CNN Indonesia
Selasa, 14 Apr 2026 12:15 WIB
Festival Songkran di Thailand, festival air terbesar dunia. (AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kemeriahan Songkran, festival tahun baru tradisional Thailand yang dikenal sebagai perang air terbesar di dunia, terancam meredup tahun ini.
Lonjakan harga kebutuhan pokok akibat perang Iran yang diawali serangan Amerika Serikat-Israel, mulai memukul daya beli warga dan menurunkan ekspektasi perputaran uang selama perayaan pekan depan.
Festival yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari mulai Senin (13/4) ini biasanya menjadi magnet utama bagi turis mancanegara. Namun, survei menunjukkan antusiasme belanja masyarakat justru melambat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thanavath Phonvichai, Presiden Universitas Kamar Dagang Thailand (UTCC), memproyeksikan pengeluaran selama Songkran akan turun untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 berakhir.
Pengeluaran diperkirakan merosot 3,7 persen menjadi sekitar 130 miliar baht (setara Rp55,8 triliun). Data universitas menunjukkan 36 persen responden berencana memangkas pengeluaran mereka tahun ini.
Polling terpisah dari Suan Dusit Poll terhadap 1.272 responden menemukan bahwa 51,42 persen warga memilih absen dari kegiatan festival demi menghemat uang.
Songkran biasanya menjadi momen bagi warga Bangkok untuk pulang ke kampung halaman. Namun, tingginya biaya transportasi dan beban hidup membuat banyak orang memilih tetap tinggal di ibu kota.
"Biaya transportasi terlalu mahal, perjalanan jadi tidak memungkinkan," ujar Yuparat Kheowsakhu, salah satu warga Bangkok, seperti dilansir Reuters. "Saya tinggal di sekitar Sukhumvit, jadi saya akan merayakan Songkran di sana saja," sambungnya.
Lesunya pasar juga dirasakan langsung oleh para pedagang di Pasar Sampeng, pusat grosir terbesar di kawasan Chinatown Bangkok. Penjualan atribut khas Songkran seperti pistol air dilaporkan anjlok drastis.
"Penjualan kami turun sekitar setengahnya dibandingkan tahun lalu," ungkap Saran Keavvichai, seorang vendor pistol air. "Tahun lalu jauh lebih baik. Sekarang kami mengurangi stok karena pedagang eceran takut berinvestasi untuk menjual kembali barang-barang ini," tambah dia.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google

















































