Pramono Imbau Warga Tak Panic Buying saat Harga Plastik Melonjak

2 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi keluhan warga mengenai kenaikan harga plastik di Indonesia sebagai imbas dari eskalasi perang Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran.

Menanggapi kepanikan yang muncul di kalangan konsumen pasar tradisional, Pramono mengimbau agar warga tidak merespons situasi ini secara reaktif.

"Sehingga dengan demikian nggak perlu panic buying karena semua kebutuhan utama itu stoknya lebih dari cukup," ujar Pramono di Pasar Gardu Asem, Jakarta Pusat, Senin (6/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pramono memberikan jaminan bahwa ketahanan rantai pasok pangan dan barang pokok lainnya di wilayah Jakarta sangat aman untuk menghadapi ketidakpastian kondisi global saat ini.

Pramono juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI selalu turun tangan mengawasi pergerakan harga demi menjaga stabilitas ekonomi ibu kota.

"di Jakarta sampai dengan hari ini kami memantau harian, inflasinya masih terjaga dengan baik," ujar Pramono.

Kenaikan harga dan kelangkaan plastik yang dipicu gangguan pasokan global, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz yang mendorong biaya logistik dan energi, mulai dirasakan industri dalam negeri.

Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga produk makanan dan minuman dalam kemasan.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menyebut tekanan terhadap industri semakin berat akibat kenaikan biaya bahan baku, energi, serta fluktuasi nilai tukar.

"Jadi saya kira dampaknya sangat luar biasa ya. Pertama, tentunya yang paling cepat itu adalah kenaikan nilai tukar ya. Nilai tukar rupiah dan energi, ini sangat berat sekali buat industri. Karena kita banyak sekali yang harus beli dalam dolar AS. Ini yang paling berat," kata Adhi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (31/3).

Ia menjelaskan kondisi tersebut juga berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, terutama plastik.

Pasalnya, pasokan bahan baku plastik selama ini banyak berasal dari Timur Tengah.

Namun, produsen di kawasan tersebut dilaporkan tidak dapat berproduksi atau mengalami penurunan produksi secara signifikan sehingga ketersediaan plastik di pasar menjadi sangat berkurang.

Menurut Adhi, industri hulu plastik di dalam negeri juga mengalami penurunan produksi hingga sekitar sepertiga kapasitas. Bahkan, sejumlah pemasok dilaporkan tidak dapat berproduksi karena keterbatasan bahan baku.

Di tengah kondisi tersebut, harga plastik melonjak signifikan. Ia menyebut kenaikan harga di tingkat produsen berkisar 30 persen hingga 60 persen, bahkan di tingkat pedagang bisa mencapai dua kali lipat akibat keterbatasan stok.

"Saya dapat info juga bahkan beberapa pedagang plastik itu menaikkan harga bisa sampai 100 persen karena mereka merasa stoknya terbatas, sementara dibutuhkan," kata Adhi.

Kenaikan harga dan kelangkaan ini dinilai akan berdampak langsung pada harga produk kemasan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang memiliki daya tahan stok terbatas.

"Sudah pasti naik (harga produk kemasan), karena ini mau tidak mau. Apalagi kalau perusahaan kecil, industri kecil menengah itu ketahanan industri itu kan rentan, mereka stoknya tidak banyak. Begitu mereka stoknya habis, mau enggak mau mereka langsung harga naik karena sangat tidak mungkin sekali ini jadi berat," ujarnya.

Ia mengingatkan kondisi ini berpotensi mendorong inflasi serta berdampak pada ketahanan pangan, karena keterbatasan kemasan dapat menghambat distribusi produk.

[Gambas:Video CNN]

(kna/ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |