Negara Ini Potong Gaji Pejabatnya Imbas Konflik Perang Iran

3 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah negara mulai merasakan dampak langsung dari perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Konflik tersebut mulai mengguncang perekonomian di berbagai negara.

Negara-negara mulai menerapkan berbagai kebijakan baru sebagai respons atas kondisi tersebut. Ada yang meliburkan sekolah, meminta pegawai negeri bekerja dari rumah, hingga memangkas gaji para pejabat.

Selain itu, beberapa negara juga menutup universitas sebagai langkah penghematan energi. Kebijakan lain yang ditempuh adalah pengaturan penggunaan bahan bakar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com pada Kamis (12/3), inilah sejumlah langkah yang diambil beberapa negara karena perang Iran.

Pakistan

Pakistan menjadi salah satu negara yang sangat terdampak dari perang ini karena mereka sangat bergantung pada ekspor energi dari negara-negara Teluk Arab.

Empat eksportir bahan bakar terbesar ke Pakistan adalah Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait. Semua negara tersebut telah menghentikan produksi akibat perang terhadap Iran atau tidak dapat melakukan ekspor karena penutupan Selat Hormuz.

Mengutip MIddle East Eye, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa 50 persen pekerja di sektor publik maupun swasta di Pakistan akan bekerja dari rumah, kecuali bagi mereka yang bekerja di layanan esensial seperti pertanian dan perbankan.

Institusi pendidikan tinggi juga akan memindahkan kegiatan belajar-mengajar secara daring.

Pengeluaran pemerintah akan dipangkas sebesar 20 persen, dan pembelian aset besar seperti furnitur dan pendingin ruangan (AC) dilarang.

Pejabat pemerintah yang berpenghasilan lebih dari 300 ribu rupee atau sekitar Rp18 juta akan dikenakan potongan dua bulan gaji.

Lalu, penggunaan kendaraan dinas akan dikurangi sebesar 60 persen selama dua bulan ke depan. Tunjangan bahan bakar untuk kendaraan tersebut juga akan dipotong setengahnya.

Menteri dan penasihat di kabinet tidak akan menerima gaji selama dua bulan ke depan dan anggota parlemen akan mengalami pemotongan upah sebesar 25 persen. Selain itu, seluruh anggota legislatif dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri.

Pemerintah Pakistan juga melarang penyelenggaraan acara buka puasa resmi selama Ramadan, serta jamuan makan malam dan pesta lainnya.

Thailand

Kementerian Energi Thailand telah menyatakan bahwa saat ini tidak ada kelangkaan bahan bakar. Cadangan energi mereka bisa mencukupi hingga 95 hari ke depan.

Namun, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul meminta pegawai pemerintah untuk bekerja dari rumah.

Pemerintah Thailand juga menyerukan kepada masyarakat untuk menghemat energi dengan membatasi suhu AC pada 26 celcius. Padahal, saat ini Thailand sedang memasuki musim yang sedang panas-panasnya.

"Perdana menteri memerintahkan bahwa mulai hari ini pegawai negeri akan bekerja dari rumah," ujar juru bicara Lalida Periswiwatana kepada wartawan, dikutip dari South China Morning Post.

Vietnam

Kementerian Perdagangan Vietnam telah menyerukan kepada perusahaan-perusahaan lokal untuk mendorong karyawan mereka bekerja dari rumah sebagai bagian dari upaya penghematan bahan bakar di tengah gangguan pasokan dan lonjakan harga yang dipicu oleh perang Iran.

Vietnam termasuk di antara negara-negara yang paling parah terkena dampak gangguan bahan bakar sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai, mengingat ketergantungan yang besar pada impor energi dari Timur Tengah

Menurut laporan Reuters, antrean panjang mobil dan sepeda motor terlihat memadati stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di ibu kota Hanoi pada Selasa.

Kementerian Perdagangan Vietnam juga mengimbau pelaku usaha dan perorangan untuk tidak menimbun atau melakukan spekulasi terhadap bahan bakar.

Selain itu, Vietnam juga telah memutuskan untuk menghapus tarif impor bahan bakar yang berlaku hingga akhir April.

Bangladesh

Bangladesh telah menutup universitas-universitas di tengah krisis energi yang memburuk sebagai imbas dari konflik di Timur Tengah.

Otoritas terkait menutup seluruh universitas negeri dan swasta di seluruh negeri per Senin, memajukan libur Idulfitri sebagai bagian dari langkah darurat untuk menghemat listrik dan bahan bakar.

Para pejabat menyatakan bahwa langkah ini tidak hanya akan mengurangi konsumsi listrik, tetapi juga mengurai kemacetan lalu lintas yang memicu pemborosan bahan bakar.

Mereka menyebutkan bahwa kampus-kampus universitas mengonsumsi listrik dalam jumlah besar untuk asrama, ruang kelas, laboratorium, dan AC.

"Keputusan ini diambil untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar dengan mempertimbangkan situasi global saat ini," ungkap Kementerian Pendidikan Bangladesh dalam arahan yang disebarkan kepada otoritas universitas, dikutip dari Al Jazeera.

Bangladesh, yang mengandalkan impor untuk 95 persen kebutuhan energinya, juga memberlakukan batasan harian pada penjualan bahan bakar setelah terjadinya aksi panic buying dan penimbunan.

Sebagai bagian dari langkah penghematan yang lebih luas, pemerintah juga meminta seluruh sekolah dengan kurikulum asing dan pusat bimbingan belajar swasta untuk menghentikan operasional selama periode ini demi membatasi penggunaan listrik.

Selain penutupan, pemerintah mengeluarkan pedoman yang mendorong institusi dan perkantoran untuk menggunakan listrik secara lebih efisien, termasuk memaksimalkan cahaya matahari alami serta meminimalkan pencahayaan dan konsumsi daya yang tidak perlu.

(dhz/ins)

Read Entire Article
Entertainment |