Harga Ponsel Baru Meroket, Pakar Prediksi Konsumen Beralih ke HP Ini

8 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Kenaikan harga smartphone yang terjadi di berbagai segmen berpotensi mengubah pola konsumsi konsumen di Indonesia. Jika tren ini terus berlanjut, konsumen diperkirakan bakal lebih berhati-hati dalam membeli gawai baru, bahkan menunda mengganti ponsel mereka.

Awal tahun 2026, sejumlah pabrikan HP menaikkan harga produk-produk terbaru mereka. Hal ini dilakukan untuk mengakali krisis chip (RAM) global yang terjadi sejak akhir 2025 lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan kenaikan harga yang signifikan tak hanya berdampak pada ponsel, tetapi gawai lain seperti laptop.

Kenaikan harga ini berpotensi mengubah membuat masyarakat menunda untuk mengganti ponsel baru atau beralih ke opsi lebih ekonomis seperti HP bekas.

"Harga ponsel baru meningkat maka untuk mengikuti kebutuhan dan life style maka biasanya konsumen beralih ke pasar bekas dengan beli Hp bekas atau menunda ganti HP," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (5/3).

Menurut Esther, ⁠jika kenaikan harga HP terus terjadi sementara pendapatan masyarakat turun, maka masyarakat akan lebih memprioritaskan pengeluaran kebutuhan pokok daripada kebutuhan tersier seperti membeli smartphone. Alhasil, angka penjualan smartphone dinilai akan merosot.

"Karena harga barang naik, sementara pendapatan riil turun maka kemungkinan permintaan terhadap barang juga berkurang," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menyoroti perbedaan pola konsumsi di segmen flagship dan low-end.

Ia menyebut pasar flagship menjadi salah satu yang terdampak kenaikan harga signifikan, padahal pasar ini tengah berkembang berkat pesatnya akselerasi teknologi.

Nailul menyoroti sederet merek yang merilis produk flagship di awal 2026, seperti Xiaomi, Apple, Samsung, hingga Huawei.

"Jadi untuk high-end nampaknya meningkat peminatnya. Dengan meningkatnya minat high-end ponsel, juga akan meningkatkan pasar barang bekas untuk ponsel high-end," ujar Nailul, Kamis (5/3).

"Biasanya pasarnya merupakan orang-orang kelas menengah yang ingin update perangkat. Pasar ini sudah berkembang melalui berbagai platform media sosial," imbuhnya.

Sementara di pasar low-end, ia memprediksi adanya penurunan spesifikasi dibandingkan dengan pembaruan di tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, pasar ini akan memberikan spesifikasi serupa di generasi baru, tetapi dengan kenaikan harga.

"Pasar low-end akan cenderung kualitas serupa, namun harganya yang meningkat dengan model yang berbeda. Jadi nampaknya akan keluar model baru dengan spec yang sama dengan harga yang meningkat," terangnya.

Meski demikian, Nailul memperkirakan pasar di segmen ini akan tetap besar di Indonesia, terutama di daerah luar Jabodetabek.

Sebelumnya, sejumlah ponsel yang dirilis di 2026 kompak mengalami kenaikan harga dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Kenaikan harga ini terjadi di semua segmen, mulai dari entry-level hingga flagship. Kenaikan harga sendiri bervariasi mulai dari 10 persen hingga 25 persen.

Sebagai contoh, segmen entry-level dan midrange seperti Xiaomi Redmi Note 15 Series dan Oppo Reno 15 Series mengalami kenaikan harga mulai dari Rp20" ribu hingga Rp700 ribu.

Sedangkan lini flagship seperti Samsung Galaxy S26 Series dan Xiaomi 17 Series mengalamj kenaikan harga antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

(lom/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |