Kisah Mordechai Vanunu, Pembongkar Program Bom Nuklir Israel

7 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Israel tak pernah mengakui memiliki program senjata nuklir.

Negara zionis ini selalu menuding Iran, musuh bebuyutannya, sebagai negara yang harus diserang karena mengembangkan nuklir. Namun peristiwa pada 1986, rahasia Israel yang lama ditutup rapat sejaka negara itu merdeka 1948, terbongkar sudah.

Lewat mulut Mordechai Vanunu, Yahudi kelahiran Maroko 1954 itu, mengungkapkan semua program nuklir Israel di kawasan Dimona. Pengakuan Mordechai bukan saja valid, tapi juga berbahaya bagi Israel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana tidak? Mordechai adalah teknisi yang bekerja di pusat penelitian nuklir rahasia Dimona di gurun Negev, sekitar 150 km selatan Yerusalem melalui jalan darat.

Kelelahan mental yang membuatnya harus rela keluar dari pekerjaan tersebut lalu memilih jalan yang biasa ditempuh anak muda seusianya waktu itu, keliling Asia dan Australia sebagai turis backpacker pada 1985. Dalam ransel bututnya, dia menyelipkan dua rol film berisi gambar-gambar pembangkit listrik tenaga nuklir tempat dia bekerja, termasuk peralatan untuk mengekstraksi bahan radioaktif untuk produksi senjata dan model laboratorium perangkat termonuklir.

Dalam perjalanannya, dia singgah di sebuah gereja di Sydney Australia. Bukan sekadar singgah untuk istirahat, tapi juga menemukan ketenangan batin bersama komunitas jemaat gereja Anglikan di sana.

Di Sydney, ia memeluk agama Kristen dan dibaptis pada Juli 1986. Persahabatan dan kehangatan dalam jemaat gereja membuatnya sedikit membocorkan masa lalunya. Tak banyak yang tertarik atau curiga bahwa lelaki kurus dengan bahasa Inggris terbata-bata ini pernah bekerja di sebuah reaktor nuklir paling berbahaya dan tertutup di dunia.

Hingga seorang jemaat yang kebetulan wartawan lepas asal Kolombia tertarik dengan foto-foto hitam putih yang dimiliki Mordechai. Dia pun mengirim sebagian foto-foto itu ke London Sunday Times Inggris. Koran yang berbasis di kota London itu pun antusias. Mereka mengirimkan seorang wartawannya, Peter Hounam, untuk sengaja menemui Mordechai.

"Ketika saya melihat Vanunu berdiri di sana-seorang pria kecil, bertubuh mungil, sedikit botak, tidak percaya diri, berpakaian sangat kasual-dia jelas tidak terlihat seperti seorang ilmuwan nuklir," kenang Hounam kepada BBC. Setelah foto didapat, tim surat kabar meminta bantuan para ahli nuklir di Inggris untuk memverifikasi kebenaran foto-foto itu.

Singkat cerita, London Sunday Times menerbitkan foto-foto tersebut beserta detail tentang kemampuan nuklir Israel, pada 26 Oktober 1986. Dunia terbelalak, Israel memiliki senjata pemusnah masal yang paling ditakuti umat manusia itu. Surat kabar itu menyimpulkan, Israel telah menjadi kekuatan nuklir keenam di dunia dan memiliki sebanyak 200 hulu ledak atom, jauh kalah jumlah dibandingkan musuh-musuhnya.

Terungkap pula, Israel membuat kesepakatan rahasia dengan Prancis untuk membangun fasilitas nuklir Dimona, yang diperkirakan mulai berproduksi untuk membuat bahan baku senjata nuklir pada 1960-an. Namun selama bertahun-tahun, Israel mengklaim bahwa situs itu adalah pabrik tekstil.

Inspektur AS mengunjungi lokasi tersebut beberapa kali pada 1960-an, namun dilaporkan tidak menyadari adanya fasilitas di bawah tanah karena poros lift dan pintu masuk telah ditutup bata dan diplester.

"Kami tegang, kami kelelahan, sebagian besar orang di sana belum pernah membuat cerita sebesar ini," kata Peter Hounam.

Namun setelah penerbitan itu, nasib Mordechai kini dalam bahaya. London Sunday Times membawa narasumber utama ini ke London.

"Ia mulai menguraikan kisah yang sangat menarik tentang bagaimana ia menyelundupkan kamera tanpa film apa pun, dan kemudian pada tahap selanjutnya ia menyelundupkan film di dalam kaus kakinya dan kemudian mulai mengambil beberapa foto secara diam-diam pada larut malam dan dini hari," kata Hounam.

The Sunday Times menempatkannya di sebuah hotel pedesaan terpencil di luar London. Tetapi Vanunu kemudian merasa gelisah dan dipindahkan ke hotel London, saat itulah kejadian tak terduga terjadi. Agen Mossad memburunya. Dia dijebak lewat seorang perempuan Cheryl Bentov, yang menyamar sebagai turis.

Awalnya Mordechai dan sang gadis hanya ingin bersenang-senang.

"Saya hanya akan pergi selama beberapa hari ke utara Inggris, saya akan baik-baik saja," itulah pesannya yang terakhir kepada Hounam sebelum menghilang.

Dijebak Mossad

Tanpa sadar, mantan pegawai nuklir ini sudah dijebak. Jebakan klasik dengan memanfaatkan gadis cantik untuk kemudian diringkus tanpa daya. Sebulan kemudian, tepatnya Oktober 1986, Mordechai sudah berada di Roma di bawah pengawasan intelijen Israel untuk kemudian kembali dibawa ke negara asalnya.

Mordecahi kemudian diadili pada Maret 1987 atas tuduhan pengkhianatan dan spionase serta dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Lebih dari separuh masa hukumannya dihabiskan di sel isolasi ukuran 3 meter kali 2 meter.

"Saya ingin memberi tahu dunia tentang apa yang tengah terjadi. Ini bukan pengkhianatan, ini adalah upaya memberi informasi kepada dunia, tidak seperti kebijakan Israel," katanya dalam rekaman wawancara di penjara. Dia dibebaskan pada 21 April 2004 dan sejak itu ditolak izinnya untuk meninggalkan Israel.

Sejak itu, ia telah dikembalikan ke penjara beberapa kali karena melanggar ketentuan pembebasan atau pembebasan bersyaratnya. Sebelum kembali dijebloskan ke penjara pada 2009, ia masih sempat berteriak,

"Kalian tidak mendapatkan apa pun dari saya selama 18 tahun; kalian tidak akan mendapatkan apa pun dalam tiga bulan. Malu kalian, Israel."

Bersambung ke halaman berikutnya...

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Entertainment |