CNN Indonesia
Kamis, 12 Mar 2026 12:00 WIB
Panorama Kota Dubai di UEA, yang kini terganggu imbas peran AS-Israel dengan Iran. (AFP/GIUSEPPE CACACE)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang masih berlangsung hingga saat ini berdampak fatal bagi ekonomi kawasan Timur Tengah.
Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia (WTTC) memperingatkan bahwa sektor pariwisata Timur Tengah kehilangan pendapatan sedikitnya US$600 juta (sekitar Rp9,4 triliun) setiap harinya akibat hilangnya belanja wisatawan mancanegara.
Gangguan perjalanan udara, rontoknya kepercayaan pelancong, serta terputusnya konektivitas regional menjadi pendorong utama merosotnya permintaan di kawasan yang melayani 5 persen kedatangan global dan 14 persen lalu lintas transit internasional tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pusat penerbangan utama dunia seperti Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Bahrain, yang biasanya melayani sekitar 526.000 penumpang setiap harinya, telah menghadapi penutupan wilayah udara dan kekacauan operasional selama hampir dua minggu.
Dampak dari krisis ini antara lain, terganggunya rute penerbangan membuat harga tiket pesawat global melambung tinggi.
Maskapai besar harus mengatur ulang jadwal secara masif akibat penutupan wilayah udara yang tidak menentu. Sebelum konflik pecah, WTTC memproyeksikan belanja wisatawan mancanegara di Timur Tengah akan mencapai US$207 miliar pada tahun 2026.
Meski situasi saat ini sangat berat, Presiden dan CEO WTTC, Gloria Guevara, menyatakan bahwa sektor pariwisata adalah salah satu sektor yang paling tangguh dengan sejarah pemulihan yang cepat.
"Setiap gangguan pada arus perjalanan akan segera diterjemahkan menjadi dampak ekonomi yang substansial di seluruh ekosistem pariwisata," tulis pernyataan resmi WTTC pada Rabu (11/3), seperti dilansir CNN.
Guevara menambahkan bahwa kunci untuk membangun kembali kepercayaan wisatawan adalah komunikasi publik yang jelas dan transparan.
Dia juga menekankan perlunya koordinasi kuat antara sektor publik dan swasta. Selain itu, penting adanya langkah-langkah nyata untuk memperkuat keamanan dan stabilitas di lapangan.
Saat ini, beberapa maskapai seperti Emirates dilaporkan mulai melanjutkan penerbangan dari Bangkok menuju Dubai secara bertahap sejak 6 Maret lalu, seiring dengan mulai dibukanya kembali beberapa jalur udara yang sempat ditutup.
(wiw)


















































