Jakarta, CNN Indonesia --
Perangat terbaru Apple, MacBook Neo, mendapat sorotan Utama setelah dirilis beberapa waktu lalu. Laptop termurah Apple ini bahkan diprediksi bakal laku keras di tengah kenaikan Harga laptop pada awal tahun ini.
TrendForce, firma riset pasar, mengatakan bahwa MacBook Neo menandai ekspansi Apple ke segmen harga yang lebih murah. Laptop ini dibanderol dengan harga mulai US$599 atau sekitar Rp10,1 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penetapan harga yang disesuaikan dengan notebook Windows mainstream, memperkuat daya saing di pasar laptop sector Pendidikan," tulis TrendForce dalam laporannya, Rabu (5/3).
TrendForce memprediksi Apple dapat menjual sekitar empat hingga lima juta unit MacBook Neo tahun ini.
Bahkan, sebagian penggemar laptop Windows yang paling setia pun disebut mulai melihat daya tarik untuk beralih ke perangkat tersebut.
Melansir 9to5 Mac, perangkat ini berpotensi semakin menarik pada paruh kedua tahun ini. Hal itu seiring dengan kemungkinan kenaikan harga laptop pesaing di pasar.
Laptop pesaing diperkirakan akan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Kenaikan harga memori dan CPU dapat mendorong harga laptop mainstream naik hampir 40 persen sepanjang tahun ini.
Sebagai gambaran, untuk laptop mainstream dengan harga eceran yang disarankan (MSRP) sekitar US$900 (Rp15.186.600), kenaikan harga memori saja dapat meningkatkan harga eceran lebih dari 30 persen.
Jika ditambah dengan kenaikan harga CPU, total kenaikan harga dapat mencapai sekitar 40 persen.
Sementara itu, produsen laptop Windows disebut lebih memprioritaskan alokasi pasokan komponen yang terbatas untuk perangkat dengan harga lebih mahal.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan kelangkaan model laptop berbiaya rendah. Dampak tersebut bahkan mulai terlihat di pasar.
Selain itu, volatilitas pasokan CPU juga mulai memengaruhi berbagai merek laptop, terutama pada platform entry-level. Di sisi lain, harga MacBook Neo diperkirakan akan tetap stabil.
Ada dua alasan utama di balik hal tersebut. Pertama, Apple memanfaatkan daya beli yang besar untuk mengamankan pasokan komponen dalam periode produksi yang lebih panjang.
Kedua, setelah meluncurkan model terbaru dengan harga yang sangat kompetitif dan menonjolkan hal tersebut dalam strategi pemasarannya, kecil kemungkinan perusahaan akan mengubah pendekatan harga tersebut dalam waktu dekat.
(wpj/dmi)

















































