Anisa Dewi Anggriaeni | CNN Indonesia
Minggu, 15 Feb 2026 20:00 WIB
Review drama Can This Love Be Translated?: Visual mewah dan chemistry manis Kim Seon-ho dan Go Youn-jung gagal menutupi naskah yang pincang. (Netflix/No Ju-han)
Endro Priherdityo
Visual mewah dan chemistry manis Kim Seon-ho dan Go Youn-jung gagal menutupi naskah yang pincang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Terlepas dari kemegahan sinematografi yang ditampilkan dalam Can This Love Be Translated?, drama Korea Selatan ini sayangnya masih terjebak dalam pengkultusan karakter laki-laki dan minim soal pengembangan karakter utama perempuannya.
Penulis Hong Jung-eun dan Hong Mi-ran alias Hong Sisters memang menjanjikan cerita yang sederhana dan mudah dipahami, yakni membangun hubungan romantis memang perlu bahasa, tetapi lebih jauh lagi perlu untuk mengenal personal orangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya visi tersebut kemudian bias di tengah jalan saat Hong Sisters bersama sutradara Yoo Young-eun kehilangan arah dan cuma fokus pada karakter utama laki-laki serial ini, Joo Ho-jin yang diperankan Kim Seon-ho.
Membuka drama ini dengan kisah yang sebenarnya sudah pas, tempo kemudian melambat di episode-episode pertengahan dan menampilkan kegamangan naskah akan pilihan kisah hubungan romantis atau justru sisi gelap karakter utama perempuan: Cha Mu-hee yang diperankan Go Youn-jung.
Kondisi dan pengalaman psikologis yang dialami Mu-hee hingga menciptakan kepribadian lain bernama Do Ra-mi dalam drama ini bisa dibilang bermasalah.
Hong Sisters seolah menyederhanakan bahwa masalah kepribadian ganda cuma gegara tekanan pekerjaan atau trauma fisik. Kenyataannya kepribadian ganda atau Gangguan Identitas Disosiatif (DiD) merupakan persoalan kompleks imbas trauma berat masa lalu.
Karakter Mu-hee tidak diberikan ruang lebih lega untuk mengisahkan kehidupannya yang memiliki riwayat kelam. Apalagi dengan transisi ceritanya yang kasar dan tergesa-gesa menjadi kelalaian serius, karena bagian tersebut bisa dibilang adalah penggerak cerita drama ini.
Review drama Can This Love Be Translated?: Terlepas dari kemegahan sinematografi yang ditampilkan dalam Can This Love be Translated?, drama Korea Selatan ini sayangnya masih terjebak dalam pengkultusan karakter laki-laki. (Netflix/No Ju-han)
Lebih jauh, kemunculan Do Ra-mi juga cuma jadi alat konflik drama tanpa pondasi psikologis atau struktur bangunan cerita yang komprehensif. Parahnya lagi, cerita menempatkan Do Ra-mi bak tombol darurat saat Mu-hee menghadapi situasi tak diinginkan.
Dalam pandangan yang paling ekstrem, Do Ra-mi bahkan tak perlu muncul untuk menggambarkan betapa gelap hidup Cha Mu-hee karena hidupnya sudah menggambarkan trauma itu sendiri.
Selain itu, keberadaan Do Ra-mi yang sebenarnya adalah kekhasan Hong Sisters dalam menampilkan karakter nyentrik demi memperkaya cerita, nyatanya justru memperumit jalan Can This Love Be Translated?.
Di sisi lain, hal yang sangat berbeda terjadi pada karakter Ho-jin. Eksplorasi karakter laki-laki ini terasa sangat matang, rapi, dan jeli. Tindakan dan dialognya sangat presisi, efisien, rapi, dan clean. Pertumbuhan karakternya juga lebih terasa, dari kaku dan tak peka jadi lebih terbuka.
Belum lagi soal latar belakang Ho-jin yang rinci, kemunculan keluarga untuk mendukung eksplorasi karakter itu, hingga pemilihan warna kostum untuk menunjukkan citra dedikasi dan kedewasaan.
Padahal semua itu berkebalikan dengan karakternya yang tidak manusiawi dan tak realisitis. Ho-jin terlalu sempurna bahkan lebih terasa mengkultuskan karakter laki-laki, yang jelas menjadi ketimpangan nyata bila dibandingkan dengan karakter Mu-hee.
Review Drama Korea Can This Love be Translated?: Terlepas dari masalah penokohan ini, usaha Kim Seo-ho dan Go Youn-jung dalam Can This Love be Translated? memang perlu diberi standing applause.
(2026). (Netflix)
Masalah penokohan lainnya juga terjadi dengan kemunculan Hiro Kurosawa yang diperankan Sota Fukushi. Mungkin pemilihan karakter ini didasari adalah hanya untuk menggaet pasar Jepang, tanpa ada penajaman karakter dan membuang durasi yang semestinya bisa jadi ruang eksplorasi atas Mu-hee.
Terlepas dari masalah penokohan ini, usaha Kim Seo-ho dan Go Youn-jung dalam Can This Love Be Translated? memang perlu diberi standing applause.
Beberapa kali pakai teknik micro expression, Kim Seon-ho jelas memamerkan jam terbangnya di dunia akting dan panggung teater dalam bermain di drama ini. Usahanya benar-benar terasa sangat natural, pas, dan tak berlebihan.
Go Youn-jung juga tak kalah impresif. Usahanya menampilkan dua kepribadian berbeda dengan sebaik mungkin jelas bukan hal mudah. Namun ia sukses menampilkan Mu-hee dengan sifat inferiornya, lengkap dengan tawa kaku atau terkadang getir, dan cara bicara ceplas-ceplos dengan ritme cukup cepat.
Chemistry yang terjalin antara Kim Seon-ho dengan Go Youn-jung juga terasa oleh penonton dan membuat hubungan terlihat nyata, yang kemudian didukung dengan visualisasi mewah yang bikin betah. Bagaimana tidak, drama ini menampilkan panorama alam Jepang, Kanada, Italia, dan Korea Selatan.
Series ini berhasil dalam aspek visualisasi dengan potret bentang alam di empat negara dan tone yang menghangatkan mata saat menggambarkan rutinitas harian.
Satu lagi, drama ini bak karpet merah untuk Kim Seon-ho yang comeback sebagai first lead dalam beberapa tahun terakhir. Hanya saja sayangnya narasi Can This Love Be Translated? terlalu sibuk memastikan Kim Seon-ho terlihat charming sampai lupa adil untuk karakter yang lain.
(end)

















































