Siasat Pedagang Warteg Hindari Fenomena Aneh Pembeli 'In This Economy'

6 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Dampak kenaikan harga bahan makanan serta menurunnya daya beli masyarakat membuat sejumlah pengusaha warteg memiliki siasat penting agar tidak terjadi fenomena aneh pembeli di warteg milik mereka.

Berdasarkan laporan CNBC Indonesia di sejumlah warteg di Jakarta Pusat, beberapa pedagang warteg mulai mengeluhkan pembeli mengurangi lauk pauk efek harga bahan makanan makin mahal.

Kini makin banyak pembelinya yang hanya membeli lauk pauk di bawah Rp15 ribu hingga Rp20.000, seperti tempe-tahu, telur balado, dan aneka gorengan. Pembeli juga menyiasati lebih banyak menggunakan sayuran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan lauk seperti ayam goreng, rendang daging sapi, semur sapi, cumi-cumi hitam, dan udang (goreng dan balado) pun mulai jarang dibeli.

"Ya betul, sekarang pembeli sudah mulai kurangi beli lauk seperti ayam goreng atau daging sapi, mereka belinya telur balado, tempe-tahu, sayuran, dan gorengan," kata Amirah, salah satu pedagang warteg.

Pembeli disebut kini hanya membeli menu warteg seharga Rp10 ribuan, dan sudah mulai jarang ditemui yang membeli lebih dari Rp20 ribu. Alhasil, kini Ia mulai tidak menjual lauk yang di atas harga Rp20 ribu.

"Sekarang banyak yang beli lauk agar harga makanannya cuma Rp10 ribuan, ya ada sih yang Rp15 ribu, cuma yang di atas Rp20 ribu sudah mulai jarang," ucap Amirah.

Siasat Cerdas Warteg di Jaksel

Deretan warteg dan rumah makan sederhana di kawasan Lenteng Agung hingga Tanjung Barat, Jakarta Selatan, masih ramai didatangi pelanggan saat jam makan siang.

Di tengah harga bahan pokok yang terus merangkak naik, para pemilik warung melakukan berbagai cara agar pelanggan tetap datang tanpa harus menaikkan harga makanan.

Warteg di Jakarta SelatanSalah satu strategi yang paling banyak ditempuh pedagang warteg adalah mengurangi porsi bahan baku tertentu dan menekan margin keuntungan. (CNN Indonesia/Loamy)

Salah satu strategi yang paling banyak ditempuh adalah mengurangi porsi bahan baku tertentu dan menekan margin keuntungan. Cara itu dianggap lebih aman dibanding menaikkan harga jual yang berisiko membuat pelanggan berpaling ke warung lain.

Juminah (48), pemilik Warteg Bahari di Lenteng Agung, mengaku sudah lama tidak menjual menu berbahan daging sapi. Harga bahan baku yang mahal membuatnya lebih memilih menyediakan menu yang lebih terjangkau seperti telur, kerang, ati ampela, tahu, tempe, dan ayam.

"Kalau mau daging adanya ayam goreng dan balado, tapi karena harga-harga sekarang mahal, kita kurangin porsi, karena gak mungkin naikin harga, takutnya pelanggan pada kabur, di sini banyak pilihan warung makan soalnya," ujarnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Senin (1/6).

Menurut Juminah, salah satu penyesuaian yang dilakukan adalah memperkecil ukuran potongan ayam. Jika sebelumnya satu ekor ayam dibagi menjadi 10 bagian, kini satu ekor bisa dipotong menjadi 12 bagian.

Meski demikian, harga seporsi makanan tetap dipertahankan di kisaran Rp15 ribu hingga Rp17 ribu dengan satu lauk dan sayuran. Bahkan pelanggan masih mendapat teh tawar hangat gratis.

"Permintaan ayam masih banyak soalnya. Menu paling banyak laku ya telor sama kerang, sama ati ampela. Tahu tempe juga," katanya.

Strategi serupa diterapkan Ilham (27), generasi kedua pengelola Warung Nasi Tegal di kawasan Tanjung Barat. Warung yang sudah beroperasi sekitar 17 tahun itu memilih mempertahankan harga jual meski hampir seluruh bahan baku mengalami kenaikan.

"Harga naik semua, tapi kita gak naikin harga dan porsi, kita kurangin aja untungnya. Soalnya pelanggannya sudah banyak," curhat Ilham.

Lokasi warung yang berada tepat di sebrang stasiun menjadi keuntungan tersendiri. Pelanggan tetap berdatangan, mulai dari pengemudi ojek online hingga sopir angkutan umum. Omzet hariannya pun masih mampu menembus lebih dari Rp1 juta.

Menu andalan yang ditawarkan antara lain ayam goreng ungkep dan berbagai jenis ikan goreng seperti tongkol, cue, hingga ikan kembung. Sebagian besar menu dijual Rp17 ribu per porsi. Sementara menu berbahan udang yang harganya lebih mahal dibanderol sekitar Rp20 ribu.

"Paling mahal di sini, kalau menu udang balado karena kan udang mahal. Kalau pake udang bisa Rp20 ribu, itu sama sayur dan tahu atau tempe biasanya," ujarnya.

Bagi pelanggan, warteg dan rumah makan sederhana masih menjadi pilihan utama untuk bertahan di tengah tekanan biaya hidup. Sobri, seorang pengemudi ojek online, mengaku lebih sering memilih lauk sederhana dibanding menu berbahan daging.

"Saya karena sekarang narik deket sini, jadi nunggu orderan di sini terus. Makan jarang daging, biasanya tahu tempe kentang dan telur balado aja. Rp15 ribu biasanya sekali makan, kadang cuma Rp13 ribu," ceritanya.

Hal serupa diungkapkan Alan, pengemudi ojol lainnya. Ia biasanya memilih telur dadar dan sayur sebagai menu harian.

"Biasanya telor dadar dan sayur. Sama buncis udang. Itu Rp17 ribu. Kalau lagi ada rejeki pake rawon, 25 ribu," pungkas Alan.

Berlanjut ke halaman kedua >>>

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Entertainment |