CNN Indonesia
Selasa, 03 Mar 2026 15:45 WIB
Raisa cerita hampir terjebak di Bandara Dubai, UEA, akibat memanasnya Iran, AS, dan Israel sejak akhir pekan lalu (28/2). (Tangkapan layar instagram @raisa6690)
Jakarta, CNN Indonesia --
Raisa ternyata menjadi salah satu orang yang hampir terjebak di Bandara Dubai, Uni Emirat Arab, akibat penutupan ruang udara buntut memanasnya serangan antara Iran, AS, dan Israel sejak akhir pekan lalu (28/2).
Ia mengaku bersyukur masih bisa kembali ke Indonesia karena penerbangannya tetap berjalan seperti yang dijadwalkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui broadcast channelnya, Raisa mengatakan situasi tersebut terjadi sekitar satu jam sebelum seluruh penerbangan dari Bandara Dubai ditunda hingga dibatalkan karena konflik Iran, AS, dan Israel.
"BTW guys alhamdulillah aku sudah landing di Jakarta. Pas banget tadi emang aku transit di Dubai, sekitar 1-2 jam setelah aku terbang semua flight di-cancel," cerita Raisa.
Raisa kemudian mendoakan para penumpang yang belum bisa keluar dari Dubai, termasuk juga mereka yang berniat berangkat umrah atau kembali ke Indonesia.
"Semangat semua yang lagi keribetan dan kebingungan juga ketakutan, yang rencananya keganggu dan terlebih lagi yang memang tinggal di negara atau kota ter-impact tersebut. Semoga cepat-cepat berhenti semua kegilaan dunia ini," ungkapnya dengan emoji menangis.
CNNIndonesia.com telah meminta izin kepada Raisa untuk mengutip broadcast message tersebut.
Sementara itu, pemerintah Uni Emirat Arab atau UEA bergerak cepat menjamin kenyamanan para pelancong yang terlantar akibat penutupan wilayah udara.
Seluruh biaya penginapan hingga konsumsi turis yang gagal terbang dipastikan akan ditanggung sepenuhnya oleh negara hingga situasi kembali normal.
Langkah tersebut diambil setelah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang mengakibatkan rudal melintas di atas kawasan Teluk sejak Sabtu (28/2).
Mengutip The Nationalnews, Senin (2/3/2026), Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi (DCT Abu Dhabi) telah menginstruksikan seluruh hotel untuk memperpanjang masa inap tamu yang terdampak krisis keamanan di kawasan tersebut.
"Hotel diminta memperpanjang masa tinggal para tamu yang tidak bisa melanjutkan perjalanan. Seluruh biaya tersebut akan ditanggung oleh DCT Abu Dhabi," tulis pernyataan resmi otoritas pariwisata tersebut.
Kebijakan ini merupakan langkah darurat menyusul keputusan Otoritas Penerbangan Sipil Umum UEA (GCAA) untuk menutup ruang udara demi keselamatan penerbangan.
GCAA memperkirakan sedikitnya 20.200 penumpang terkena dampak pembatalan dan penjadwalan ulang penerbangan. Ribuan penumpang tersebut kini telah dievakuasi ke penginapan sementara dan mendapatkan fasilitas kebutuhan dasar sembari menunggu proses pemesanan ulang tiket.
(chri)


















































