Lebaran dan Kisah yang Terkubur di Benteng Pendem Cilacap

4 hours ago 2

CNN Indonesia

Rabu, 18 Mar 2026 08:10 WIB

Benteng Pendem di Cilacap menyimpan jejak kolonial unik di bawah tanah dan jadi destinasi menarik saat libur Lebaran. Ilustrasi. Benteng Pendem jadi salah satu destinasi wisata lebaran di Cilacap. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Jakarta, CNN Indonesia --

Di pesisir selatan Pulau Jawa, tepatnya di kawasan Cilacap, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan lebih dari sekadar cerita sejarah. Benteng Pendem menjadi saksi bisu strategi pertahanan kolonial yang hingga kini masih bisa ditelusuri, bahkan dari lorong-lorong gelap di bawah tanah.

Sekilas, benteng ini tampak sederhana, bahkan cenderung tersembunyi. Namun, di balik kontur tanah yang tampak biasa, tersimpan konstruksi kompleks yang dibangun pada masa Hindia Belanda.

Sub Koordinator Lapangan Benteng Pendem Cilacap, Aris, menyebut benteng ini didirikan pada rentang 1861 hingga 1879 sebagai bagian dari sistem pertahanan pesisir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nama 'Pendem' sendiri bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jawa, 'pendem' berarti ditimbun. Sesuai namanya, bangunan ini memang sengaja dikubur dengan tanah setelah selesai dibangun.

Teknik ini membuat benteng tampak seperti hilang dari permukaan, sekaligus berfungsi sebagai kamuflase dari serangan musuh.

Benteng ini dulunya berperan penting untuk mengawasi jalur laut menuju pelabuhan alami Cilacap, akses vital pada masa ketika transportasi laut menjadi urat nadi utama.

Letaknya yang menjorok ke laut, menyerupai lidah daratan, menjadikannya titik strategis untuk memantau pergerakan kapal.

Jejak dua penjajah dalam satu kawasan

Keunikan Benteng Pendem tidak hanya terletak pada posisinya yang 'tersembunyi', tetapi juga pada lapisan sejarah yang ditinggalkan dua bangsa, yakni Belanda dan Jepang.

Setelah lama terkubur, kawasan ini baru digali kembali pada 1986-1987. Dari proses itu, ditemukan sekitar 102 bangunan dengan karakter yang berbeda.

Peninggalan Belanda dibangun terlebih dahulu sebelum ditimbun tanah, menggunakan batu bata dengan berbagai ukuran dan warna, dari kuning hingga merah. Sementara itu, bangunan Jepang cenderung dibuat dengan cara menggali tanah lebih dulu, lalu membangun struktur dari beton.

Di dalamnya, terdapat berbagai fasilitas militer. Mulai dari barak prajurit, ruang logistik, hingga penjara berdinding tebal sekitar 2,5 meter. Penjara ini terdiri dari tiga ruangan yang mampu menampung hingga 30 orang, menghadirkan gambaran kerasnya kehidupan di masa lalu.

Salah satu bagian paling menarik adalah terowongan sepanjang kurang lebih 150 meter. Lorong ini dilengkapi ruang meriam dan beberapa akses keluar-masuk, termasuk jalur menuju laut untuk kondisi darurat.

Meski demikian, cerita tentang terowongan yang tembus hingga Nusakambangan hanyalah mitos yang berkembang di masyarakat.

Dengan luas sekitar 10,5 hektare, benteng ini kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional sejak 2010. Status tersebut menjadikannya salah satu situs bersejarah penting yang dilindungi negara.

Sepi saat Ramadhan, ramai saat Lebaran

Hari-hari biasa di Benteng Pendem cenderung tenang, terlebih selama bulan Ramadan. Dalam sehari, jumlah pengunjung bahkan bisa dihitung jari. Namun, suasana berubah drastis selepas IdulFitri.

Saat libur Lebaran, kawasan ini bisa dipadati 500 hingga 1.000 pengunjung per hari. Mayoritas datang dari wilayah sekitar seperti Banyumas dan Banjarnegara, namun tak sedikit pula pemudik dari kota besar seperti Jakarta yang menyempatkan diri singgah.

Beberapa sudut benteng menjadi favorit untuk berfoto, mulai dari mulut terowongan, barak tua, hingga area penjara yang sarat nuansa historis. Kehadiran rusa yang sesekali muncul di area benteng juga menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Kini, pengelolaan benteng dilakukan secara mandiri dari hasil penjualan tiket masuk seharga Rp7.500 per orang. Upaya perawatan dilakukan dengan hati-hati, termasuk menghindari penggunaan bahan kimia demi menjaga keaslian struktur.

Benteng ini dibuka setiap hari pukul 06.00 hingga 17.00 WIB. Bagi para pelintas jalur pantai selatan, tempat ini bisa menjadi persinggahan singkat yang bermakna, sebuah ruang untuk menepi sejenak, menelusuri jejak masa lalu, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |