Pupuk RI Diburu India-AS, Indonesia Bisa Raup Cuan dari Krisis Timteng

3 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Negara-negara besar mulai memburu pasokan pupuk dari Indonesia di tengah terganggunya distribusi global akibat konflik di Timur Tengah.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menyebut kondisi ini justru menempatkan Indonesia dalam posisi strategis sebagai eksportir urea saat pasokan dunia terganggu.

Ia menjelaskan gangguan distribusi di Selat Hormuz membuat kapasitas pasokan urea global berkurang signifikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indonesia berbeda. Kita justru negara pengekspor urea dan yang macet dari Selat Hormuz itu adalah pupuk urea. Berhenti dari kapasitas yang ada di Selat Hormuz di 10 juta ton kapasitas per tahun itu hilang dari pasar," ujar dia di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (30/3).

"Indonesia, pupuk Indonesia itu mengekspor antara 1,5 (juta ton) sampai 2 juta ton. Jadi posisi kita untuk pupuk akibat dari geopolitik ini semuanya aman," lanjutnya.

Menurut Rahmad, kondisi ini membuat banyak negara mulai melirik Indonesia sebagai sumber pasokan alternatif.

"Siang hari ini saya akan bertemu atau melakukan meeting khusus dengan pemerintah India dan dilanjutkan dengan pemerintah Australia dan kemudian macam-macam, semua datang ke sini karena tahu posisi strategis Indonesia hari ini. Di tengah gejolak, itu justru Indonesia bisa jadi penyelamat," ujarnya.

Ia menambahkan negara-negara seperti India, Australia, hingga kawasan Asia Pasifik memang menjadi importir besar pupuk urea. Namun, Indonesia tetap memprioritaskan kebutuhan dalam negeri sebelum meningkatkan ekspor.

"Artinya begini, kalau menggantikan seluruhnya kan enggak bisa, tapi setidaknya Indonesia ini eksportir. Jadi sudah pasti setelah fokusnya dalam negeri, setelah dalam negeri tercukupi, kita akan ekspor," jelasnya.

Rahmad juga memastikan pasokan pupuk dalam negeri tetap aman, termasuk untuk bahan baku yang masih diimpor seperti fosfor dan kalium.

"Aman, aman. Karena kan enggak ngelewatin Selat Hormuz," ujarnya.

Terkait kenaikan biaya logistik global, ia menilai dampaknya merata ke seluruh komoditas dan tidak secara khusus mengganggu sektor pupuk.

Ia menegaskan Indonesia tidak melakukan praktik penimbunan pupuk. Stok yang tersedia disebut sebagai hasil produksi yang disiapkan untuk distribusi sesuai kebutuhan petani.

"Kita kan enggak pernah menimbun pupuk. Kita enggak ada timbunan pupuk. Yang ada ya di gudang-gudang kita. Itu bukan timbun, itu hasil produksi kita. Kalau dibutuhkan oleh petani kita kirim ke daerah-daerah," ucapnya.

Dalam konteks global, Rahmad menjelaskan banyak negara sebelumnya bergantung pada pasokan pupuk dari kawasan Timur Tengah.

Namun, gangguan di wilayah tersebut membuat negara-negara seperti India, Bangladesh, Pakistan, hingga Amerika Serikat (AS) harus mencari sumber baru di tengah meningkatnya kebutuhan musim tanam.

Situasi ini terjadi seiring meningkatnya permintaan pupuk global di berbagai negara yang sedang memasuki musim tanam. India dan kawasan Asia Selatan tengah memasuki periode tanam, sementara Australia dan AS juga meningkatkan kebutuhan pupuk untuk komoditas seperti gandum dan jagung.

Di sisi lain, konflik di Timur Tengah telah memicu gangguan distribusi global, terutama setelah penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dan pupuk.

Kondisi ini menyebabkan pasokan pupuk dunia menyusut sekaligus mendorong kenaikan harga dan persaingan antarnegara untuk mengamankan pasokan.

Dengan kapasitas produksi mencapai 9,4 juta ton per tahun dan potensi ekspor hingga 2 juta ton, Indonesia dinilai memiliki ruang untuk berperan dalam menjaga keseimbangan pasokan global.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Entertainment |