Prabowo Pede Defisit APBN Tetap di Bawah 3% Kecuali Kondisi Darurat

3 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah tetap percaya diri menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Ia menegaskan batas 3 persen tersebut tidak akan diubah kecuali jika terjadi krisis besar seperti pandemi covid-19.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, Prabowo mengatakan batas defisit 3 persen selama ini menjadi instrumen penting untuk menjaga disiplin pengelolaan keuangan negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Batas defisit itu adalah alat yang baik untuk mendisiplinkan diri kita. Kami tidak punya rencana untuk mengubahnya kecuali ada keadaan darurat yang sangat besar seperti covid-19," kata Prabowo dalam keterangan resmi, Minggu (15/3).

Ia menambahkan pemerintah berharap tidak perlu melampaui batas tersebut selama kondisi ekonomi masih terkendali.

"Saya berharap kita tidak perlu mengubahnya," ujarnya.

Batas defisit maksimal 3 persen dari PDB telah diterapkan Indonesia sejak awal 2000-an setelah krisis keuangan Asia. Aturan tersebut selama ini menjadi salah satu pilar disiplin fiskal yang dipantau investor dalam menilai stabilitas ekonomi Indonesia.

Sang Kepala Negara juga menegaskan pemerintah tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran. Ia menolak pendekatan yang mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan utang secara besar-besaran.

"Jangan membelanjakan lebih dari yang kita hasilkan. Itu adalah prinsip dasar kehidupan untuk bisa bertahan," kata Prabowo.

Di sisi lain, ia menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk menjaga ketahanan ekonomi, terutama karena ketersediaan sumber daya alam seperti kelapa sawit dan batu bara yang relatif murah.

Pemerintah juga terus memperluas pengembangan energi alternatif seperti panas bumi, tenaga surya, tenaga air, dan biofuel untuk mengurangi ketergantungan pada energi dari luar negeri.

"Kalau kita bisa melewati ini, dalam dua tahun kita akan menjadi sangat efisien. Kita akan sangat, sangat tidak bergantung pada sumber dari luar," ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran meningkatnya tekanan terhadap APBN akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya mengingatkan kenaikan harga minyak dapat memperlebar defisit fiskal. Dalam skenario moderat, jika harga minyak mentah mencapai US$97 per barel, defisit APBN diperkirakan bisa naik hingga sekitar 3,53 persen dari PDB.

Sementara dalam skenario terburuk ketika harga minyak menembus US$115 per barel dan nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS, defisit APBN berpotensi melebar sampai sekitar 4,06 persen dari PDB.

Meski demikian, pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Konsumsi domestik masih menyumbang sekitar 54 persen terhadap PDB, rasio utang luar negeri berada di kisaran 29,9 persen dari PDB, dan cadangan devisa mencapai sekitar US$151,9 miliar atau setara enam bulan impor.

Untuk mengantisipasi tekanan global, pemerintah juga menyiapkan opsi kebijakan fiskal darurat melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang dapat memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pengelolaan anggaran negara jika diperlukan.

[Gambas:Video CNN]

(del/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |