Jakarta Catat 10 Ribu Lebih Kasus DBD Sepanjang 2025

1 hour ago 3

CNN Indonesia

Jumat, 13 Mar 2026 05:47 WIB

Kasus DBD di Jakarta sepanjang 2025 mencapai 10.244. Risiko tertinggi terjadi pada remaja usia 12-18 tahun. Ilustrasi. Waspada, DBD ada di sekitar kita. (iStockphoto)

Jakarta, CNN Indonesia --

Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian serius di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Di Jakarta, jumlah kasus penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini masih tergolong tinggi sepanjang 2025.

Data menunjukkan, kasus DBD di Jakarta sepanjang 2025 mencapai 10.244 kasus. Dari jumlah tersebut, 53,1 persen dialami laki-laki, sementara 46,9 persen terjadi pada perempuan.

Jika dilihat dari kelompok usia, remaja usia 12-18 tahun menjadi kelompok dengan risiko tertinggi terkena DBD. Posisi berikutnya ditempati anak usia 5-11 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya, kelompok usia sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan kelompok usia lainnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas di luar rumah, mobilitas tinggi, serta lingkungan sekolah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk dapat berkontribusi terhadap tingginya angka kasus pada kelompok usia tersebut.

Ancaman dengue masih tinggi secara global

Secara global, dengue masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Penyakit ini banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Asia Tenggara.

Tingginya mobilitas penduduk, perubahan iklim, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi peningkatan risiko penularan dengue.

Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa pada 2024 terdapat sekitar 14,6 juta kasus dengue di seluruh dunia dengan sekitar 12.000 kematian.

Di Indonesia, dampaknya juga tidak kecil. Berdasarkan data dari BPJS Kesehatan, pada 2024 tercatat 1.055.255 kasus rawat inap akibat dengue di luar kejadian luar biasa (KLB).

Selain berdampak pada kesehatan, penyakit ini juga menimbulkan beban ekonomi yang besar. Total biaya penanganan dengue di Indonesia pada tahun tersebut diperkirakan mencapai hampir Rp3 triliun.

Di tengah tingginya kasus dengue, kebutuhan darah untuk pasien DBD juga menjadi perhatian. Karena itu, Palang Merah Indonesia (PMI) mengajak masyarakat tetap mendonorkan darah menjelang periode mudik Lebaran.

Ketua Pengurus PMI Kota Jakarta Timur H.R. Krisdianto mengatakan jumlah pendonor darah biasanya menurun selama bulan Ramadan. Banyak masyarakat khawatir kondisi fisik akan melemah setelah melakukan donor darah saat berpuasa.

"Harus kita sadari bahwa selama bulan puasa ada penurunan karena barangkali orang khawatir jika darahnya berkurang saat berpuasa. Namun, penurunan ini tidak signifikan," ujar Krisdianto, mengutip Antara.

Ia mengakui stok darah sempat mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, jumlah pendonor dalam kegiatan donor darah di Jakarta tercatat sekitar 5.000 orang, sementara kebutuhan darah rumah sakit harus tetap terpenuhi.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PMI menyesuaikan jam operasional layanan donor darah dengan membuka pelayanan pada malam hari atau setelah waktu berbuka puasa, sehingga masyarakat lebih leluasa mendonorkan darah.

PMI juga memastikan hingga saat ini ketersediaan stok darah secara umum masih mampu memenuhi kebutuhan rumah sakit. Selain itu, stok darurat turut disiagakan serta koordinasi lintas wilayah diperkuat bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar distribusi darah tetap terjaga.

Upaya pengendalian dengue juga diperkuat melalui peluncuran aliansi "United Against Dengue" yang melibatkan perusahaan biofarmasi Takeda Pharmaceutical Company, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), serta PMI di Indonesia.

Inisiatif ini bertujuan memperkuat pencegahan demam berdarah melalui kolaborasi lintas sektor, peningkatan edukasi masyarakat, serta intervensi berbasis komunitas.

Melalui kolaborasi tersebut, berbagai pihak berharap upaya edukasi, advokasi kebijakan, serta pemberdayaan masyarakat dapat semakin diperkuat guna menekan penularan dan angka kematian akibat dengue di masa mendatang.

(tis/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |