Hamil Usia 35 Tahun ke Atas Perlu Pengawasan Ekstra, Ini Kata Dokter

4 hours ago 4

CNN Indonesia

Senin, 16 Mar 2026 13:00 WIB

Risiko kehamilan meningkat seiring usia. Dokter menegaskan ibu hamil di atas 35 tahun perlu pengawasan dan skrining medis lebih ketat. Ilustrasi. Hamil di atas usia 35 memang berisiko, makanya diperlukan pengawasan ekstra ketat. (iStockphoto)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kehamilan tidak memiliki batas usia aman yang benar-benar pasti. Namun, dokter menegaskan bahwa seiring bertambahnya usia perempuan, risiko kehamilan ikut meningkat sehingga pengawasan medis perlu dilakukan lebih ketat.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Andon Hestiantoro menjelaskan, faktor usia tetap menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menilai risiko kehamilan.

"Tidak ada batasan usia absolut, karena keselamatan kehamilan sangat bergantung pada kondisi kesehatan individu, bukan hanya usia," kata Andon saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (20/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, secara statistik terdapat rentang usia tertentu yang membuat dokter mulai meningkatkan kewaspadaan. Andon menyebutkan, risiko kehamilan mulai meningkat setelah perempuan memasuki usia 35 tahun.

Di atas usia tersebut, kehamilan secara medis dikategorikan sebagai advanced maternal age. Kondisi ini membuat ibu hamil memerlukan skrining prenatal lebih awal dibandingkan perempuan yang hamil di usia lebih muda.

"Umumnya, di atas 35 tahun sudah dikategorikan advanced maternal age dan memerlukan pengawasan ekstra, terutama skrining prenatal lebih awal," jelasnya.

Peningkatan risiko ini berkaitan dengan perubahan alami pada sistem reproduksi, serta meningkatnya kemungkinan munculnya penyakit penyerta. Meski masih banyak perempuan usia 35 tahun ke atas yang menjalani kehamilan tanpa komplikasi, dokter tetap menilai pengawasan lebih ketat sebagai langkah pencegahan.

Risiko kehamilan akan meningkat lebih tajam setelah usia 40 tahun. Pada kelompok usia ini, kehamilan secara otomatis diklasifikasikan sebagai kehamilan risiko tinggi.

"Di atas 40 tahun, secara otomatis dianggap kehamilan risiko tinggi dan memerlukan pengawasan ekstra sejak trimester pertama," ujar Andon.

Pengawasan ekstra yang dimaksud bukan sekadar kontrol rutin, melainkan pemantauan medis yang lebih intensif. Ibu hamil usia 40-an biasanya perlu menjalani konsultasi dokter lebih sering, pemantauan tekanan darah dan gula darah yang ketat, serta pemeriksaan janin yang lebih detail.

Selain itu, skrining untuk mendeteksi kelainan kromosom dan komplikasi kehamilan juga menjadi bagian penting dari pengawasan pada usia ini. Tujuannya adalah mendeteksi masalah sedini mungkin sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Menurut Andon, peningkatan risiko akan menjadi jauh lebih tinggi pada kehamilan di atas usia 45 tahun. Pada usia tersebut, kehamilan memerlukan pertimbangan medis yang sangat matang karena potensi komplikasi pada ibu maupun janin meningkat drastis.

Meski demikian, Andon menegaskan bahwa kehamilan di usia 40 tahun ke atas tetap bisa berhasil jika dilakukan dengan pemantauan ketat dan kondisi kesehatan ibu mendukung.

"Kehamilan di atas 40 tahun tetap bisa berhasil dengan pemantauan ketat, tetapi harus dianggap sebagai kehamilan berisiko tinggi," ujarnya.

Dokter pun mengingatkan agar perempuan tidak hanya berfokus pada usia semata. Konsultasi pra-kehamilan dan pemeriksaan kesehatan menyeluruh tetap menjadi langkah penting untuk menentukan kesiapan hamil.

Dengan pengawasan medis yang tepat sejak awal, risiko kehamilan dapat ditekan dan keselamatan ibu serta janin tetap menjadi prioritas utama.

(nga/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |