Menteri Kebudayaan Apresiasi Inovasi Layar Digi: Inovasi Luar Biasa

2 hours ago 7

TIM | CNN Indonesia

Kamis, 05 Mar 2026 17:33 WIB

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan kunjungan ke fasilitas Layar Digi di kawasan Gading Serpong, Tangerang. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan kunjungan ke fasilitas Layar Digi di kawasan Gading Serpong, Tangerang. (Arsip foto Kemenbud).

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan kunjungan ke fasilitas Layar Digi di kawasan Gading Serpong, Tangerang.

Layar Digi merupakan konsep micro cinema berbasis digital yang dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman menonton film secara lebih dekat dan terjangkau bagi masyarakat, termasuk di wilayah yang belum memiliki bioskop konvensional.

Konsep ini dirancang sebagai solusi atas keterbatasan jumlah layar bioskop di Indonesia, sekaligus memperluas akses distribusi film nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan bersama para undangan turut menyaksikan demo screening teaser film animasi Knight Kris guna merasakan secara langsung sensasi menonton di fasilitas Layar Digi.

Pemutaran tersebut menjadi gambaran awal pengalaman visual dan kualitas tayangan yang ditawarkan dalam format micro cinema.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang dihadirkan Layar Digi sebagai langkah konkret menjawab tantangan kekurangan layar di Indonesia. Ia menilai, kebutuhan layar nasional yang belum terpenuhi berdampak pada terbatasnya ruang tayang bagi film-film Indonesia, khususnya di daerah.

"Inovasi luar biasa dengan cara berpikir yang out of the box untuk menyediakan atau menjawab tantangan yang kita hadapi yaitu kekurangan layar. Ini mengisi ruang-ruang kosong yang masih ada karena belum adanya bioskop di daerah-daerah, dan membuka banyak kesempatan bagi masyarakat untuk menonton film di bioskop," ujarnya.

Menurutnya, industri film Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan yang sangat baik, dengan pangsa pasar domestik yang kuat. Namun demikian, penguatan ekosistem tetap diperlukan, terutama dalam menjaga keseimbangan distribusi, regulasi windowing, serta keberlanjutan minat masyarakat untuk datang ke bioskop.

"Layar Digi ini bisa hadir sampai kecamatan, bahkan ke daerah-daerah yang belum memiliki bioskop, ini luar biasa sekali. Peluangnya besar dan ini akan membantu kebudayaan sekaligus mendorong ekonomi kreatif di hilir. Ekosistemnya perlu kita jaga agar masyarakat tetap datang ke bioskop," lanjut Menteri Kebudayaan.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan bahwa kehadiran Layar Digi memiliki momentum yang tepat di tengah meningkatnya produksi dan kualitas film nasional. Ia menilai, permintaan terhadap akses layar semakin tinggi, sementara tidak semua kabupaten dan kota memiliki fasilitas bioskop. Dirinya menambahkan bahwa banyak pemerintah daerah yang menyampaikan harapan agar akses layar dapat diperluas di wilayahnya masing-masing.

"Kalau ini difokuskan, tidak akan lama ini akan menjadi jaringan bioskop salah satu terbesar di Indonesia," tegas Teuku Riefky.

Sementara itu, Presiden Komisaris PT Teknologi Layar Digital, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menjelaskan bahwa Layar Digi dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi hulu dan hilir industri perfilman nasional.

Ia menekankan pentingnya menjadikan perfilman sebagai bagian dari kekuatan budaya atau soft power Indonesia yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi kreatif.

Rahayu Saraswati juga menyampaikan bahwa Layar Digi dirancang untuk menjangkau daerah-daerah di seluruh Indonesia, termasuk menghadirkan kembali film-film Indonesia yang telah menjadi bagian penting sejarah perfilman nasional agar dapat dinikmati generasi muda di berbagai wilayah.

"Harapan kami adalah mendukung dan mendorong kreativitas anak bangsa. Ini juga menciptakan lapangan pekerjaan baru di sektor kreatif. Kami terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai pihak agar masyarakat di seluruh pelosok Indonesia bisa menikmati karya-karya anak bangsa di layar besar," ucap Rahayu Saraswati.

Layar Digi merupakan konsep micro cinema yang memanfaatkan ruang komersial strategis untuk menghadirkan pengalaman menonton film dengan kapasitas lebih kecil dibanding bioskop konvensional, namun tetap mengedepankan kualitas proyeksi digital dan tata suara yang memadai. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pemerataan akses layar, mengingat sebagian besar bioskop masih terpusat di kota-kota besar.

Program ini juga ditujukan untuk memperluas distribusi film nasional, membuka peluang pemutaran film-film lokal dan konten kreatif lainnya, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah. Setelah peresmian dan tahap uji coba di Gading Serpong, Layar Digi direncanakan akan dikembangkan secara bertahap ke berbagai kabupaten dan kota di Indonesia sebagai bagian dari strategi perluasan jaringan.

Hadir dalam kesempatan tersebut, komisaris PT. Teknologi Layar Digital, Mike Wiluan; CEO WIR Group, Daniel Surya; CEO Layar Digi, Victor Timothy; beserta jajaran Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Alfamart. Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsu Rijal; Direktur Sarana dan Prasarana, Feri Arlius; serta Kepala Balai Media Kebudayaan, Abu Chanifah.

Menutup kunjungannya, Menteri Kebudayaan kembali menegaskan bahwa inovasi seperti Layar Digi merupakan langkah berani yang patut diapresiasi karena mampu menjawab tantangan keterbatasan layar sekaligus memperkuat ekosistem perfilman nasional. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha terus diperkuat agar akses masyarakat terhadap karya budaya semakin luas dan merata di seluruh Indonesia.

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |