Jakarta, CNN Indonesia --
Masha and the Bear menjadi salah satu animasi favorit anak-anak asal Rusia. Serial ini menceritakan petualangan seorang anak perempuan kecil bernama Masha yang selalu dijaga serta dilindungi seekor beruang bernama Mishka.
Karakter Masha digambarkan sebagai anak perempuan yang riang, aktif, dan sering mengajak hewan-hewan di sekitarnya untuk bermain bersama, termasuk bersama beruang Mishka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan secara tak sengaja antara Masha dan Mishka membuat keduanya menjadi bersahabat, lebih tepatnya Masha sering berkunjung ke rumah Mishka. Dalam episode pertama, Masha dikisahkan mengikuti seekor kupu-kupu hingga masuk ke rumah beruang.
Sang beruang yang baru pulang memancing kaget melihat rumahnya berantakan, dan berkali-kali mencoba mengusir Masha, tapi gagal. Dari sanalah persahabatan keduanya bermula.
Mishka yang dikisahkan sebagai beruang coklat Kamchatka dulunya tampil di sirkus. Latar belakang itulah yang membuatnya pandai dalam seni pertunjukan seperti sulap, juggling, hingga sepeda beroda satu.
Ia kemudian menjadi pelindung bagi Masha, layaknya sosok ayah, karena anak kecil itu kerap melakukan hal-hal ceroboh.
Namun, di balik kisah menggemaskan tersebut, muncul pertanyaan: apakah hubungan antara manusia dan beruang itu mungkin terjadi di dunia nyata?
Para ahli konservasi dan peneliti perilaku satwa liar memberi jawaban yang kompleks terkait hal ini, dan hampir semuanya sepakat pada satu hal: beruang tetap hewan liar, tak peduli seberapa jinak tampilan mereka.
Oded Berger-Tal, profesor ekologi di Ben-Gurion University of The Negev mengatakan manusia tidak bisa menjalin persahabatan dengan beruang.
"Beruang adalah hewan liar, dan konsep persahabatan adalah konstruksi manusia," kata Berger-Tal, melansir artikel Gizmodo yang terbit pada 2017 lalu.
Ia menjelaskan, beruang yang tampak bersahabat dengan manusia pada dasarnya hanya mengasosiasikan manusia dengan sumber makanan, bukan membangun ikatan emosional.
"Beruang yang sama yang tadi makan dari tangan Anda, bisa dengan mudah mencabik Anda hingga mati keesokan harinya," ujar dia menjelaskan.
Berger-Tal mencontohkan kasus Timothy Treadwell, seorang aktivis yang menghabiskan bertahun-tahun hidup berdekatan dengan beruang grizzly liar di Alaska dan mengklaim telah 'bersahabat' dengan mereka, hingga akhirnya Timothy dan kekasihnya tewas dimangsa beruang.
Menurutnya ini juga menunjukkan bahwa korban utama dari 'persahabatan' ini adalah beruang.
"Beruang yang membunuh Timothy kemudian ditembak mati. Padahal beruang itu hanya bertindak sesuai nalurinya," jelas dia.
Berger-Tal juga memperingatkan bahaya yang lebih besar ketika beruang mulai mengasosiasikan manusia dengan sumber makanan. Menurutnya, begitu beruang belajar bahwa manusia sama dengan makanan mudah, mereka akan terus-menerus berusaha mendapatkan makanan itu, dan menempatkan diri mereka di bawah kendali manusia yang menentukan, berdasarkan standar manusia yang tidak diketahui dan tidak bisa dipahami.
Namun begitu, tidak semua ahli sependapat bulat. Gordon M. Burghardt, profesor psikologi dan biologi ekologi di University of Tennessee yang pernah membesarkan anak beruang di rumahnya, menyebut ikatan lintas spesies memang dimungkinkan, terutama pada beruang yang dibesarkan dalam penangkaran.
"Bonding yang erat memang mungkin terjadi, dan ikatan ini bisa bertahan hingga beruang dewasa," jelas Gordon.
Ia membandingkan anjing peliharaan yang secara statistik membunuh jauh lebih banyak orang per tahun dibanding beruang, namun tetap disebut sebagai sahabat manusia.
Shannon Donahue, Direktur Eksekutif Great Bear Foundation, menjelaskan bahwa beruang memiliki sifat dasar yang membuatnya tampak akrab dengan manusia, termasuk rasa ingin tahu yang tinggi, pola makan yang mirip manusia, serta kemampuan beradaptasi.
Namun ia memperingatkan bahwa proses habituasi, ketika beruang menjadi lebih toleran terhadap kehadiran manusia, kerap berujung pada kondisi berbahaya.
"Ketika kita mendekati beruang untuk memotretnya, atau membiarkan mereka menggerayangi area berkemah kita, kita memberi kesan palsu bahwa mereka bisa dekat dengan manusia tanpa bahaya," kata Donahue.
"Beruang terbunuh secara tidak perlu setiap tahun setelah mereka belajar menghabiskan waktu dekat manusia," lanjut dia.
(dmi)
Add
as a preferred source on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5478359/original/064555900_1768899201-_ARM7685.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477034/original/057494900_1768806789-CORTIS_Friends_of_the_NBA_2.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487999/original/004167400_1769691707-WhatsApp_Image_2026-01-29_at_19.03.40.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494418/original/033754100_1770287739-KLBB.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489790/original/094589100_1769932030-WHISNU_SANTIKA_-_2026_-_03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497325/original/042233100_1770624882-a-dan-z-insyaallah-cinta-ff0053.webp)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5237711/original/072942900_1748605135-IMG_1733_1_.jpeg)



