Konflik Iran vs AS-Israel Memanas, Purbaya Beber Efeknya ke Ekonomi RI

3 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran berpotensi memberi tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Tekanan itu bisa berasal dari berbagai jalur.

Pemerintah, sambung Purbaya, terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah tersebut karena dampaknya dapat merambat ke dalam negeri melalui perdagangan, pasar keuangan, hingga kondisi fiskal.

"Bagi Indonesia dampaknya ditransmisikan dari beberapa jalur yang harus kita waspadai," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Rabu (11/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purbaya menjelaskan jalur pertama berasal dari sektor perdagangan, khususnya melalui kenaikan harga komoditas energi akibat konflik yang berpotensi mengganggu jalur distribusi global seperti Selat Hormuz.

Menurutnya, lonjakan harga minyak dapat meningkatkan beban impor migas Indonesia dan pada akhirnya menekan surplus neraca perdagangan maupun neraca pembayaran.

"Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor migas dan menekan surplus neraca perdagangan dan neraca pembayaran," ujarnya.

Jalur kedua berasal dari pasar keuangan global. Purbaya menilai ketegangan geopolitik dapat meningkatkan ketidakpastian yang mendorong investor global mengambil sikap risk off atau menarik dana dari negara berkembang.

Kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar domestik dan memberi tekanan terhadap berbagai instrumen keuangan.

"Ketidakpastian global dapat memicu capital outflow, tekanan pada pasar saham, obligasi, dan nilai tukar rupiah, serta dapat meningkatkan cost of fund," kata Purbaya.

Selanjutnya, jalur ketiga berasal dari sisi fiskal. Ia menjelaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus berperan sebagai peredam gejolak ekonomi atau shock absorber di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Meski demikian, ia mengakui konflik tersebut juga dapat meningkatkan potensi beban negara, terutama jika harga energi melonjak.

"APBN berperan sebagai shock absorber meski menghadapi potensi kenaikan subsidi energi dan beban bunga utang, di tengah peluang windfall profit dari komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel," terangnya.

Konflik di Timur Tengah memanas setelah Iran diserang AS-Israel sejak 28 Februari lalu. Salah satu respons Iran adalah menutup Selat Hormuz.

Padahal, jalur selebar 33 kilometer ini bertanggung jawab atas lalu lintas 20 persen minyak mentah dunia dan gas alam cair

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr)

Read Entire Article
Entertainment |