Hitung-hitungan Purbaya, Bertaruh Harga Minyak Tak Akan US$200/Barel

6 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim harga minyak dunia tidak akan menyentuh US$200 per barel.

Pernyataan tersebut muncul untuk merespons proyeksi berbagai ekonom global, terkait peluang harga minyak dunia tembus level US$200 per barel.

"Saya tunjukin, 2013 kalau enggak sala mereka (ekonom) bilang juga sama, harga minyak akan naik US$200 per barel. Naik sampai US$150 habis itu jatuh," jelas Purbaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia juga menjawab alasan harga tersebut kemudian jatuh, yakni lantaran ekonomi dunia tidak bisa menyesuaikan diri dengan harga tinggi tersebut. Alhasil, terjadi resesi yang menyebabkan demand atau permintaan turun, sehingga mau tak mau harga akan kembali turun.

"Jadi kalau US$200 per barel saya bilang, ya paling mungkin sebentar, satu menit, dua menit, habis itu jatuh lagi. Ketika jatuh, ini akan jatuh ke bawah," paparnya.

Purbaya menekankan pentingnya untuk memahami siklus pergerakan harga minyak dunia. Di mana, ketika harga bisa naik tinggi maka yang menjadi pertanyaan, siapa yang akan membeli.

"Enggak akan US$200 per barel (harga minyak). Tenang aja, kalau US$200 per barel, resesi global akan terjadi, kalau terjadi demand turun kan? Demand turun, collapse, harga minyak jatuh tajam sekali, bisa ke bawah US$15 per barel, kalau mereka enggak hati-hati," beber Purbaya.

Bendahara RI juga berandai, jika harga minyak tembus US$200 per barel pemerintah akan menyesuaikan anggaran sesuai keadaan. Namun, dia meyakini kondisi tersebut tidak akan terjadi, berkaca dari pengalaman 2013-2014.

"Saya bertaruh sama orang di depan umum, mereka bilang US$200 per barel, saya bilang enggak, (harga minyak) US$ 150 per barel habis itu jatuh," tegasnya.

Purbaya juga tak terlalu ambil pusing soal harga minyak dunia yang saat ini sudah tembus US$100 per barel. Menurutnya, level tersebut sudah masuk dalam perhitungan pemerintah, sehingga aktivitas belanja negara masih berlangsung.

"Harga minyak 116 aja masih tenang-tenang aja kan?" ujar Purbaya di Istana Negara, Kamis (19/3).

Dia mengungkapkan, peluang defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpeluang tembus level 3 persen saat harga minyak rata-rata di kisaran US$100 per barel. Namun, risiko tersebut bisa diimbangi melalui upaya-upaya untuk memastikan defisit terjaga.

Hal itu mengacu pada subsidi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sudah diatur dan dihitung selama setahun penuh. Meskipun dengan harga minyak dunia saat ini, Purbaya tekankan pihaknya sudah mengasumsikan dampaknya ke APBN.

Di samping itu,pemerintah akan melakukan langkah-langkah, semisal penghematan, peningkatan pendapatan, agar APBN tetap aman. Dia mengklaim sampai saat ini hitungan tersebut masih aman.

"Dan kita juga ada windfall profit kan. Kita akan maksimalkan windfall profit juga. Jadi, seharusnya enggak ada masalah," katanya.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |