Jakarta, CNN Indonesia --
Kesepakatan OpenAI, perusahaan di balik platform ChatGPT, dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) berbuntut panjang. Bukan cuma kehilanggan pengguna, kini OpenAI juga ditinggal salah satu ahli yang memimpin pengembangan hardware robotika.
Caitlin Kalinowski, yang memimpin divisi hardware dalam divisi robotika OpenAI, mengumumkan pengunduran dirinya melalui sebuah unggahan di platform X. Dalam kesempatan itu, ia juga mengkritik Langkah perusahaan bekerja sama dengan Pentagon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia keputusan Kerjasama dengan Departemen Pertahanan dilakukan terburu-buru tanpa melakukan penyelidikan yang memadai terhadap mekanisme pengamanan yang diperlukan.
"Pengawasan terhadap warga Amerika tanpa pengawasan yudisial dan otonomi mematikan tanpa izin manusia adalah batas-batas yang layak mendapat pertimbangan lebih dari yang diberikan," kata Kalinowski dalam unggahannya di X, melansir Engadget, Senin (8/3).
Mantan eksekutif OpenAI itu menjelaskan bahwa "pengumuman itu terburu-buru tanpa batasan yang ditetapkan," menambahkan bahwa hal itu adalah "masalah tata kelola yang paling utama."
OpenAI mengonfirmasi pengunduran diri Kalinowski dan mengatakan bahwa perusahaan memahami bahwa orang-orang memiliki pendapat tersendiri tentang isu-isu ini. Perusahaan juga menjelaskan dalam pernyataan tersebut bahwa mereka tidak mendukung isu-isu yang diangkat oleh Kalinowski.
"Kami yakin kesepakatan kami dengan Pentagon menciptakan jalur yang dapat diterapkan untuk penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam keamanan nasional, sambil menegaskan batas-batas kami: tidak ada pengawasan domestik dan tidak ada senjata otonom," bunyi pernyataan OpenAI.
Pengunduran diri Kalinowski mungkin menjadi dampak paling mencolok dari keputusan OpenAI untuk menandatangani kesepakatan dengan Departemen Pertahanan.
Keputusan tersebut diambil tak lama setelah Anthropic menolak untuk mematuhi permintaan untuk melonggarkan batasan-batasan kecerdasan buatan (AI) terkait pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom sepenuhnya.
Namun, bahkan CEO OpenAI Sam Altman mengatakan bahwa ia akan merevisi kesepakatan dengan Departemen Pertahanan untuk melarang penyadapan terhadap warga Amerika.
Sebelumnya, keputusan OpenAI untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) militer bersama pemerintah Amerika Serikat menuai kontroversi dan memicu gelombang protes dari pengguna ChatGPT.
Langkah ini diambil setelah Anthropic, pengembang Claude, mundur dari kerja sama dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD) karena alasan keamanan dan keselamatan. Sebagian pengguna mulai meninggalkan ChatGPT dan beralih ke layanan AI lain.
Melansir Techradar, reaksi negatif juga terlihat di berbagai media sosial dan forum seperti Reddit, di mana sejumlah pengguna membagikan panduan cara menghapus akun serta data mereka. Sebagian lainnya menuding OpenAI mengabaikan etika dan "menggadaikan jiwa" dengan mengizinkan teknologinya digunakan oleh militer AS.
(dmi/dmi)


















































