Manifestasi Agoni dan Ekstase ala Daniel Roseberry di Schiaparelli

9 hours ago 5

LAPORAN DARI PARIS

Fandi Stuerz | CNN Indonesia

Rabu, 28 Jan 2026 21:00 WIB

Koleksi Haute Couture ini bertajuk L'Agonie et l'Extase. Pertunjukan koleksi ini jadi yang paling reflektif dan paling teatrikal dari Schiaparelli. Daniel Roseberry menghadirkan koleksi teranyar Schiaparelli Haute Couture bertajuk L’Agonie et l’Extase di Petit Palais pada Senin (26/1). (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Paris, CNN Indonesia --

Petit Palais menjadi saksi hadirnya koleksi Schiaparelli Haute Couture untuk musim panas 2026 karya Daniel Roseberry pada Senin (26/1).

Bertajuk L'Agonie et l'Extase, koleksi ini menjadi show paling reflektif sekaligus paling teatrikal sejak ia mengambil alih rumah mode ini di tahun 2019.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Inspirasi koleksi ini berakar pada kunjungan Roseberry di Kapel Sistina. Ia menggambarkan momen ketika emosi menggantikan akal, ketika seni berhenti menjelaskan dan mulai mengizinkan penonton untuk merasakan.

"Agoni dan Ekstase" merujuk pada ketegangan batin dan fisik yang dialami Michelangelo saat mengerjakan langit-langit Kapel Sistina (1508-1512), sebuah karya yang kemudian menjadi salah satu puncak sejarah seni Barat. 

Agoni merujuk pada penderitaan manusiawi-rasa sakit fisik, tekanan psikologis, keraguan spiritual. Sementara itu, ekstase menunjuk pada momen transendensi, seperti pencerahan, dan pengalaman spiritual lain. 

Michelangelo melukis Kapel Sistina dalam kondisi ekstrem. Ia bekerja berbaring di perancah selama bertahun-tahun, tubuhnya rusak, penglihatannya terganggu, dan pikirannya dibebani konflik antara tugas religius dan pencarian artistik pribadi. Namun justru dari penderitaan itu lahir visi yang radikal untuk masanya.

Ketika Roseberry mengunjungi Kapel Sistina, ia tidak hanya melihat ikonografi religius, tetapi proses emosional di baliknya. Ia mencatat bahwa dinding-dinding kapel, yang lebih dulu dipenuhi lukisan naratif oleh banyak seniman, hanya bersifat edukatif dan deskriptif. Namun begitu mata diarahkan ke langit-langit karya Michelangelo, narasi berhenti. Yang tersisa adalah perasaan.

Inilah titik temu antara agoni dan ekstase: penderitaan pencipta dan ledakan kebebasan artistik yang dirasakan oleh penonton, 500 tahun kemudian.

Daniel Roseberry menghadirkan koleksi musim panas 2026 Schiaparelli Haute Couture bertajuk L’Agonie et l’Extase di Petit Palais pada Senin (26/1).Koleksi teranyar Schiaparelli Haute Couture terinspirasi dari proses emosional penciptaan lukisan di langit-langit Kapel Sistina oleh Michelangelo. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Bagi Roseberry, pengalaman ini menjadi pemicu perubahan cara berpikir tentang couture. Seperti Michelangelo, ia berhenti memikirkan "bentuk yang benar" dan mulai berangkat dari sensasi batin saat ia membuat koleksi baru. Kapel Sistina menjadi metafora tertinggi bagi apa yang ingin ia capai di Schiaparelli, bukan dengan karya yang deskriptif, tetapi lebih kepada reaksi emosional serta ajakan untuk lebih peka terhadap reaksi itu.

"Di sini, agoni dan ekstase bercampur, mengerikan sekaligus indah," ujar Roseberry melalui show note yang diterima CNNIndonesia.com. 

Pernyataan ini menjadi kerangka konseptual yang terasa di sepanjang show, yakni bagaimana ketegangan antara struktur kokoh dan kesan lepas, antara teknik couture yang disiplin dan tradisional dan ledakan imajinasi yang nyaris liar.

Dalam konteks Schiaparelli, pendekatan ini terasa sangat tepat. Elsa Schiaparelli sejak awal tidak pernah melihat mode sebagai sekadar pakaian, melainkan sebagai medium ekspresi seni dan surealis.

Daniel Roseberry menghadirkan koleksi musim panas 2026 Schiaparelli Haute Couture bertajuk L’Agonie et l’Extase di Petit Palais pada Senin (26/1).Leitmotif atau konsep berulang yang diusung dalam koleksi adalah makhluk hibrida termasuk burung, reptil, dan arachnida. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Kolaborasinya dengan Jean Cocteau pada 1930-an, terutama mantel dengan bordir profil wajah dan tangan, mengaburkan batas antara tubuh, simbol, dan fantasi. Roseberry tidak meniru arsip itu secara literal, tetapi mewarisi semangatnya, dengan menjadikan mode sebagai artefak emosional dan intelektual.

Leitmotif koleksi ini adalah makhluk hibrida, mulai dari reptil, arachnida, burung, dan figur kimera yang Roseberry sebut sebagai "infantas terribles". Siluetnya juga konsisten, seperti bahu kokoh ala jaket Elsa, pinggul yang "menantang gravitasi", dan elemen yang tampak melayang atau mencuat dari tubuh-ekor kalajengking, sayap, paruh, duri.

Sketsanya dimulai dari garis-garis tegas dan coretan sketsa cepat bermetamorfosis lalu menjadi sengat dan gigi, dengan "racun yang ditenun langsung ke dalam siluetnya".

Look pembuka merangkum bahasa visual ini. Jaket putih dari kulit satin dengan pinggul arsitektural dipasangkan dengan kipas bulu hitam berwarna gradasi di punggung, seolah sayap yang baru tumbuh. Efek sfumato pada celana beludru-dari nude ke hitam-menghadirkan transisi cahaya yang menjadi teknik kunci koleksi ini.

Sepatu mule dengan detail lubang kunci emas, ikon Elsa, juga menjadi simbol yang mereferensi pendiri rumah mode ini nyaris seabad yang lalu.

Motif kalajengking muncul eksplisit dalam "Les Sœurs Scorpion". Di sini, lace Chantilly hitam dan crin transparan dibentuk menjadi ekor 3D, baik sebagai bordir maupun ekstensi struktural bustier. Teknik bas-relief pada renda, disebut Roseberry sebagai hasil kerja tangan para artisan di ateliernya, secara ekstrem menciptakan ilusi volume dan bayangan.

Daniel Roseberry menghadirkan koleksi musim panas 2026 Schiaparelli Haute Couture bertajuk L’Agonie et l’Extase di Petit Palais pada Senin (26/1).Manifestasi fauna dalam koleksi Schiaparelli kali ini tak sekadar motif tapi juga siluet. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Elemen-elemen ini bukan sekedar dekorasi, melainkan tampak seperti arsitektur rapuh yang ditopang oleh jarum dan benang halus yang nyaris tak terlihat.

Warna neon yang disaring melalui sfumato menjadi penyeimbang gelapnya palet. Look 16 menghadirkan gaun beludru hitam dengan bahu tulle oranye fluoresen dan pinggul dramatis, sementara kristal champagne jatuh seperti hujan cahaya.

Pendekatan ini mengingatkan pada koleksi couture Roseberry sebelumnya, terutama musim Gugur 2023, namun kali ini efeknya lebih mencolok.

Figur jaket Elsa mencapai klimaks pada beberapa tampilan di akhir show. Bordir renda logam, efek reptilian gradasi, serta sayap dari ribuan bulu yang dicat tangan dengan warna-warna pistachio, koral, hingga shocking pink, menggemakan obsesi Elsa pada fauna, khususnya burung dan makhluk laut.

Paruh burung 3D dan aksesori kepala bertabur mutiara bergaya barok mempertegas hubungan mode Schiaparelli dengan surealisme, yang kerap menjadikan tubuh sebagai lanskap mimpi.

Puncak teatrikal hadir pada Look 28, yakni sebuah gaun bustier dengan bordir bulu merak hijau absinthe berkilau kristal. Di sini, couture berfungsi sebagai altar visual, terlihat padat, seakan waktu berjalan lambat, dengan fokus pada detail.

Pada akhirnya, Roseberry secara eksplisit mempertanyakan fungsi couture.

"Couture adalah undangan. Ia berkata: berhentilah berpikir. Saatnya merasakan." Dalam lanskap mode yang semakin rasional dan berbasis pasar, Schiaparelli memilih jalur sebaliknya, dengan menjadikan couture sebagai pengalaman transendental. Seperti Kapel Sistina yang menginspirasinya, koleksi ini tidak memberi jawaban.

Couture hanya meminta satu hal: lihatlah, kenakan, dan rasakan.

(fas/els)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Entertainment |