seluruh negara di dunia Islam, termasuk Republik Indonesia dan rakyatnya yang ramah, untuk menilai situasi di Timur Tengah secara seimbang, tanpa dipengaruhi oleh narasi emosional yang bertentangan dengan fakta," kata Al Dhaheri.

"Saya juga mendorong sikap netral yang disertai solidaritas serta dukungan terhadap negara-negara Arab dan negara-negara Islam lainnya yang terdampak oleh konflik yang sedang berlangsung," imbuhnya.

Perang AS-Israel vs Iran pecah sejak 28 Februari lalu. AS-Israel menyerang Iran saat sedang bernegosiasi mengenai program nuklir Teheran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut.

Iran lantas membalas dengan menargetkan wilayah Israel serta pangkalan dan situs militer AS di Timur Tengah. Serangan udara Iran dilaporkan terjadi di UEA, Arab Saudi, Yordania, Kuwait, Bahrain, Qatar, hingga Oman.

Berbagai korban jiwa dan kerusakan pun dilaporkan di negara-negara Arab tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Al Dhaheri menegaskan bahwa UEA tidak pernah membalas serangan Iran "dengan cara yang sama, meski berulang kali diserang."

"UEA, negara-negara GCC (Dewan Kerja Sama Teluk), dan Yordania telah menunjukkan sikap menahan diri, tanggung jawab, serta disiplin," kata Al Dhaheri.

"Kami meyakini bahwa kepemimpinan tidak diukur dari eskalasi, melainkan dari kemampuan untuk mencegah meluasnya konflik," ucapnya melanjutkan.

Al Dhaheri juga menyatakan situasi di UEA hingga kini tetap aman meski ada serangan udara yang terdeteksi. Negara masih beroperasi seperti biasa dan lebih dari 200 warga negara asing, termasuk warga negara Indonesia, dalam keadaan baik.

(blq/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |