Makassar, CNN Indonesia --
Perum Bulog optimistis cadangan beras nasional dapat menembus 6 juta ton pada 2027. Hal ini seiring tren peningkatan produksi dan penyerapan yang terus menguat.
Direktur Pengadaan Bulog Prihasto Setyanto menyebut target tersebut realistis mengingat posisi stok saat ini sudah berada di level tinggi dan terus bertambah.
"Ya, sekarang aja (stok beras nasional) udah 4,5 (juta ton). Gini, hitungan sederhananya, hitungan kami stok kita nanti minggu ke-3 bulan April udah mencapai 5 juta ton. Kira-kira sampai akhir tahun kalau terus bertambah stok dengan penyerapan yang ada, bisa kecapai enggak 6 juta ton? Bisa kecapai," kata Prihasto di Hotel Pantai Gapura, Makassar, Senin (6/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan penguatan stok didorong oleh serapan beras yang meningkat signifikan sejak awal tahun. Hingga awal April, Bulog telah menyerap sekitar 1,7 juta ton beras, angka yang menyamai capaian hingga akhir April tahun sebelumnya.
"Dari awal Januari sampai dengan tanggal 5 April kemarin, itu sudah mencapai 1,7 juta ton. Jadi ini pencapaian yang luar biasa dibanding tahun 2025 kemarin," tambahnya.
Dengan tren panen yang masih berlangsung, Bulog memperkirakan serapan akan terus meningkat dalam waktu dekat. Hingga akhir April, serapan diproyeksikan mencapai 2,2 hingga 2,3 juta ton. Selain itu, Bulog menargetkan total serapan 4 juta ton dapat tercapai dalam waktu relatif singkat.
"Perkiraan untuk tercapainya 4 juta ton sekitar awal-awal Juni. Ya, awal Juni itu insya Allah bisa tercapai 4 juta ton. Kalau tidak ada halangan, situasi kondisi panen bagus, insya Allah awal Juni sudah tercapai 4 juta ton," kata Prihasto.
Dari sisi wilayah, penyerapan terbesar saat ini berasal dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, yang menjadi kontributor utama dalam memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP).
Sementara itu, stok CBP saat ini telah melampaui 4,5 juta ton dan diperkirakan segera menyentuh 5 juta ton dalam waktu dekat. Dengan kebutuhan nasional sekitar 2,5 hingga 2,6 juta ton per bulan, peningkatan stok ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Untuk menjaga kualitas beras dalam jumlah besar tersebut, Bulog menerapkan Sistem Pengendalian Hama Gudang Terpadu (SPHGT) yang dilengkapi standar operasional prosedur (SOP) termasuk pemantauan rutin dan fumigasi.
Bulog juga membuka peluang adopsi teknologi baru dengan melibatkan berbagai pihak, seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan perguruan tinggi guna memastikan kualitas beras tetap terjaga di tengah peningkatan volume cadangan.
"Apabila ada satu teknologi baru terkait dengan bagaimana menjaga kualitas beras agar lebih baik, agar terjaga dengan baik, seperti itu, kami pastinya akan mengikuti apa yang sudah dihasilkan dari para peneliti-peneliti handal yang ada di Indonesia," tuturnya lebih lanjut.
(del/ins)
Add
as a preferred source on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440135/original/042410700_1765423920-IMG-20251210-WA0008.jpg)


















