CNN Indonesia
Minggu, 15 Mar 2026 09:20 WIB
Masjid Jami' Tua Palopo di Sulawesi Selatan. (Rachmat Ariadi/detikSulsel)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejarah panjang penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan (Sulsel) tak lepas dari kehadiran satu bangunan ini. Menjadi saksi bisu yang merekam jejak perkembangan Islam di Tana Luwu sejak 422 tahun lalu, Masjid Jami Tua Palopo jadi masjid tertua yang ada di Sulsel.
Hingga hari ini, Masjid Jami berdiri di jantung Kota Palopo, tepatnya di Jalan Andi Djemma, Batupasi, Wara Utara, lokasi masjid persis berada di seberang Istana Kedatuan Luwu. Karena merekam jejak sejarah, kini Masjid Jami Tua Palopo ditetapkan sebagai cagar budaya.
Asal-muasal masjid ini bermula dari tahun 1604 Masehi. Pada tahun itu, di bawah pemerintahan Datu Luwu ke-16, Pati Pasaung membangun masjid tersebut. Pembangunan Masjid Jami ini secara resmi menandakan Islam diterima di Tana Luwu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara resmi Islam diterima di Luwu itu dengan adanya Masjid Jami. Masjid ini dibangun oleh Datu Luwu ke-16 Pati Pasaung tahun 1604," kata pemangku adat Kedatuan Luwu, Maddika Bua Andi Syaifuddin Kaddiraja, melansir Detik.
Pada zaman itu, pusat kerajaan Luwu dipindahkan dari Pattimang Malangke ke Palopo. Hal ini karena adanya perang saudara di antara petinggi Luwu. Palopo yang dinilai sebagai wilayah netral di tengah gejolak konflik tersebut, sehingga pusat kerajaan digeser ke sana.
"Awalnya pusat kerajaan itu berada di Pattimang, karena konflik perang dua bersaudara yakni Pati Raja dan Pati Pasaung. Nah untuk menghilangkan ada kalah menang, maka pusat kerajaan dipindahkan ke tempat netral, bernama Palopo yang dulu namanya To Uwe yang berarti pohon rotan," cerita Maddika.
Kemudian setelahnya Datu Luwu ke-16 alias Pati Pasaung memberi mandat pembangunan Masjid Jami Tua Palopo di sana. Sebenarnya, pertama kali ajaran Islam masuk ke Luwu adalah pada abad ke-16 ketika pemerintahan Datu Luwu ke-15, La Patiware.
Penyebaran agama Islam ini dibawa tiga orang ulama dari tanah Minangkabau yang saat itu berlabuh di Luwu. Datok Sulaiman yang bergelar Khatib Sulung (biasa disebut Datuk Patimang), Abdul Makmur yang bergelar Khatib Tunggal (biasa disebut Datuk ri Bandang), serta Abdul Jawad yang bergelar Khatib Bungsu (biasa disebut Datuk ri Tiro).
Sejak Datu La Patiware resmi memeluk agama Islam, kemudian segelintir petinggi kerajaan jadi mengikuti jejaknya dengan masuk ke agama Islam. Tak terkecuali Pati Pasaung yang merupakan Datu Luwu ke-16. Mulai dari sini, masyarakat Luwu mulai diperkenalkan dengan Islam.
Datu Luwu menargetkan penyebaran Islam di masyarakat bisa berjalan dengan masif, oleh karena itu ia membangun Masjid Tua Jami. Masjid ini akan menjadi rumah ibadah sekaligus pusat penyebaran Islam.
Istana Kedatuan Langkanae Luwu juga dibangun dengan terhubung langsung ke Masjid Tua Jami. Dulu ketika Datu Luwu ingin salat, ia bisa langsung ke masjid melalui anak tangga, tetapi sekarang akses ini sudah tidak ada karena dihancurkan di masa kolonial.
"Datu Luwu saat itu memerintahkan untuk membangun Masjid Jami dan istana Kedatuan Langkanae Luwu. Tangga Langkanae sebenarnya langsung bersambung dengan Masjid Jami, sehingga saat Datu hendak salat langsung ke Masjid. Tetapi pada zaman Belanda tangga Langkanae yang menuju masjid itu dibongkar sehingga ada jarak," jelasnya.
Sebagai saksi bisu yang merekam jejak sejarah panjang penyebaran Islam di Tana Luwu, keberadaan Masjid Tua Jami masih terus dijaga meskipun kini usianya menyentuh empat abad. Mulai dari keaslian bentuk bangunannya hingga tekstur yang menempel di masjid ini tidak ada yang berubah sejak pertama kali ia dibangun 422 tahun lalu.
"Ini merupakan masjid tertua di Sulsel dan bangunannya sama sekali tidak pernah berubah, karena ini saksi sejarah penyebaran Islam di tanah Luwu," kata pengurus Masjid Tua Jami Palopo, Usman Abdul Malla.
Di masa kini, Masjid Tua Jami menjadi salah satu destinasi wisata religi favorit khususnya di Kota Palopo. Selain beribadah, banyak wisatawan yang datang untuk belajar bagaimana sejarah perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.
(ana/wiw)
Add
as a preferred source on Google


















































