CNN Indonesia
Selasa, 31 Mar 2026 20:15 WIB
Ilustrasi. Law of attraction alias hukum tarik-menarik tidak sekadar berpikir kemudian apa yang dipikirkan akan terjadi. Lantas, bagaimana cara menerapkannya? (VIVIT MUFIDAH)
Jakarta, CNN Indonesia --
Istilah law of attraction atau hukum tarik-menarik yang belakangan ini semakin sering dibahas, terutama di media sosial, buku motivasi, hingga film. Konsep ini kerap dikaitkan dengan gagasan sederhana, apa yang kita pikirkan bisa memengaruhi apa yang terjadi dalam hidup. Namun, sebenarnya apa itu law of attraction?
Benarkah pikiran bisa menarik realitas? Sederhananya, law of attraction adalah keyakinan bahwa hal yang kita pikirkan dan rasakan akan menarik hal serupa dalam kehidupan. Prinsipnya dikenal dengan istilah like attracts like atau hal yang serupa akan saling menarik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini berarti ketika seseorang sering berpikir positif, ia diyakini akan lebih mudah menarik pengalaman yang positif. Sebaliknya, pikiran negatif disebut-sebut bisa membawa hal yang kurang baik.
Konsep ini bukan hal baru. Mengutip penelitian dari University of Metaphysics, gagasan tentang kekuatan pikiran sudah lama dikenal dalam tradisi metafisika dan berkembang sejak gerakan New Thought di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.
Dalam buku 'Ask and It Is Given', Esther dan Jerry Hicks juga menjelaskan bahwa setiap pikiran dianggap seperti sinyal yang dikirim ke semesta, lalu akan kembali dalam bentuk pengalaman yang sejalan.
Meski terdengar abstrak, banyak orang mengaitkan konsep ini dengan hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saat seseorang punya tujuan yang jelas, misal, lalu terus memikirkannya, ia cenderung lebih fokus, lebih percaya diri, dan lebih berani mengambil peluang.
Beberapa penelitian mencoba melihat konsep ini dari sisi psikologis. Salah satunya yang diterbitkan dalam jurnal The Law of Attraction: Positive Thinking and Level of Gratitude towards Happiness.
Hasilnya menunjukkan bahwa pola pikir positif dan rasa syukur berkaitan dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Orang yang dilatih untuk berpikir lebih positif dan bersyukur cenderung merasa lebih bahagia dibandingkan yang tidak.
Hal ini menunjukkan, walau pun belum ada bukti ilmiah kuat bahwa pikiran bisa menarik kejadian secara langsung, cara kita berpikir memang berpengaruh pada cara kita menjalani hidup.
Bukan sekadar berpikir lalu terjadi
Yang perlu dipahami, law of attraction bukan berarti semua hal bisa terjadi hanya dengan berpikir. Banyak faktor lain yang tetap berperan, seperti usaha, lingkungan, dan kesempatan.
Dalam praktiknya, law of attraction sering diringkas dalam tiga langkah utama:
- Ask: menentukan keinginan atau tujuan
- Believe: meyakini bahwa hal tersebut bisa tercapai
- Receive: membuka diri terhadap hasil yang diharapkan
Oleh karena itu, law of attraction bisa dilihat bukan semata konsep magis, tetapi sebagai cara memahami hubungan antara pikiran, sikap, dan tindakan.
Pada akhirnya, kuncinya bukan hanya berharap, tetapi juga bergerak. Berpikir positif bisa menjadi awal, tetapi tetap perlu diiringi usaha nyata agar tujuan benar-benar tercapai.
(anm/els)
Add
as a preferred source on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440135/original/042410700_1765423920-IMG-20251210-WA0008.jpg)


















