Ini Ciri-ciri Perilaku Grooming, Orang Tua Perlu Waspada

4 hours ago 10

CNN Indonesia

Senin, 12 Jan 2026 15:00 WIB

Kasus yang dialami Aurelie Moeremas menunjukkan, grooming kerap berlangsung secara halus, bertahap, dan sulit dikenali sejak awal. Ilustrasi. Kasus yang dialami Aurelie Moeremas menunjukkan, grooming kerap berlangsung secara halus, bertahap, dan sulit dikenali sejak awal. (Istockphoto/Markgoddard)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Pengakuan aktris Aurelie Moeremans yang menyebut dirinya pernah menjadi korban grooming saat remaja kembali membuka mata publik tentang bahaya manipulasi seksual terhadap anak.

Dalam buku memoarnya Broken Strings, Aurelie berkisah bagaimana ia mengalami kekerasan dan manipulasi sejak usia 15 tahun tanpa langsung menyadari apa yang sedang terjadi.

Kasus yang dialami Aurelie menunjukkan bahwa grooming kerap berlangsung secara halus, bertahap, dan sulit dikenali sejak awal. Para pelaku tidak selalu tampil mengancam, justru sering terlihat sebagai sosok yang peduli dan dapat dipercaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ciri-ciri perilaku grooming

Berbagai lembaga perlindungan anak menekankan pentingnya mengenali pola perilaku pelaku grooming agar pencegahan bisa dilakukan lebih dini.

Mengutip Crimes Against Children Research Center, sekitar 80 persen anak korban kekerasan seksual mengenal pelakunya. Pelaku bisa berasal dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, guru, pelatih, pengasuh, tokoh agama, atau figur dewasa lain yang memiliki akses dan posisi dipercaya.

Melansir dari Saprea, berikut merupakan ciri-ciri dan pola perilaku pelaku grooming yang perlu diwaspadai.

1. Membangun hubungan dekat dan kepercayaan

Pelaku biasanya berusaha menjalin kedekatan emosional dengan anak. Mereka memberi perhatian berlebih, sering memuji, meluangkan waktu khusus, atau memberi hadiah agar anak merasa 'spesial'.

Hubungan ini kerap terlihat seperti bimbingan, pertemanan, atau mentor, sehingga sulit dibedakan dari relasi yang wajar.

2. Menguji batasan korban secara bertahap

Pelaku akan mulai menguji reaksi anak terhadap hal-hal yang melanggar batas. Misalnya lewat candaan bernuansa seksual, permainan yang tidak pantas, atau memasuki ruang privat anak tanpa izin.

Respons anak akan dijadikan tolok ukur apakah perilaku tersebut bisa ditingkatkan. Pelaku grooming berkembang dalam kerahasiaan. Menguji batasan membantu mereka mengetahui apakah mereka dapat melanjutkan tanpa tertangkap.

3. Kontak fisik yang meningkat perlahan

Ilustrasi kekerasan, Ilustrasi, kekerasan, penculikan, korban, penyiksaan, trauma, PTSD, KDRTIlustrasi. Ada beberapa ciri perilaku grooming. (iStock/doidam10)

Sentuhan biasanya dimulai dari hal yang terlihat wajar, seperti menepuk bahu atau memeluk. Namun seiring waktu, sentuhan menjadi semakin sering dan mengarah ke bagian tubuh yang tidak pantas.

Proses ini dilakukan perlahan agar anak terbiasa dan tidak langsung menolak. Oleh karena itu, hal ini harus disadari para orang tua untuk mengenalkan anak sejak dini tentang tubuh mereka, persetujuan, dan batas seksual yang mampu membuat anak mengenali perilaku yang tidak pantas dan melanggar batasan tersebut.

4. Menggunakan manipulasi emosional dan kontrol

Pelaku sering menggunakan intimidasi untuk mencegah anak menceritakan pelecehan tersebut kepada orang lain. Pelaku juga akan menguji reaksi anak ketika disalahkan atas hal yang sederhana.

Selain itu, pelaku biasanya menanamkan rasa bersalah, malu, atau takut pada korban. Mereka bisa mengatakan bahwa tidak ada yang akan percaya jika korban bercerita atau menyebut korban ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi.

5. Mengenalkan konten atau topik seksual

Dalam beberapa kasus, pelaku mulai membicarakan pengalaman seksual, menggunakan bahasa vulgar, atau memperlihatkan konten pornografi.

Tujuannya untuk menormalkan perilaku seksual dan menurunkan kewaspadaan anak. Paparan ini sering menjadi pintu masuk menuju pelecehan yang lebih jauh.

6. Mendorong komunikasi secara rahasia

Pelaku grooming sangat mengandalkan kerahasiaan. Mereka mengajak anak berkomunikasi lewat pesan pribadi, media sosial, atau aplikasi yang sulit dipantau, serta meminta korban merahasiakan hubungan tersebut dari orang lain.

Ajakan untuk 'jangan cerita ke siapa-siapa' merupakan salah satu tanda paling kuat dari grooming.

Selain secara langsung, grooming kini semakin sering terjadi melalui media sosial dan platform digital. Pelaku dapat membangun hubungan emosional tanpa sepengetahuan orang tua, memanfaatkan kerentanan anak di ruang online.

Pengalaman Aurelie Moeremans menunjukkan bahwa grooming bisa terjadi tanpa disadari korban dalam waktu lama. Mengenali ciri-ciri pelaku grooming menjadi kunci agar orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitar mampu bertindak lebih cepat.

Anak perlu didampingi dengan komunikasi yang aman, edukasi soal batas tubuh, serta keyakinan bahwa mereka bisa bercerita tanpa takut disalahkan.

(nga/asr)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |