Jakarta, CNN Indonesia --
Di balik ambisi besar menjelajah Bulan, kehidupan para astronaut di pesawat ruang angkasa Orion ternyata tak jauh dari keseharian manusia di Bumi. Mereka tetap makan, tidur, berolahraga dan bahkan harus berurusan dengan masalah teknis seperti toilet rusak dan email yang bermasalah.
Empat awak yang tengah melaju menuju Bulan dalam misi Artemis menjalani perjalanan sekitar 10 hari dengan ruang gerak terbatas, hanya seluas dua minivan. Di tengah misi bersejarah itu, rutinitas sederhana justru menjadi bagian penting untuk menjaga keseimbangan hidup di luar angkasa.
Salah satu awak, Christina Koch, astronaut perempuan pertama yang menjelajah ruang angkasa mengibaratkan persiapan misi ini seperti berkemah. Menurutnya, perjalanan ini bukan hanya soal sains, tetapi juga kebersamaan dalam kondisi yang tidak biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbekalan yang mereka bawa pun cukup beragam. Mulai dari 58 tortilla, 43 cangkir kopi, hingga daging brisket panggang dan lima jenis saus pedas. Menu ini dirancang praktis sekaligus menjaga asupan energi selama misi berlangsung.
Namun, fasilitas penting seperti toilet sempat menjadi tantangan. Untuk pertama kalinya dalam misi ruang angkasa jarak jauh, Orion dilengkapi toilet sungguhan, berbeda dengan era Apollo yang hanya menggunakan kantong limbah.
Masalah sempat muncul pada sistem toilet, tetapi berhasil diatasi oleh Koch. Ia bahkan berseloroh menyebut dirinya sebagai "tukang ledeng luar angkasa". Ia menegaskan, toilet adalah salah satu peralatan terpenting di dalam kapsul.
Menukil AFP, meski tersedia, penggunaan toilet tidak sepenuhnya nyaman. Letaknya berada di bilik kecil yang cukup bising, sehingga astronaut harus memakai pelindung telinga.
Namun, ruang sempit itu justru menjadi satu-satunya tempat bagi mereka untuk benar-benar merasa sendiri sejenak.
Tak hanya toilet, masalah teknis lain juga muncul. Komandan misi Reid Wiseman sempat mengeluhkan gangguan pada email, termasuk aplikasi Microsoft Outlook yang tidak berfungsi. Masalah tersebut akhirnya diselesaikan oleh tim Mission Control di Bumi.
Untuk menjaga kondisi fisik, para astronaut wajib mengikuti jadwal tidur dan olahraga yang ketat. Mereka tidur menggunakan kantong tidur yang diikat ke dinding agar tidak melayang. Bahkan, ada yang tidur dengan posisi kepala di bawah, menyerupai kelelawar yang bergelantungan.
Olahraga juga menjadi rutinitas wajib selama 30 menit setiap hari. Mereka menggunakan alat berbasis flywheel yang memungkinkan latihan seperti dayung, squat, hingga deadlift. Aktivitas ini penting untuk mencegah penurunan massa otot dan tulang akibat mikrogravitasi.
Menariknya, NASA kini mengizinkan penggunaan ponsel dalam misi. Kebijakan ini memungkinkan astronaut mengabadikan momen dan membagikannya kepada keluarga serta publik di Bumi.
Di tengah tuntutan misi yang penuh presisi, para astronaut tetap menemukan ruang untuk menikmati pengalaman luar biasa tersebut. Sensasi melayang di gravitasi nol bahkan digambarkan seperti kembali menjadi anak kecil, penuh rasa takjub dan kegembiraan.
Bagi sebagian astronaut, momen peluncuran menjadi puncak emosi. Di balik profesionalisme yang harus dijaga, ada dorongan spontan untuk bersorak, merayakan pengalaman langka yang hanya bisa dirasakan segelintir manusia di dunia.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440135/original/042410700_1765423920-IMG-20251210-WA0008.jpg)


















