Pria Terberat di Dunia Juan Pedro Meninggal Akibat Gagal Ginjal

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Pria yang pernah menyandang gelar sebagai orang terberat di dunia, Juan Pedro Franco, meninggal dunia pada usia 41 tahun akibat komplikasi infeksi ginjal. Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh dokter yang menanganinya, Jose Antonio Castaneda.

Juan mengembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit di Aguascalientes, Meksiko, pada 24 Desember, setelah kondisinya memburuk dalam beberapa hari terakhir.

Nama Juan Pedro Franco dikenal luas secara internasional sejak 2017, ketika ia tercatat dalam Guinness World Records sebagai pria terberat di dunia dengan bobot hampir 600 kilogram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada usia 32 tahun, kondisi tubuhnya membuat Juan sebagian besar hanya bisa terbaring di tempat tidur dan sangat bergantung pada bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas dasar, termasuk pergi ke toilet.

"Tubuh saya hanya mengikuti jalannya sendiri tanpa kendali apa pun," ujar Juan dalam wawancara dengan Guinness World Records, melansir The U.S. Sun.

Di bawah pengawasan dokter Castaneda, Juan kemudian menjalani program medis intensif. Ia menjalani diet Mediterania yang ketat, berbasis buah dan sayuran, serta menjalani dua operasi bariatrik, yakni operasi gastric sleeve dan gastric bypass.

Upaya tersebut membuahkan hasil signifikan. Juan berhasil menurunkan hampir 49 persen dari berat badannya, dan pada 2019 bobot tubuhnya berkurang hingga sepertiga dari kondisi awal.

Dalam tiga tahun berikutnya, ia kehilangan sekitar lebih dari 346 kilogram dan pada 2023 berat badannya tercatat sekitar 259 kilogram.

"Sekadar bisa mengangkat tangan, bangun untuk minum air, atau ke toilet sendiri itu rasanya luar biasa," kata Juan.

Meski berhasil menurunkan berat badan, Juan memiliki riwayat penyakit serius. Selama perawatan, ia didiagnosis menderita diabetes tipe 2, gangguan tiroid, hipertensi, serta penumpukan cairan di paru-paru.

Ia juga pernah terinfeksi COVID-19 pada 2020 dan berhasil bertahan, meski masuk dalam kelompok berisiko tinggi.

Dokter menyebut penurunan berat badan membantu Juan kembali bergerak dan menurunkan risiko penyakit metabolik. Namun, kondisi kesehatannya tetap kompleks hingga akhir hayat.

Mengapa obesitas rentan menyebabkan penyakit ginjal?

Melansir Cleveland Clinic, para ahli menjelaskan obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit ginjal kronis. Kelebihan berat badan memicu sindrom metabolik, yakni kumpulan kondisi seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan gangguan lemak darah, yang semuanya memberi beban ekstra pada ginjal.

Pada orang dengan obesitas, ginjal dipaksa bekerja lebih keras untuk menyaring darah dalam jumlah besar. Kondisi ini dikenal sebagai hiperfiltrasi glomerulus.

Jika berlangsung lama, hiperfiltrasi dapat merusak unit penyaring ginjal secara perlahan dan menyebabkan penurunan fungsi ginjal.

Selain itu, jaringan lemak berlebih juga memicu peradangan kronis dalam tubuh. Peradangan ini dapat mempercepat kerusakan jaringan ginjal, terlebih jika disertai diabetes dan hipertensi, dua penyebab utama gagal ginjal.

Dokter juga menekankan bahwa risiko penyakit ginjal tetap meningkat pada orang dengan obesitas, bahkan ketika gula darah dan tekanan darah sudah terkontrol, karena beban mekanis dan metabolik pada ginjal masih berlangsung.

(nga/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |