Jemaah Haji Asal Jatim Wafat di Pesawat saat Perjalanan Pulang ke RI

3 hours ago 5

Surabaya, CNN Indonesia --

Kepulangan jemaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 12 asal Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), ke Tanah Air diselimuti duka. Dua jemaah dilaporkan meninggal dunia secara berurutan dalam hitungan jam saat perjalanan di pesawat dan di bus, Kamis (4/6).

Peristiwa duka tersebut dimulai saat rombongan Kloter 12 masih berada di udara menggunakan pesawat terbang menuju Indonesia. Sekitar 30 menit sebelum mendarat di Bandara Internasional Juanda Surabaya, seorang jemaah laki-laki berusia 70 tahun dilaporkan mengembuskan napas terakhirnya di dalam pesawat.

Berdasarkan keterangan petugas, jemaah yang memiliki riwayat penyakit jantung tersebut ditemukan dalam kondisi lemas saat di pesawat. Tim medis sudah melakukan pertolongan, namun yang bersangkutan tak tertolong. Dugaan penyebab kematiannya ialah serangan jantung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah pesawat mendarat di Bandara Internasional Juanda, sekitar 1,5 jam setelah insiden pertama, masih dari Kloter 12, seorang jemaah perempuan berusia sekitar 58 tahun asal Kota Malang dilaporkan meninggal dunia saat berada di dalam bus yang tengah mengangkut jemaah dari Bandara Juanda menuju AHES.

Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya sekaligus Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), Rosidi Roslan, mengonfirmasi kejadian tersebut. Rosidi menyatakan indikasi awal penyebab meninggalnya kedua jemaah itu adalah akibat serangan jantung.

"Ya memang pada waktu di pesawat ya dan di bus itu kan indikasinya jantung. Serangan jantung," kata Rosidi.

Saat ini kedua jemaah haji asal Malang yang wafat itu dibawa ke RSUD Haji Jawa Timur sebelum diserahkan ke keluarganya masing-masing. Rosidi pun menyampaikan duka yang mendalam akibat meninggalnya para jemaah haji tersebut.

Lebih lanjut, Rosidi membeberkan Saat ini total jemaah haji asal Debarkasi Surabaya yang wafat hingga hari keempat fase pemulangan berjumlah 49 orang. Ia menyebut mayoritas kematian jemaah terjadi akibat komplikasi penyakit bawaan saat di Arab Saudi, disusul insiden di pesawat dan di dalam bus debarkasi.

"Ya, sampai saat ini di hari Kamis hari ke empat ya sudah beberapa kloter ya, ada beberapa jemaah yang meninggal, 49 jemaah. Yang wafatnya itu ada yang di pesawat satu orang. Ada juga yang sudah landing kemudian di dalam perjalanan menuju AHES ya meninggal di bus ya. Kemudian ada 47 orang wafat di Arab Saudi," ucapnya.

Ia mengatakan, penyakit bawaan jemaah seperti hipertensi dan gangguan jantung jadi penyebab paling banyak ditemui. Komorbid itu dinilai sering kambuh akibat akumulasi kelelahan.

Pasalnya, kata Rosidi, ibadah haji yang menguras energi fisik secara beruntun serta perubahan iklim yang drastis menjadi pemicu utama ambruknya ketahanan tubuh jemaah.

"Kemudian ada beberapa orang yang wafat di Arab Saudi itu kebanyakan ya memang penyakit-penyakit yang bawaan gitu ya. Ada hipertensi, ada jantung," ucapnya.

Kesehatan jemaah sebenarnya sudah diuji melalui syarat istithaah sebelum mereka berangkat, proses penetapan itu dilakukan di tingkat kabupaten dan diklaimnya sudah sesuai prosedur.

Pihak PPIH Debarkasi Surabaya juga menekankan panduan pemeriksaan medis bagi petugas yang mengacu pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan (SK Menkes) sudah sangat ketat dan tercatat secara sistematis.

Kendati demikian, persentase jemaah dengan status risiko tinggi (risti) yang tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya masih mendominasi setiap kloternya.

Menurut Rosidi, panjangnya jeda waktu tunggu keberangkatan hingga kelelahan fisik selama perjalanan dinilai memicu munculnya penyakit-penyakit tersebut.

"Kita tahu haji itu ibadah fisik jadi dari sisi fisik ya kesehatan itu sangat diperlukan. Nah, pada waktu di Kabupaten itu ditetapkanlah istithaah kesehatan," ujarnya.

"Kadang-kadang penyakit itu muncul ketika ada pemicu gitu ya, misalnya ketika menuju ke embarkasi ya, mungkin kelelahan ya, itu akan memicu penyakit penyakit yang sebelumnya tidak muncul pada waktu apa pemeriksaan penetapan istitaah," tambahnya.

Berdasarkan catatan tim medis, titik kritis kelelahan fisik jemaah haji hingga memicu kematian di Arab Saudi umumnya terjadi pasca-melewati puncak prosesi Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Risiko ini melonjak berkali-kali lipat bagi jemaah lanjut usia yang memiliki komorbid.

"Kemudian meninggal di Arab Saudi ya salah satunya juga karena dia sudah berusia, kemudian ibadah fisik ya haji ini, ya kemampuan dari sisi itu, sehingga mungkin kelelahan itu pemicunya, cuaca- cuacanya juga iklimnya, juga itu sangat mempengaruhi," ucapnya.

Rosidi kembali mengingatkan jemaah haji lansia di atas 65 tahun yang membawa penyakit penyerta untuk ekstra waspada. Ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan cuaca ekstrem serta kelelahan fisik yang dipaksakan menjadi faktor paling fatal.

(frd/dal)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |