Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan tetap ke Pakistan pada Minggu (26/4) walau Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah membatalkan rencana perjalanan para utusannya. Walau AS urung, para mediator internasional berusaha menjaga perundingan perdamaian tetap berjalan.
Menurut kantor berita Iran, ISNA, Araghchi akan kembali bertemu para pejabat Pakistan untuk menyampaikan "posisi dan pandangan Iran tentang kerangka kerja kesepahaman apa pun untuk mengakhiri perang sepenuhnya".
Araghchi baru saja berada di Islamabad sehari sebelumnya, setelah itu ia melakukan perjalanan ke Oman, sementara utusan Iran lainnya telah kembali ke Teheran "untuk berkonsultasi dan mendapatkan instruksi yang diperlukan tentang isu-isu terkait pengakhiran perang", menurut ISNA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum pertemuan Iran-Pakistan pada Sabtu di Islamabad, Gedung Putih telah mengumumkan bahwa utusan perdamaian Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, berencana berangkat ke Pakistan untuk terlibat dalam negosiasi lebih lanjut.
Namun Trump mengatakan kepada Fox News bahwa ia telah membatalkan perjalanan tersebut, dengan mengatakan tidak ada gunanya "duduk-duduk dan membicarakan hal yang tidak penting".
Ia menolak posisi negosiasi Teheran, tetapi menambahkan bahwa mereka telah merevisi proposal mereka beberapa menit setelah keputusannya.
"Mereka memberi kami dokumen yang seharusnya lebih baik dan -menariknya- segera setelah saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit, kami mendapatkan dokumen baru yang jauh lebih baik," katanya kepada wartawan, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Ketika ditanya secara terpisah apakah penghentian perjalanan itu berarti kembali perang, Trump berkata: "Tidak, itu tidak berarti demikian. Kami belum memikirkannya."
Lalu setelah seorang pria bersenjata ditangkap di makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih di Washington, Trump mengatakan dia tidak berpikir insiden itu terkait dengan Iran tetapi itu tidak akan menghalanginya "untuk memenangkan perang".
Pada Sabtu, Araghchi bertemu kepala militer Pakistan Asim Munir, seorang mediator kunci, Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, sebelum terbang ke Muscat.
Ia diperkirakan akan pergi ke Moskow setelah pembicaraan di Islamabad.
Araghchi menggambarkan kunjungan pertamanya ke Pakistan "sangat bermanfaat" tetapi mengisyaratkan skeptisisme atas niat Washington.
"Belum terlihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi," katanya.
Blokade Selat Hormuz
Tekanan untuk mengakhiri perang semakin meningkat karena Selat Hormuz tetap ditutup. Garda Revolusi Iran yang kuat mengatakan mereka tidak berniat mencabut blokade mereka, yang telah mengganggu pasar energi.
"Mengendalikan Selat Hormuz dan mempertahankan bayang-bayang efek pencegahannya terhadap Amerika dan pendukung Gedung Putih di kawasan itu adalah strategi pasti Iran Islam," kata Garda Revolusi di saluran Telegram resmi mereka.
Amerika Serikat telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai balasan.
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah, militer Iran memperingatkan bahwa "pemblokiran, perampokan, dan pembajakan" AS yang berkelanjutan akan memicu respons.
Israel serang Lebanon
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan terhadap Hizbullah setelah menuduh kelompok yang didukung Iran itu melanggar gencatan senjata yang diperpanjang minggu ini.
Media pemerintah Lebanon melaporkan serangan Israel di setidaknya empat lokasi di selatan, yaitu dua serangan beruntun di sebuah kota di distrik Bint Jbeil, satu lagi di sebuah kota di distrik Tyre, dan serangan di dua kota lagi di distrik Nabatieh.
Serangan di Nabatieh dan Bint Jbeil menewaskan enam orang, menurut kementerian kesehatan Lebanon.
Militer Israel mengatakan telah "menghilangkan" tiga anggota Hizbullah yang mengendarai "kendaraan yang penuh senjata", serta satu lagi yang mengendarai sepeda motor, dan dua anggota bersenjata lainnya dari kelompok tersebut di tempat lain.
Trump telah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu pada Kamis dan menyatakan optimisme tentang perdamaian setelah bertemu dengan utusan Israel dan Lebanon.
Namun Mohammed Raad, kepala blok parlemen untuk Hizbullah, mendesak Lebanon menarik diri dari perundingan dan memperingatkan bahwa kesepakatan apa pun tidak akan memiliki konsensus nasional.
(fea)
Add
as a preferred source on Google






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5478359/original/064555900_1768899201-_ARM7685.jpeg)

















