Tangerang, CNN Indonesia --
Hujan deras yang mengguyur kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Senin (12/1) pagi, menyebabkan sedikitnya 16 pesawat dialihkan ke bandara alternatif.
Selain itu, belasan penerbangan lainnya terpaksa berputar di udara hingga satu jam karena jarak pandang di landasan tidak memenuhi batas minimum pendaratan.
Executive Vice President Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro mengatakan gangguan operasional terjadi pada periode pukul 05.00-10.00 WIB. Saat itu, jarak pandang di seluruh runway Soetta tercatat di bawah 1.000 meter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Visibility berada di bawah standar minimum untuk pendaratan. Jika dipaksakan, risikonya sangat membahayakan. Karena itu, petugas ATC menginstruksikan pesawat untuk go-around, holding, hingga divert ke bandara alternatif demi keselamatan," ujar Hermana dalam keterangannya, Senin, (12/1).
Ia menjelaskan kepadatan lalu lintas udara sempat terjadi karena banyak pesawat datang bersamaan ketika cuaca belum membaik. Sekitar 15 pesawat tercatat harus melakukan holding dengan durasi 40 menit hingga satu jam.
"Dalam satu waktu, ada sekitar 15 pesawat yang berada di area holding sambil menunggu kondisi cuaca memungkinkan untuk mendarat," ujarnya.
Selain holding, AirNav mencatat sebanyak 16 penerbangan akhirnya dialihkan ke sejumlah bandara. Rinciannya, dua pesawat dialihkan ke Palembang, tiga ke Semarang, tiga ke Halim Perdanakusuma, satu ke Tanjung Pandan, satu ke Pangkalpinang, dua ke Solo, empat ke Yogyakarta International Airport (YIA), dan satu ke Jambi.
Di sisi penumpang, dampak cuaca buruk dirasakan langsung. Rizki, penumpang asal Lombok, mengaku pesawatnya mengalami keterlambatan lebih dari satu jam akibat harus berputar di udara.
"Hujannya besar, awannya tebal, ada petir juga. Pesawat sempat muter dulu dan turbulensi beberapa kali. Harusnya sampai jam 10.10 WIB, tapi baru mendarat lewat jam 11," kata Rizki di Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta.
Penumpang lain, Nugraha, yang terbang dari Surabaya, bahkan mengalami pengalihan pendaratan ke Bandara Adi Soemarmo, Solo.
"Kami sempat alihkan ke Solo sekitar 45 menit. Setelah cuaca membaik, baru terbang lagi ke Jakarta. Jadwal seharusnya jam 9.30, tapi baru sampai sekitar jam 11.30," ujarnya.
Hermana menegaskan, prosedur go-around, holding, dan divert merupakan langkah baku dalam keselamatan penerbangan. Meski ATC memberikan rekomendasi berdasarkan kondisi cuaca dan lalu lintas udara, keputusan akhir tetap berada di tangan pilot.
"ATC menyampaikan informasi cuaca, kondisi runway, dan lalu lintas. Namun keputusan terakhir tetap pada Pilot in Command dengan satu prinsip utama, yaitu keselamatan," tegasnya.
Untuk mengantisipasi kepadatan, AirNav juga melakukan pengaturan jarak kedatangan, penundaan keberangkatan dari sejumlah bandara asal, serta koordinasi intensif dengan BMKG dan pengelola bandara alternatif.
"Kami terus memantau kondisi cuaca dan pergerakan pesawat secara real time agar layanan navigasi tetap aman, terkendali, dan dampak operasional bisa diminimalkan," pungkas Hermana.
(das/sfr)




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354665/original/013548500_1758261702-IMG-20250919-WA0005.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326205/original/048148200_1756092105-IMG-20250825-WA0011.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354825/original/018518100_1758265848-pongki_barata_csm_3.jpg)









