Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa enggan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi meskipun harga minyak dunia tembus US$92 per barel.
Ia sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari dampak lonjakan harga minyak demi menjaga defisit tetap di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Purbaya mengatakan salah satu strategi utama yang disiapkan adalah realokasi belanja negara, sebelum mempertimbangkan menaikkkan harga BBM subsidi. Pemerintah akan memprioritaskan belanja yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengeluaran yang tidak terlalu mendukung kebutuhan utama dapat ditunda, seperti pengadaan barang atau proyek tertentu," kata Purbaya dalam taklimat media di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3).
Purbaya menegaskan akan melakukan kurasi ketat terhadap berbagai program kementerian dan lembaga. Program yang dinilai tidak mendesak atau tidak berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat akan ditunda atau dialihkan ke tahun anggaran berikutnya melalui mekanisme refocusing.
Realokasi belanja tersebut juga mencakup penundaan sejumlah proyek infrastruktur yang belum memasuki tahap krusial, serta efisiensi pada pos pengadaan barang dan jasa.
Meski demikian, peluang menaikkan harga BBM bersubsidi tetap ada sebagai bagian dari skenario berbagi beban dengan masyarakat. Namun, opsi tersebut hanya akan ditempuh apabila kemampuan APBN benar-benar terbatas dan langkah realokasi belanja tidak lagi mencukupi.
"Kalau memang anggarannya tidak kuat sekali dan tidak ada jalan lain, ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM subsidi kalau memang harganya tinggi sekali," katanya.
Ia menjelaskan simulasi fiskal pemerintah menunjukkan defisit APBN bisa melebar jika harga minyak global meningkat tajam. Apabila harga minyak rata-rata tahunan mencapai US$92 per barel, defisit APBN diperkirakan bisa meningkat hingga 3,6-3,7 persen terhadap PDB.
"Kalau harga minyak naik ke US$92 per barel, apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa defisit kita naik ke 3,6 sampai 3,7 persen dari PDB," ujarnya.
Saat ini pemerintah masih memperkirakan rata-rata harga minyak sepanjang tahun berada di kisaran US$72 per barel sehingga dinilai masih dalam batas aman bagi APBN.
(lau/pta)


















































