Rupiah Tembus Rp17.600, Masihkah Tepat Investasi Dolar?

1 hour ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp17.614 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5). Posisi tersebut menjadi titik terlemah mata uang Garuda sepanjang sejarah.

Pelemahan rupiah yang terus berlanjut membuat minat masyarakat terhadap investasi valas khususnya dolar AS ikut meningkat.

Di tengah ketidakpastian global dan tekanan terhadap rupiah, dolar dinilai menjadi salah satu instrumen "safe haven" yang kerap diburu untuk menjaga nilai aset.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, kenaikan kurs dolar juga memunculkan pertanyaan baru bagi masyarakat, terutama investor pemula. Apakah saat ini masih menjadi waktu yang tepat untuk mulai membeli dolar, atau justru terlalu terlambat?

Lantas, bagaimana cara memulai investasi dolar di tengah kurs yang sedang tinggi? Apa saja yang perlu diperhatikan pemula agar tidak salah langkah? Berikut sejumlah hal yang perlu dicermati sebelum mulai berinvestasi dolar.

1. Tepatkan Investasi Dolar saat Kurs Tinggi?

Perencana Keuangan Aidil Akbar Madjid menilai investasi dolar masih bisa dipertimbangkan, terutama di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan domestik.

Menurut Aidil, pergerakan dolar saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi di dalam negeri.

"Sekarang ini masyarakat Indonesia sedang berada di titik terendah terhadap tingkat kepercayaan pada pemerintahannya. Kondisi semakin penuh ketidakpastian," ujar Aidil kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/5).

Ia menilai kondisi tersebut membuat dolar masih berpotensi bertahan di level tinggi dalam waktu dekat.

"Kalau ini tidak ada perubahan signifikan di luar intervensi Bank Indonesia maupun Kementerian Keuangan, saya masih melihat dolar cukup kuat bertengger di angka Rp17.400-Rp17.500, bahkan kecenderungannya bisa melemah lagi (rupiahnya)," katanya.

Karena itu, menurut Aidil, membeli dolar saat ini masih memungkinkan dilakukan, termasuk bagi investor pemula.

2. Pastikan Dana Darurat dan Cashflow Aman

Meski begitu, Aidil mengingatkan investasi dolar tetap memiliki risiko fluktuasi nilai tukar. Karena itu, kondisi keuangan pribadi harus dipastikan sehat terlebih dahulu sebelum mulai membeli dolar.

Menurutnya, pemula perlu memastikan sudah memiliki dana darurat, arus kas (cashflow) yang stabil, serta dana lebih yang memang siap diinvestasikan.

"Apakah dia sudah punya emergency fund, kemudian apakah investasi dolarnya bagian dari dana darurat, kondisi cashflow-nya oke atau tidak, apakah ada kelebihan dana setiap bulannya yang bisa diinvestasikan," ujarnya.

Ia menegaskan nilai dolar tetap bisa turun sewaktu-waktu jika muncul sentimen positif terhadap ekonomi domestik.

"Kalau ternyata mereka investasi sekarang terus dolarnya turun ke Rp16.500, berarti akan ada kerugian dalam jangka pendek. Jadi harus siap dulu dengan risiko turunnya nilai dolar," katanya.

3. Pilih Instrumen Likuid

Di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, Aidil menyarankan pemula memilih instrumen yang likuid atau mudah dicairkan.

Menurutnya, dolar fisik maupun simpanan valas menjadi pilihan yang relatif fleksibel karena bisa digunakan sewaktu-waktu atau dijual saat harga naik.

"Kalau saya melihatnya sekarang lebih baik pegang yang liquid, artinya dolar fisik atau valas," ujarnya.

Aidil mengatakan instrumen yang likuid memudahkan investor mengambil keuntungan ketika kurs dolar mengalami kenaikan signifikan.

"Kalau tiba-tiba harganya naik ke Rp18 ribu atau Rp20 ribu per dolar AS, bisa juga take profit di situ," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan penyimpanan dolar fisik perlu dilakukan secara hati-hati karena uang dolar cukup sensitif terhadap kerusakan fisik.

4. Cocok untuk Jangka Pendek hingga Panjang

Aidil menilai investasi dolar cukup fleksibel karena bisa digunakan untuk kebutuhan jangka pendek maupun panjang.

Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, dolar dinilai cocok menjadi instrumen lindung nilai jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, dolar juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pendidikan luar negeri atau dana darurat.

"Dolar ini hampir sama seperti emas. Disimpan jangka panjang pun enggak masalah karena rata-rata kenaikannya sekitar 5-6 persen per tahun," ujarnya.

Menurut Aidil, kenaikan dolar secara historis relatif setara dengan imbal hasil obligasi pemerintah.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Entertainment |