Harga Emas Turun saat Perang di Timteng, Tak Lagi Jadi Safe Haven?

6 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga emas terpantau melemah di tengah memanasnya perang di kawasan Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Padahal emas dianggap sebagai aset aman (safe haven) yang biasanya diborong investor saat ketidakpastian geopolitik meningkat.

Lantas, mengapa harga emas tidak melambung saat perang pecah, dan apakah emas sudah tidak menjadi safe haven lagi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan pasar keuangan tidak selalu bergerak secara linier dengan teori bahwa emas sebagai safe haven ketika terjadi gejolak geopolitik atau ketidakpastian ekonomi global.

"Dalam situasi saat ini, turunnya harga emas lebih mencerminkan dinamika likuiditas global daripada perubahan status emas sebagai aset lindung nilai," ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/3).

Ronny menjelaskan ketika ketegangan geopolitik memicu lonjakan harga minyak dan pada saat yang sama dolar AS menguat serta yield US Treasury naik sehingga banyak investor global justru melakukan rebalancing portofolio.

Mereka memindahkan dana ke aset yang memberikan yield lebih tinggi dalam jangka pendek.

"Fenomena ini bukan berarti emas kehilangan perannya sebagai safe haven. Yang terjadi adalah tekanan teknikal jangka pendek, terutama karena investor institusi melakukan profit taking setelah reli emas yang cukup panjang sebelumnya," jelasnya.

Ia juga menyampaikan dalam kondisi volatilitas tinggi, manajer aset global sering mencairkan sebagian posisi emas untuk menjaga likuiditas atau menutup kerugian di aset lain.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menyampaikan pasar emas juga digerakkan oleh arus dana global, penguatan dolar, kebutuhan likuiditas, hambatan logistik, dan perilaku pembeli fisik.

Syafruddin mengungkapkan gejolak perang mendorong permintaan aman di pasar finansial, tetapi pasar fisik regional belum tentu ikut menguat.

Mengacu laporan Reuters tentang diskon harga emas di Dubai, menurutnya, hal tersebut memberi bukti yang jelas bahwa gangguan penerbangan di Timur Tengah membuat bullion tertahan di pasar lokal. Sementara, permintaan fisik dari India dan kawasan sekitar justru melemah.

"Di titik ini, yang muncul bukan kegagalan emas sebagai safe haven, melainkan anomali distribusi dan penyesuaian pasar. Emas masih diburu sebagai pelindung nilai dalam horizon yang lebih luas," kata Syafruddin saat dihubungi terpisah.

"Hanya saja dalam jangka pendek harga bisa turun saat pasar mencairkan posisi, menunggu arah konflik, atau membaca ulang risiko yang sempat dibesar-besarkan," imbuhnya.

Ia menegaskan emas belum kehilangan kelayakan sebagai safe haven hanya karena harga terkoreksi setelah lonjakan awal.

Syafruddin menilai koreksi justru sering muncul setelah pasar panik, lalu pelaku investasi mengambil untung dan menilai ulang situasi.

"Pola ini pernah muncul saat invasi Rusia ke Ukraina, emas melonjak di awal, lalu turun ketika pasar mulai menganggap guncangan tidak berkembang sejauh dugaan pertama," terang Syafruddin.

Dengan demikian, Syafruddin menekankan penurunan harga emas saat ini lebih dibaca sebagai gabungan dari aksi ambil untung (profit taking), penguatan dolar, hingga volatilitas tinggi.

"Jadi, penurunan harga emas saat ini lebih masuk akal dibaca sebagai gabungan dari profit taking, penguatan dolar, volatilitas tinggi, dan keyakinan bahwa konflik mungkin tidak sepanjang skenario terburuk," terangnya.

Pada perdagangan Senin (9/3), harga emas Antam turun Rp55 ribu ke level Rp3,004 juta per gram. Namun, selang sehari, harga emas kembali menguat Rp8 ribu per gram.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr)

Read Entire Article
Entertainment |