Jakarta, CNN Indonesia --
Pelatih Jakarta Pertamina Enduro (JPE), Bulent Karslioglu, mempertanyakan kejanggalan format baru Grand Final Proliga 2026.
Menurut pelatih asal Turki ini, format grand final Proliga 2026 tidak biasa. Baginya aneh ketika tim peserta kompetisi melakoni best of three setelah menjalani babak reguler dan final four.
"Kalau dari best of three habis [babak] reguler kemudian babak final four masih tanding lagi, terus diulang lagi grand final gitu," kata Karslioglu di GOR Amongrogo, Sabtu (25/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau best of five, ya itu kalau sudah ranking satu dua, ya itu aja yang akan tanding. Mengapa ada final four? Buang-buang napas gitu ya," ucapnya menjelaskan.
Sebagai perbandingan, Karslioglu mengambil contoh format laga final yang dipakai di kompetisi liga voli Turki. Di negerinya ada best of five, tetapi tanpa babak final four terlebih dahulu.
Opposite hitter JPE, Megawati Hangestri Pertiwi juga berkomentar soal format kompetisi yang baru digunakan ini. Megawati membandingkannya dengan konsep di Korea Selatan.
"Untung saja best of three ya, enggak best of five," kata Megawati dengan bercanda selepas pertandingan Grand Final Proliga 2026 yang dimenangkan JPE.
Atlet asli Jember ini menyebut format best of five lebih umum digunakan di belahan dunia lainnya. Selain Turki, Korea Selatan tempat Megawati pernah berkarier juga memakai fotmat best of five.
"Kalau di Korea best of five, ada jedanya," kata Megawati yang malam itu dinobatkan sebagai most valuable players atau pemain terbaik kategori putri Proliga 2026.
(kum/abs)
Add
as a preferred source on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5478359/original/064555900_1768899201-_ARM7685.jpeg)

















