Jakarta, CNN Indonesia --
Transformasi digital di sektor pertambangan Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih maju. PT FreeportIndonesia (PTFI) menjadi salah satu pelaku utama yang mendorong perubahan tersebut melalui penerapan teknologi smart mining, sistem operasi jarak jauh, dan inovasi pemanfaatan sisa tambang (tailing) menjadi sumber daya bernilai.
Langkah inovatif itu tidak hanya memperkuat efisiensi dan keselamatan kerja, tetapi juga menegaskan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan industri tambang nasional.
Konsep smart mining yang diterapkan PTFI berangkat dari kebutuhan untuk meningkatkan keselamatan dan produktivitas kerja di area tambang bawah tanah Grasberg, Mimika, Papua Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam diskusi yang digelar pada peringatan Bulan K3 Nasional beberapa waktu lalu, EVP Site Operations dan Kepala Teknik Tambang PTFI, Carl Tauran, menjelaskan bahwa penerapan sistem digital menjadi langkah penting menuju pertambangan modern.
"PTFI akan terus menjadi salah satu pemimpin inovasi pertambangan di dalam negeri, tidak hanya untuk menomorsatukan keselamatan kerja karyawan, namun juga untuk meningkatkan produktivitas perusahaan," ujarnya seperti dikutip dari laman resmi PTFI.
Melalui konsep ini, PTFI mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI), Internet untuk Segala (IoT), dan mahadata (big data) untuk mendukung efisiensi dan pengawasan operasi tambang.
Salah satu implementasinya adalah penggunaan jaringan 5G Smart Mining, yang diluncurkan pada 2022 dan menjadi yang pertama di Asia Tenggara.
Melalui sistem ini, alat berat dan kendaraan tambang dapat dikendalikan dari pusat kendali di permukaan menggunakan jaringan berkecepatan tinggi, sehingga operator dapat bekerja lebih aman dan efisien.
Peresmian teknologi tersebut dilakukan langsung oleh Presiden RI ketujuh, Joko Widodo, yang menilai langkah PTFI sebagai lompatan penting bagi industri tambang nasional.
Teknologi digital juga menjadi solusi bagi tantangan keselamatan di tambang bawah tanah.
Senior Vice President Underground Mine PTFI, Hengky Rumbino, menjelaskan bahwa risiko seperti runtuhan terowongan, paparan gas beracun, atau semburan lumpur menjadi alasan utama perusahaan menerapkan sistem kendali jarak jauh.
"Pertimbangan utama operasi produksi jarak jauh ini adalah keselamatan kerja. Dengan sistem kendali dari permukaan, risiko di bawah tanah dapat diminimalkan tanpa menurunkan produktivitas," ujar dia.
Saat ini, PTFI mengelola tiga tambang bawah tanah utama, Deep Mill Level Zone (DMLZ), Grasberg BlockCave (GBC), dan Big Gossan, yang seluruhnya dioperasikan menggunakan sistem digital terintegrasi.
Operator di ruang kontrol memantau pergerakan alat berat melalui layar beresolusi tinggi, sementara komunikasi antara alat dan sistem pusat dijalankan lewat jaringan serat optik.
Penerapan sistem ini juga membuka ruang bagi peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal. Sebagian besar operator sistem kendali jarak jauh berasal dari tanah Papua, termasuk generasi muda yang dilatih melalui Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN).
Selain berfokus pada efisiensi dan keselamatan, Freeportjuga mengembangkan inovasi di bidang lingkungan melalui pengolahan pasir sisa tambang (tailing).
Sejak renegosiasi kontrak karya pada 2018, perusahaan diwajibkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengoptimalkan pemanfaatan tailingsebagai material yang bernilai.
Project Manager Tailings Utilization PTFI, Harry Joharsyah, menyebut bahwa program ini telah menghasilkan sejumlah capaian konkret.
"Selepas renegosiasi kontrak, kami mengembangkan roadmap pemanfaatan tailing. Hasilnya, tailing kini dapat diolah menjadi material beton pracetak dan aspal filler, yang digunakan untuk infrastruktur di area kerja PTFI," jelasnya.
Hingga saat ini, hasil olahan tailing digunakan untuk membangun fasilitas internal seperti jalan, jembatan, area parkir, serta infrastruktur publik di sekitar Mimika. PTFI juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi, seperti ITB, ITS, dan Universitas Cendrawasih, untuk memperkuat riset dan pengembangan teknologi pemanfaatan tailing.
"Kami ingin membuktikan bahwa sisa tambang bukan limbah, tapi sumber daya baru. Bahkan sudah banyak pihak luar Papua yang tertarik memanfaatkan produk ini," tambah Harry.
Uji toksisitas dan studi ekologis yang dilakukan PTFI bersama lembaga independen menunjukkan bahwa pasir sisa tambang tersebut tidak tergolong limbah berbahaya dan dapat digunakan secara aman.
Transformasi digital dan inovasi lingkungan yang dilakukan Freeport memperlihatkan arah baru bagi industri tambang Indonesia, dengan mengutamakan keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan.
Bagi Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, inovasi tersebut tidak hanya soal efisiensi bisnis, melainkan juga kontribusi untuk bangsa.
"Tambang masa depan adalah tambang yang cerdas, aman, dan bertanggung jawab. Kami ingin menjadi bukti bahwa pertambangan modern bisa sejalan dengan keberlanjutan," tuturnya dalam keterangan tertulis.
Melalui transformasi teknologi dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, Freeport Indonesia menunjukkan bahwa inovasi dapat menjadi kunci keseimbangan antara produktivitas, keselamatan, dan tanggung jawab sosial.
Upaya ini memperlihatkan bahwa pertambangan tidak lagi sekadar aktivitas ekstraksi, tetapi bagian dari ekosistem ekonomi yang berorientasi pada efisiensi, keselamatan, dan masa depan hijau industri. (ory/ory)

















































