Giancarlo Devasini Sosok Misterius Bos Kripto Tether Harta Rp1.544,9 T

4 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Pasar kripto global dihuni beragam sosok misterius, salah satunya Giancarlo Devasini orang terkaya ke-22 versi Forbes sekaligus bos stablecoin kripto, Tether (USDT).

Melansir laman Forbes, hingga Sabtu (25/4) kekayaan Devasini tercatat US$89,3 miliar atau setara Rp1.544,9 triliun (kurs Rp17.300).

Sosok Devasini terbilang misterius, meskipun namanya bertengger di posisi ke-22 sebagai orang terkaya dunia versi Forbes, namun sosoknya jarang muncul di publik. Bahkan, Forbes tidak memajang foto Bos Tether tersebut di laman resminnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun begitu, wajah Devasini terpampang di laman resmi Tether sebagai Chairman atau Ketua, bersama jajaran direksi lainnya. Mantan dokter tersebut digadang sebagai pemegang saham terbesar Tether yang merupakan perusahaan penerbit stablecoin kripto terbesar.

Berdasarkan laman Coinmarketcap, hingga Minggu (26/4) kapitalisasi pasar USDT mencapai US$189,8 miliar token. sebagian besar dari bunga aset jaminan nasabah.

Dominasi Tether tak hanya memperkuat posisinya di pasar kripto, melainkan menjadikan Devasini sebagai salah satu miliarder paling berpengaruh di dunia keuangan modern. Forbes memprediksi sekitar 45 persen dari saham Tether merupakan kepunyaan Devasini.

[Gambas:Youtube]

"Didukung suku bunga tinggi obligasi pemerintah AS, sekaligus merupakan sebagian besar cadangan Tether, perusahaan tersebut melaporkan keuntungan lebih dari U$10 miliar (setara Rp173 triliun) pada 2025," tulis Forbes dilansir Minggu (26/4).

Nama Devasini tidak langsung besar dan dikenal industri kripto global, mengingat awal karirnya dia mulai dari meja bedah. Pria kelahiran Torino, Italia pada 1964 menyelesaikan pendidikan kedokteran di University of Milan pada 1990.

Devasini muda memulai kariernya sebagai dokter bedah plastik, namun itu hanya bertahan selama dua tahun. Merasa tidak puas, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia medis dan mencari dunia baru dan mencari minatnya akan dunia teknologi.

Sejak terjerumus masuk dunia teknologi, mantan dokter bedah plastik tersebut mulai mengenal Bitcoin pada 2012 dan langsung memikat perhatiannya.

Devasini memandang Bitcoin tak hanya sekadar mata uang digital, melainkan sebuah terobosan besar yang bisa mengubah cara dunia memandang sistem keuangan. Dari sana pula ia menyadari masa depanya berada di industri kripto.

Akhir 2012, Devasini bertemu Raphael Nicolle yang baru membangun Bitfinex. Alhasil keduanya sepakan untuk menjadi mitra, hingga 2013, nama Devasini resmi menjadi Chief Financial Officer (CFO) di Bitfinex.

Tak hanya mengelola keuangan, ia juga dipercaya untuk ikut merancang pondasi nilai tukar kripto alias crypto exchange untuk bisa bertahan dan berkembang di tengah regulasi keuangan global dan perbankan.

Dalam proses tersebut, Devasini berhasil membangun hubingan dengan bank, hingga mengantarkan Bitfinex sebagai salah satu bursa kripto terbesar di dunia.

Setelah sukses membangun Bitfinex, Devasini melangkah lebih jauh dengan mendirikanTetherpada 2014 dan menghadirkan stablecoin USDT yang dipatok senilai dolar AS. Uang kripto satu ini hadir dengan tujuan sebagai jembatan antara sistem keuangan tradisional dan industri kripto.

Kehadiran Tether di pasar kripto turut menjadi solusi bagi investor yang menekan flutuasi harga saat berinvetasi kripto. Kini, Tether berkembang dan menjadi stablecoin terbesar di dunia denga kapitalisasi di atas US$100 miliar per April 2025, menurut Bloomberg.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |